Minta Ijin

Pesawat yang di selamatkan X-Ray turun dari langit di luar pagar penghalang kediaman keluarga Smeltz.

Wiliam langsung menghampiri anaknya, sementara Sreud dan Heel hanya menatap dari kejauhan sambil bekerja, karena mereka sadar di sana tidak boleh makan gratisan.

Bren membuka pintu pesawat, ia kemudian turun bersama dua temannya. Mereka bertiga menghampiri Arian.

"Tuan, terimakasih karena telah menyelamatkan kami," ucap Bren sopan sambil sedikit membungkukkan badan, di ikuti dua temannya.

"Tidak perlu sungkan, ngomong-ngomong kalian darimana? Kami tidak pernah melihat pesawat kalian sebelumny?" tanya Arian tanpa basa-basi.

Mereka bertiga saling menatap, kemudian mengangguk secara bersamaan. Bren menjawab. "Tuan, kami dari kelompok Belt."

"Kelompok Belt? Bukankah kalian harusnya tidak pernah keluar dari wilayah kalian?" tanya Wiliam menyelidik.

"Ayah mengenal mereka?" tanya Arian.

Wiliam mengangguk. "Kelompok Belt pecahan dari pemimpin kota Hole, mereka membuat pemukiman sendiri dan biasanya tidak pernah keluar dari wilayah mereka sampai sejauh ini, ada maksud apa kalian datang kemari?" tanya Wiliam sinis.

Wiliam tahu betul baik pemimpin Kota Hole dan Kelompok Belt itu sama-sama keras kepala, mereka memikirkan keluarga mereka sendiri, dan menganggap keluarga lain hanyalah pelengkap saja.

Bren tersenyum getir, ia tahu kalau Wiliam pasti sangat membenci kelompok Belt. "Tuan, pemimpin kami sudah lama tewas, sekarang kami memiliki pemimpin lain, tujuan kami menyisir wilayah ini, karena kami mau mencari orang-orang buangan agar tinggal bersama kami, apakah kalian bersedia?"

"Baguslah kalau bajingan itu sudah mati, kami tidak perlu bantuan kalian, hidup kami di sini sudah nyaman!" jawab Wiliam ketus.

"Tuan, tapi untuk pergi ke sungai Zeuz, anda butuh beberapa orang, jika kelompok kalian tidak kuat, yang ada kelompok kalian akan di serang Kaum Vebal," ucap Bren mengingatkan.

Wiliam menyeringai. "Sayangnya kami memiliki sumber air sendiri, tidak perlu pergi ke sungai Zeuz," Selorohnya bangga.

Bren dan kedua temannya tentu saja bingung, pasalnya belum ada orang yang berhasil menemukan sumber air di sana selain sungai Zeuz.

Wiliam tahu kalau mereka tidak percaya, karena itulah dengan bangganya ia mengajak mereka masuk ke dalam pagar rumahnya.

"Ayo ikut aku, biar aku tunjukkan sesuatu!" ajak Wiliam percaya diri.

Arian menepuk jidatnya, penyakit pamer ayahnya kumat lagi, padahal sudah lama semenjak mereka di usir kota Hole sudah tidak seperti itu lagi. Namun, Arian tahu semua itu karena Ayahnya juga sudah bosan di remehkan.

Wiliam membawa Bren dan kedua temannya ke kolam sumber Air mereka. Betapa terkejutnya orang-orang itu ketika melihat kolam air bersih yang ukurannya cukup besar itu.

"Astaga, ini beneran sumber mata air?" tanya Bren sambil jongkok dan mengambil air tersebut menggunakan tangannya, langsung meneguknya.

Mata Bren langsung berkaca-kaca, ternyata itu memang sumber air murni dari dalam tanah, karena rasanya tidak seperti sungai Zeus.

Si gendut dan wanita yang bersama Brem juga mencobanya, mereka juga sama terkejutnya dengan Bren.

