Hari ini Heaven sudah diizinkan pulang. Lega sekali rasanya bisa kembali berbaring dikasurnya yang empuk. 4 hari dirumah sakit membuatnya begitu bosan. Tidak ada yang bisa dia lihat selain Mayra, Mayra dan Mayra. Tapi dibalik musibah ini, dia bersyukur karena ada alasan untuk tak hadir diacara reuni. Malas sekali kalau harus bertemu Selena.
Mayra, wanita itu juga merasa lega. Mengurus Heaven dirumah sakit begitu melelahkan. Banyak sekali permintaannya, rewelnya melebihi anak balita.
"May," panggil Heaven saat Mayra baru saja ingin memejamkan mata. Dia ingin merasakan tidur siang karena selama di rumah sakit, Heaven selalu merecokinya.
"Hemm," sahut Mayra malas.
"Gue lapar, buatin nasi goreng dong."
Tuhkan mulai lagi. Padahal Mayra baru ingin istirahat, tapi ada saja permintaannya, begitupun saat dirumah sakit kemarin.
"Suruh Bik Denok aja." Mayra malas sekali. Badannya terasa pegal, ingin istirahat.
"Yang istri gue itu lo, bukan Bik Denok. Buruan buatin." Sesungguhnya Heaven memang rindu masakan Mayra.
Rasa kantuk Mayra seketika hilang mendengar Heaven fasih sekali menyebutnya sebagai istri. Mayra yang berbaring memunggungi Heaven langsung membalikkan badan.
"Coba ulangi sekali lagi."
"Ulangi apa?" tanya Heaven.
Mayra mengeram tertahan. Malas sekali kalau Heaven sedang berada dalam mode pura pura bodoh seperti ini.
"Aku siapa?" Mayra menunjuk dirinya sendiri. "Kamu sebut aku tadi siapa kamu, istri? Heh, bukannya aku ini pembantu kamu?" Ujar Mayra kesal.
Heaven menelan ludahnya susah payah. Kali ini, dia kalah telak. Mau menjilat ludahnya sendiri jelas malu. Dia turun dari ranjang, keluar kamar lalu menuju dapur untuk meminta Bik Denok memasak nasi goreng untuknya.
Mayra tak bisa tidur setelah Heaven keluar. Kalau ingat statusnya sebagai istri, melayani Heaven adalah kewajibannya. Tapi kalau ingat kelakuan Heaven selama ini, malas sekali mau menuruti kemauan pria itu. Tapi..ya sudahlah, dia mengalah, turun kebawah untuk membuatkan Heaven nasi goreng.
"Ngapain ikut turun?" Sinis Heaven saat Mayra melewatinya yang sedang duduk dimeja makan.
Malas menjawab, Mayra mimilih terus berjalan hingga kedapur, melewati Heaven begitu saja.
"Biar May aja yang buatin nasi gorengnya Bi." Ujar Mayra pada Bik Denok yang sedang mengupas bawang.
"Gak perlu, biar Bik Denok aja. Lagian nasi goreng buatan Bi denok lebih enak daripada buatan lo." Heaven masih kesal dengan penolakan Mayra tadi.
Dasar laki plin plan, tadi nyuruh, sekarang gak mau, menyebalkan.
"Ya udah bibi aja yang buatian. May bikin untuk dimakan sendiri aja." Sayang sekali udah terlanjur kedapur jika tidak masak.
Heaven kembali ke meja makan, menunggu makanan untuknya siap dihidangkang. Disaat bersamaan, Edo dan Tirta datang. Mereka ingin melihat kondisi terkini Heaven. Aminah, salah satu art yang kebetulan sedang membuka pintu langsung mengantar mereka keruang makan.
"Udah sehat aja nampaknya pak bos kita ini." Ucap Tirta sambil melirik Edo yang berjalan disampingnya.
"Ya iyalah Bro. Orang dirawat sepenuh hati oleh istri tercinta, gimana gak cepet sembuh," Edo menaikkan sebelah alisnya.
Heaven hanya tersenyum kecut mendengar celotehan teman temannya. Ternyata Edo datang bukan hanya untuk menjenguk, tapi dia juga membawa dokumen yang harus ditandatangani Heaven.
