Pencarian mereka berbuah manis, karena setelah beberapa jam mencari akhirnya mereka menemukan sekelompok monster Erhaz. Namun, bukan hanya dirinya saja, di sana juga ada beberapa kelompok orang dari kota Hole yang sedang mengincar Monster tersebut.
"Cukup ramai juga," ucap Arian di dalam X-Ray.
Terlihat kelompok orang-orang tersebut sedang membuat strategi untuk memisahkan salah satu Monster dari kawanannya.
Arian tersenyum, ia bertanya kepada robotnya itu. "X-Ray, apa kamu bisa mendapatkan salah satu dari mereka?"
"Kenapa cuma satu Tuan?" X-Ray malah balik bertanya.
Arian mengernyitkan dahi bingung, karena pertanyaan X-Ray seolah ia bisa membunuh lebih dari satu Monster.
"Jangan bawa banyak-banyak, kalau bisa dua saja lebih dari cukup," ucap Arian yang sebenarnya ragu, karena kawanan monster tersebut sangat banyak.
"Baik Tuan!"
Swuzzz
X-Ray tiba-tiba menambah kecepatan, membuat Arian terkejut. Kelompok orang-orang yang berburu monster terkejut ketika melihat sebuah pesawat melesat dengan cepat.
"Apa dia mau cari mati?!"
"Biarlah, lagi pula bagus juga, dengan begitu dia bisa menjadi umpan."
"Kamu benar, semuanya bersiap!"
Namun, harapan mereka langsung sirna ketika X-Ray yang menembakkan kedua tangannya langsung mengenai dua kepala Monster Erhaz tanpa membuat monster yang lainnya ketakutan.
Dua monster jatuh dari langit, tapi tiba-tiba mereka melayang kembali dan mengikuti pesawat yang menembak monster tersebut.
X-Ray menggunakan kekuatan elektromagnetik untuk menarik tangannya yang bersarang di dua kepala Monster Erhaz, ia juga kemudian menggunakan kemampuan manipulasi gravitasinya, sehingga Monster tersebut terbang mengikuti tubuhnya.
"Misi selesai Tuan!" lapor X-Ray.
Arian menoleh ke belakang, ada dua monster Erhaz yang mengikuti dirinya, ia tertawa puas. "Hahahaha... kamu memang yang terbaik X-Ray!"
"Terimakasih Tuan! Senang bisa melihat anda tertawa," ucap robot itu bangga.
"Kita langsung pulang, X-Ray!" perintah Arian bersemangat.
X-Ray langsung terbang melesat menjauh dari tempat itu. Kelompok yang tadi meremehkannya tentu saja tercengang, mereka tidak menyangka ada pesawat yang memiliki kemampuan seperti itu.
...***...
Arian sampai di kediamannya, ia menyuruh X-Ray menjatuhkan dua monster itu di tempat biasanya untuk memotong-motong daging Monster tersebut.
Sontak saja semua yang ada di sana terkejut karena Arian dengan mudahnya bisa mendapatkan dua monster idaman tersebut.
"Astaga, apakah aku tidak salah lihat?"
"Ini serius Monster Erhaz!?"
Orang-orang yang kebetulan di bawa Brem sudah sampai, jelas saja mereka terkejut karena Arian membawa dua ekor monster Erhaz.
"Hahahaha... itulah anakku, dia pemimpin keluarga Smeltz, jika ingin tinggal di sini, kalian harus menghormatinya!" Wiliam tertawa lepas, membanggakan anaknya.
"Sudahlah Ayah, jangan berlebihan," ucap Arian yang langsung menghampiri orang-orang yang baru datang.
"Salam tuan Arian, mereka semua mulai hari ini akan tinggal di sini, mohon bimbingannya." Bren menundukkan kepala, di ikuti dengan yang lainnya.
"Tidak perlu terlalu berlebihan, kalian bantu menguliti dan memotong-motong monster itu, nanti malam kita akan melakukan pesta untuk mengakui dua Istri baruku, bersyukur saja karena kalian akan makan daging enak malam ini," ucap Arian sambil tersenyum.
"Tentu tuan!" Bren belum menjawab, tapi semua orang yang ikut dengannya sudah menjawab terlebih dahulu, sehingga calon pemimpin kelompok Belt itu tersenyum getir.
"Sayang, istirahat dulu," Maura mengajak suaminnya itu ke teras rumah, di sana sudah ada Nera yang menunggu dengan menyajikan makanan dan minuman untuk Arian.
