MENJEMPUT JODOH

Dengan sangat terpaksa, Heaven menuruti kemauan mamanya. Hari minggu pagi, mereka berdua melakukan perjalanan menjemput jodoh seperti perintah Ki Gombal.

Heaven melajukan mobilnya kearah selatan hingga 50km. Tapi dia sangat syok saat tiba ditempat tujuan yang ternyata adalah pemakaman umum.

"Mah." Ucap Heaven sambil menatap nanar area pemakanan yang sepi.

"Hwaaa..." Heaven terjingkat kaget saat tangis mamanya tiba tiba pecah. "Jangan jangan jodoh kamu sudah meninggal. Hwaa...." Mama Mita teringat kata tetangganya. Jika tak kawin kawin, bisa jadi karena jodohnya sudah meninggal. Jika itu benar, artinya Heaven sudah tak memiliki jodoh lagi didunia ini. Dia akan menjadi perjaka hingga meninggal.

Heaven menelan ludah susah payah. Jika itu benar, artinya dia akan menjadi perjaka seumur hidup. Dia menatap burung perkututnya yang saat sedang tidur. Kasihan sekali nasibnya jika tak pernah merasakan masuk sarang seumur hidup.

"Tunggu, tunggu. Coba cek map, siapa tahu ini bukan 50km, tapi masih 49 atau 49 setengah?" Mama Mita masih belum bisa terima begitu saja jika garis keturunannya akan berhenti sampai pada Heaven saja.

"Udah tepat Mah," sahut Heaven lemas sambil menyandarkan punggung di jok.

"Kata orang, good looking bisa mengatasi setengah dari masalah hidup. Tapi kamu, good looking justru menjadi masalah utama hidupmu." Mama Mita menatap Heaven nyalang. Ingin sekali dia menghajar putranya itu. Kalau saja dulu dia tak play boy gara gara good looking. Tak menyakiti hati wanita, sudah pasti tidak akan bernasib sial dengan mendapatkan kutukan seperti ini.

Kring kring kring

Mendengar ponselnya berdering. Dengan hati yang masih kesal sekaligus sedih, mama Mita merogoh ponselnya didalam tas.

"Siapa yang menelepon disaat tidak tepat seperti ini? Awas saja kalau tidak penting, aku maki dari A sampai Z, dari hewan melata hingga hewan purba." Gerutunya dengan bersungut sungut. "Ki Gombal." Melihat nama itu dilayar ponsel, mama Mita segera menjawab panggilan.

"Sudah sampai?" tanya Ki Gombal.

"Sudah Ki. Tapi kenapa di kuburan? hiks hiks hiks." Mama Mita menyeka air mata yang tak habis habis keluar.

"Heh, terus lagi."

"What! Apa Ki?" teriak mama Mita.

"Masih terus. Nanti ada kampung disebelah kiri jalan, kalian belok. Cari rumah yang catnya biru, yang punya anak gadis usia diatas 20 tahun."

"Siap Ki, siap, laksanakan." Mama Mita kembali bersemangat seperti awal berangkat tadi.

"Ada apa Mah?" tanya Heaven.

"Udah nyalain mesin mobilnya, kita lanjut. Jodohmu belum meninggal."

Heaven berdecak kesal. Awalnya bilang 50km, sekarang ternyata masih lanjut. Jangan jangan dukun tersebut hanya sedang mempermainkannya.

"Cepat." Seru mama Mita sambil menepuk lengan Heaven.

Tak ingin berdebat, Heaven melajukan mobilnya sesuai arahan mamanya, hingga sampailah mereka disebuah kampung.

Mobil melaju pelan sembari mama Mita mencari rumah bercat biru. Sampai akhirnya, matanya berbinar melihat rumah sederhana bercat biru. Gegas dia menyuruh Heaven berhenti lalu keduanya turun.

"Mah, terus mama ngomongnya gimana sama mereka? Emang ada, orang mau nikahin anaknya dengan orang yang tak dikenal?" Heaven merasa ragu.

"Sudahlah. Ini perintah Ki Gombal. Sudah pasti nanti ada jalan keluar."

"Mamah terlalu percaya padanya. Percaya sama dukun itu musyrik Mah."

"Dia bukan dukun, tapi paranormal. Mama tidak percaya sama dia, hanya saja sedang ikhtiar."

