Sebuah robot senjata sudah tercipta. Arian belum berani menaruh robot tersebut di luar pagar keliling wilayah rumahnya. Karena tubuh robot itu kecil, takutnya nanti ada sekelompok monster dia malah kalah dan rusak, lebih baik Arian menunggu X-Ray membuatnya dua atau tiga lagi, agar bisa membuat mereka bertarung bersama.
"Arian, apa itu?" tanya Maura yang tiba-tiba mendekat.
Arian tersenyum, ke arah Maura. "Robot senjata, ini akan menjadi pertahan tempat ini nantinya."
Maura mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. "Oh... kami bantu ayah dan Ibu dulu, Arian."
"Oke," jawab Arian lembut.
Maura dan Nera pergi dari tempat Arian untuk membantu orang tua Arian bekerja, saat mereka akan membantu Ayah Arian. Molina memanggil mereka untuk membantu menyiapkan sarapan.
Maura dan Nera tidak menolak, mereka menurut dengan Molina, lagi pula sekarang mereka akan menjadi anaknya juga, jika sudah Resmi menjadi istri Arian nanti.
Arian memang belum bisa membuat sebuah robot, tapi ia mencoba untuk terus belajar dari X-Ray. Sesekali ia juga membantu X-Ray menyiapkan bahan-bahan yang di butuhkannya.
"X-Ray, menurutmu apa tempat ini bisa menjadi tanah yang subur?" tanya Arian tiba-tiba.
"Tuan, anda lihat sendiri di sini masih keluar air jernih seperti itu, tandanya tanah ini masih bisa menjadi tanah yang subur, radiasi nuklir yang di hasilkan di sini juga sudah tidak ada, saya rasa tempat ini lambat lain juga akan menjadi hijau kembali," jawab X-Ray sambil membuat robot senjata lainnya.
"Wah bagus dong, nanti kita cari tunas pohon di pinggiran sungai Zeuz, kita tanam di sini, bagaimana menurutmu?" tanya Arian lagi.
"Ide bagus tuan," jawab X-Ray singkat.
Arian tidak mau mengganggu robotnya itu membuat robot senjata. Ia meninggalkan robotnya saat Ibunya memanggil untuk sarapan.
Mereka berempat duduk bersama di meja makan yang memang ada di luar rumah.
"Ayah, sesudah ini aku mau ke sungai Zeuz bersama X-Ray, kami mau mencari tunas pohon untuk di tanam di sini," ucap Arian sambil menggigit daging yang sudah di panggang itu.
"Jangan, di sana berbahaya!" tegur Wiliam.
"Benar Arian, kalau kamu sembarangan ke sana berbahaya, lebih baik urungkan niatku," timpal Molina lembut.
"Ayah, Ibu, kata X-Ray, tanah di sini bisa subur kembali seperti dulu, kita tidak boleh melewatkan ini. Kami pasti akan baik-baik saja," ucap Arian yakin.
Wiliam dan Molina saling menatap, mereka berdua menghela napas secara bersamaan, karena keduanya tahu kalau Arian pasti akan tetap pergi ke sana, walau di larang sekalipun.
"Boleh yah," pinta Arian memelas.
"Baiklah, tapi kamu juga harus hati-hati, kamu tahu sendiri di sana ada kaum Vebal yang siap menyergap kalian dan kelompok dari kota Hole juga pasti akan melarang kalian masuk ke sana," tukas Wiliam kepada anaknya itu.
"Tentu saja Ayah, kami pasti akan hati-hati! Ini semua demi kehidupan baru para manusia!" Seloroh Arian penuh keyakinan.
Pletaak
"Aduh, Ibu...." Arian menatap tidak berdaya Ibunya yang memukul kepalanya menggunakan tongkat besi serba guna miliknya.
"Kalau bermimpi jangan ketinggian, kalau jatuh akan berasa sangat sakit!" tegur Ibunya.
"Hihihi... " kedua gadis yang di selamatkan Arian terkikis geli melihat Arian yang seperti anak kecil di mata Ibunya.
Arian menoleh ke arah kedua gadis itu, ia hanya bisa tersenyum getir, karena di tertawakan oleh mereka berdua.
...***...
Stelah selesai sarapan, Arian mengajak X-Ray menuju sungai Zeuz. Sungai yang bisa menghidupi seluruh penyintas yang ada di planet yang sudah rusak itu.
Perjalanan mereka cukup jauh, mengingat Arian dan orang tuanya memang sengaja menjaga jarak dari tempat itu, agar terbebas dari intaian kaum Vebal dan kelompok pemburu kota Hole yang selalu mengolok-olok mereka.
Hingga setelah beberapa saat mereka melakukan perjalanan, akhirnya lokasi hijau sungai Zeuz terlihat juga.
"X-Ray, mulai dari sini kita harus lebih hati-hati!" perintah Arian pada robotnya itu.
"Baik tuan! Mulai mengaktifkan perlindungan transparan!"
Tiba-tiba saja sebuah pelindung transparan mulai menyelimuti tubuh X-Ray dan Arian yang naik di dalam robotnya itu. Tentu saja Arian terkejut, ia tidak menyangka X-Ray bisa melakukan pertahanan layaknya pesawat canggih petinggi kota Hole.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 66 Episodes
Comments
Kurnia Ramadhan
danau kah? sungai kah?
2023-06-30
0
Hades Riyadi
Lanjutkan Thor 😀💪👍👍🙏
2023-05-21
1
Hades Riyadi
Robotnya kuereenn abiiss 😛💪👍👍👍🙏
2023-05-21
0