Arian bagikan seorang raja, ia di layani dengan baik oleh kedua wanita yang sudah menjadi Istrinya itu, sambil melihat orang-orang yang sedang memotong dua monster buruannya itu.
"Menurut kalian, kalau aku buat pemukiman ini sesuai dengan kelompok mereka masing-masing bagaimana?" tanya Arian kepada dua wanitanya itu.
"Ide bagus, kita membuat rumah sesuai kelompok mereka, aku yakin setelah ini akan banyak kelompok lain yang akan tinggal di sini," ucap Nera.
"Iya aku juga berpikir seperti itu, mereka kelompok Belt akan tinggal sebelah kiri kediaman Smeltz, sementara Sreud dan orang-orang nanti yang datang tidak berkelompok aku tempatkan di kanan kediaman Smeltz, aku akan menjadikan Sreud pemimpin kelompok itu," ucap Arian menjelaskan.
"Terus masalah pembagian air bagaimana sayang?" tanya Maura.
"Aku sudah janji kepada mereka akan membaginya dengan adil, setelah rumah-rumah mereka terbangun juga, aku akan melarang siapapun masuk kemari, kecuali ada urusan penting." Jawab Arian yakin.
"Aku setuju saja dengan ide kamu," ucap Maura sambil tersenyum.
"Begitu juga denganku." timpal Nera.
Arian merasa sangat senang, bukan hanya bisa membuat pemukiman sendiri, kini ia juga memiliki dua pendukung yang selalu akan menemaninya, melewati perjalanan panjang yang akan di tempuh dirinya.
...***...
Malam hari pun datang, mereka semua melakukan pesta pengenalan kedua Istri Arian. Mereka semua tentu menyambut hangat dua Istri pemimpin mereka, sekarang tempat tersebut sudah cukup ramai yang dulunya sepi.
Arian dan Istrinya yang sudah cukup menikmati pesta tersebut, ia membawa kedua Istrinya masuk ke dalam kamar lagi.
Maura dan Nera hanya bisa pasrah, mereka berdua sebenarnya masih merasakan nyeri, tapi mereka juga tidak mau membuat suaminya kecewa, sehingga pergulatan suami istri itu terjadi lagi di malam bahagia tersebut.
Hari berganti Hari, semua rencana Arian di kerjakan oleh mereka semua dengan baik. Pemukiman yang awalnya hanya ada rumah Arian, kini sudah bertambah dengan rumah besar di kiri kediaman Smeltz yang mampu menampung puluhan orang di dalamnya. Sreud dan keluarganya juga membuat rumah di sebelah kanan kediaman Smelz.
Pagar keliling semakin di perluas. Robot yang di temukan Arian juga sudah aktif. Ia diberi nama Alpa, sehingga kini ada dua robot canggih yang dimiliki keluarga Smeltz.
Robot-Robot senjata juga jumlahnya sudah semakin banyak, mereka yang bertugas berjaga di luar pagar.
Alpa kini yang membantu orang-orang untuk membangun rumah, karena ia juga di program agar memiliki kemampuan manipulasi gravitasi.
Pohon yang di tanam Arian juga tumbuh subur, kini pohon tersebut sudah seukuran Arian jika berdiri, tentu saja itu membuat tempat tersebut terasa sejuk.
Mereka semua kini sedang istirahat makan siang bersama, tampak mereka sangat senang dengan kehidupannya yang sekarang, karena tidak perlu memikirkan makanan dan air bersih lagi yang sudah terjamin di sana.
"Bersulang untuk tuan Arian yang sudah memberikan kehidupan penuh kedamaian ini!" teriak Bren sambil mengangkat segelas air di tangan kiri dan daging di tangan kanannya.
"Untuk tuan Arian!" mereka semua bersulang.
Arian juga mengangkat gelasnya, ketika mereka baru menggigit daging tiba-tiba terdengar suara ledakan di depan gerbang Pemukiman Smeltz.
Boommm
Boommm
Sontak saja mereka semua terkejut, Arian bergegas berdiri, begitu juga dengan Bren dan yang lainnya, mereka segera melihat apa yang sebenarnya terjadi di depan gerbang.
Mereka semua terkejut ketika robot senjata sedang melawan para kelompok Vebal yang menyerang pemukiman Smeltz.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 66 Episodes
Comments
Jarang Komen:)
Next...
2023-05-17
3
Team Hore (≧∇≦)/
❤❤❤❤👣
2023-04-17
0
Red Ant
lajut thor 👍
2023-04-15
2