"Baunya sedep banget," ujar Tirta. Siang menjelang sore begini, dia memang sering lapar meski tadi sudah makan siang.
"Hidung lo gercep kalau nyium makanan," ledek Edo.
Beberapa saat kemudian, Bi Denok datang dengan sepiring nasi goreng. Wanita paruh baya itu tak tahu jika ada tamu.
"Waduh ada tamu to. Nasi gorengnya cuma buat satu, gimana nih?" Ucapnya seraya meletakkan nasi goreng didepan Heaven. "Mau nungguin gak, biar bibi buatin lagi?"
"Gak perlu Bik." Sahut seseorang yang baru muncul dari dalam. "May buat nasi goreng agak banyak tadi. Cukuplah buat dua porsi." lanjut Mayra.
Wajah Edo dan Tirta langsung sumringah, siapa yang tak suka jika dapat makanan gratis. Beda dengan Heaven, dia tampak kesal, apalagi pas Mayra menghidangkan 2 piring nasi goreng didepan Edo dan Tirta.
"Makasih banyak Mayra," ujar Edo dan hanya ditanggapi dengan anggukan saja oleh Mayra.
Heaven menatap nanar nasi goreng didepan Edo dan Tirta. Padahal dia yang pengen nasi goreng buatan Mayra, tapi endingnya, malah kedua temannya itu yang memakannya. Sedang dia, harus puas dengan nasi goreng bikinan Bik Denok.
"Enak banget nasi goreng buatan bini lo Hev. Sumpah, ini sih nasi goreng terenak yang pernah gue makan," puji Tirta.
"Lebay," celetuk Heaven. Sebal sekali rasanya melihat mereka memakan nasi goreng yang sedang dia inginkan.
"Tapi beneran Hev, ini enak banget, sumpah," Edo menimpali. Membuat kesal Heaven kian naik berkali-kali lipat.
Kenapa juga mereka datang disaat tidak tepat seperti ini. Menyesal tadi dia sudah gengsi saat Mayra hendak memasak untuknya.
"Eh Ven, pembantu lo yang hari itu kerumah sakit mana?" Tirta celingukan mencari Mayra versi pembokat. Tak tahu saja dia, jika wanita bercadar yang baru menghidangkan nasi goreng tadi adalah wanita yang dia cari.
Disaat Heaven masih memikirkan jawaban yang tepat, Bik Denok muncul dengan membawa 3 gelas minuman.
"Eh Bi, teman kamu mana?" Tak mendapat jawaban dari Heaven, Tirta bertanya pada Bi Denok.
"Siapa, Aminah? Yang tadi membuka pintu?" Art perempuan dirumah itu memang hanya ada dua.
"Bukan, yang satunya lagi. Yang kulitnya eksotis, ada bekas jerawat dimuka dan....ngomongnya ceplas ceplos."
Bik Denok jelas tak paham siapa yang dimaksud. Sedangkan Tirta, dia masih berusaha menjelaskan saat melihat wajah bingung Bik Denok.
"Yang..." tiba tiba Tirta melihat Mayra muncul dari dalam. "Yang tingginya sama dengan Mayra."
"Dia pulang kampung," ucap Heaven cepat. Jangan sampai Bi Denok keceplosan ngomong gak ada art yang seperti itu. Dia lalu memberi isyarat pada Bik Denok agar kembali kedapur.
"Yah, sayang sekali."
Edo cekikian melihat wajah kecewa Tirta. Tadi yang ngebet ngajak dia datang ke rumah Heaven adalah Tirta. Dan alasan utamanya, Tirta ingin bertemu dengan art tersebut.
"Si Tirta naksir sama pembokat lo."
Huk huk huk
Heaven langsung tersedak nasi goreng. Sementara Mayra, dia kaget saat tahu Tirta menyukainya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
Ila Lee
rasa heevan isteri kamu ada suka awas loh🤣🤣🤣😛
2025-03-13
0
Fi Fin
rasain lo Heaven bini lo ada yg naksir
2024-07-01
2
Nethy Sunny
pepet terus tirta mayra ny biar s heaven nyadar mayra berharga
2024-05-17
0