Heaven menghela nafas sambil memutar kedua bola matanya malas. Percuma debat dengan mamanya, karena hasilnya sudah pasti, dia akan kalah.

Tok tok tok

Mama Mita mengetuk rumah tersebut sambil mengucap salam. Tak berapa lama, keluar seorang wanita berdaster dengan rambut awut awutan dan koyo menempel dipipinya.

"Heh, gak lihat ditembok ada tulisan keluarga prasejahtera alias miskin. Kenapa masih minta sumbangan kesini?" Hardik wanita berdaster yang sedang sakit gigi tersebut. Tapi setelah dia perhatikan lamat lamat, kedua orang didepannya itu penampilannya seperti orang kaya. Dan matanya langsung melotot melihat mobil mewah parkir didepan rumahnya. "Eh, bukan mau minta sumbangan ya?" Wajah garang tadi tiba tiba berubah 180 derajat.

Mama Mita dan Heaven kompak membuang nafas kasar.

"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya wanita itu ramah.

"Em...begini, apa ibu punya anak gadis?" tanya mama Mita.

Wanita itu langsung menebak nebak. Jangan-jangan kedua orang didepannya ini adalah orang agensi model atau artis. "Punya, punya, saya punya," jawabnya semangat. Dia sudah membayangkan jika sebentar lagi akan kaya karena anaknya jadi artis.

"Boleh minta tolong pang_"

"Monica, Isabella, kesini nak." Teriak wanita itu memanggil kedua anaknya. Mendengar namanya yang bagus bagus, mama Mita menebak jika mereka pasti cantik. Tak berselang lama, muncul dua anak gadis dari dalam rumah.

Heaven dan mamanya syok karena yang keluar tak seperti bayangnnya. Ternyata dua gadis tersebut masih bau kencur. Yang satu sekitar umur 8th dan satunya lebih parah, masih balita.

"Sepertinya mereka bukan yang kami cari." Mama Mita langsung menarik tangan Heaven pergi darisana. Terdengar cacian dari di wanita berdaster, tapi tak digubris oleh mama Mita. Dia merutuki dirinya sendiri, kenapa tadi tak menyebutkan yang usia 20 tahun keatas.

Meski sudah ditujuan, ternyata tak semudah itu mencari jodohnya Heaven. Terhitung sudah 6 rumah bercat biru mereka datangi, tapi tak satupun memiliki anak gadis usia diatas 20 tahun. Sampai akhirnya, mereka menemukannya dirumah ke-7.

"Boleh kami bertemu dengannya?" Tanya Mama pada bapak si gadis.

"Kalian masuk dulu."

Mereka lalu masuk kedalam rumah sempit yang kursinya sudah reyot. Sampai sampai Heaven ragu mau duduk, takut kursinya malah roboh.

"Tenang saja, itu masih aman diduduki." Ujar Pak Sobri, bapak si gadis.

Heaven tersenyum lalu duduk. Seperti yang dia takutkan. Kursi tersebut mengeluarkan bunyi krek saat bokongnya baru mendarat.

"Tania," teriak Pak Sobri.

Jantung Heaven berdebar kencang. Sebentar lagi dia akan melihat wanita yang digadang gadang akan menjadi istrinya.

Tak lama kemudian, keluar gadis cantik berlesung pipi memakai hijab instan warna pink.

Melihat gadis cantik bernama Tania itu, Mama Mita menyenggol lengan Heaven sambil tersenyum. "Dia cantikkan?"

Heaven mengangguk.

"Pinjam hp nya Nduk. Mau nunjukin foto mbakmu kemereka."

Mama Mita dan Heaven langsung kaget. "Jadi bukan dia anak Bapak?" tanya mama Mita.

"Bukan, dia keponakan saya. Lagian usianya masih 17 tahun, bukan diatas 20 tahun seperti yang kalian maksud."

Tania menutup mulutnya menahan tawa melihat ekspresi kecewa diwajah Heaven.

Terpopuler

Comments

꧁𓊈𒆜🅰🆁🅸🅴🆂𒆜𓊉꧂

꧁𓊈𒆜🅰🆁🅸🅴🆂𒆜𓊉꧂

nama dukunnya membagongkan ki gombal😂😂😂

2025-03-03

0

Ila Lee

Ila Lee

nama dukun nya lucu

2025-03-12

0

Yuli Yanti

Yuli Yanti

😂😂😂

2025-02-22

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!