"Bagaimana? Inilah kehidupan keluarga Smeltz, kami tidak perlu berebut air lagi di sungai Zeuz!" seru Wiliam percaya diri.

Brug

"Tuan, ijinkan kami tinggal bersama dengan keluarga Smeltz, saya berjanji akan menyuruh kelompok Belt agar patuh dengan perintah anda!" ucap Bren sambil bersujud.

Kedua teman Bren juga melakukan hal yang sama seperti Bren. Namun, Wiliam tidak percaya begitu saja dengan mereka.

"Siapa kamu kenapa bisa memutuskan? Kalau hanya kamu yang bilang memangnya mereka akan menuruti ucapanmu?" tanya Wiliam menyelidik.

"Tuan, dia Brenford Belt, calon pemimpin kami selanjutnya. Saya yakin kelompok kami akan mendengarkannya," ucap wanita yang bersama Bren.

"Biarkan saja Ayah, lagipula kita juga berniat membangun pemukiman yang besar di sini bukan? Semakin banyak orang semakin bagus," ucap Arian tiba-tiba yang masuk bersama X-Ray.

Wiliam tidak bisa berkata-kata jika Arian yang berbicara, mau bagaimanapun anaknya itu yang berwajib menentukan kehidupan di sana, karena Arian yang menemukan Arian, sumber kebahagian keluarga mereka sekarang.

Wiliam menghela napas. "Kalau kamu yang sudah bicara, Ayah juga tidak bisa berbuat apa-apa, Namun, karena tempat tinggal di sini masih minim, aku ingin kalian membawa para lelaki yang bisa membuat rumah dan membantu kami membuat pagar penghalang terlebih dahulu, baru setelah itu, kalian boleh tinggal di sini, bagaimana Arian?"

Arian mengangguk. "Ayah benar, apa kamu tidak keberatan, Bren?"

"Tentu saja tuan, kami tidak keberatan sama sekali, asalkan kami mendapat jatah air yang adil," jawab Bren yakin.

"Kamu tenang saja, nanti aku alirkan air ke setiap rumah yang di bangun, jadi kalian tidak perlu berebut, atau menunggu persetujuan kami kalau mau menggunakan air," ucap Arian mantap.

"Baik Tuan, kami setuju!" ucap Bren bersemangat.

Bren kemudian meminta ijin untuk pergi dari sana dan menjemput orang-orangnya, tapi Arian yang takut mereka kenapa-kenapa ia menyuruh mereka menggunakan pesawat keluarganya yang sudah ada lapisan pelindung transparan.

Bren dan si gendut yang pulang, sementara si wanita yang bernama Lisa itu tetap tinggal di sana, sebagai bukti kalau mereka tidak akan berhianat.

"Halo, aku Maura, itu Kakak saya Nera, kami calon Istri Arian!" ucap Maura mantap sambil mengulurkan tangannya.

"Lisa, salam kenal Nona Maura," jawabnya sambil menyambut uluran tangan Maura.

Lisa yakin Maura berbicara seperti itu padanya, agar dirinya tidak mengganggu hubungan mereka. Karena ia sudah lebih dewasa dari mereka, jelas tahu apa yang di pikirkan Maura.

"Ayo ikut aku bantu yang lainnya!" ajak Maura pada Lisa.

Lisa mengangguk, ia mengikuti Maura ke tempat yang lainnya. Mereka sedang menyiapkan makan siang untuk para pria.

Wanita yang baru pertama ada di tempat tersebut itu terkejut, ketika ia melihat daging yang di gunakan untuk makan siang merupakan daging Monster Erhaz.

Mereka makan daging enak seperti ini setiap hari? Enaknya tinggal di sini, tapi siapa yang mencari daging ini untuk mereka?

Lisa bertanya-tanya dalam hatinya, ia tahu kalau mendapatkan daging Erhaz itu sangat sulit, apa lagi kelompok mereka hanya beberapa orang saja. Namun, mengingat X-Ray yang menyelamatkannya, ia reflek menoleh ka Arian.

"Kenapa bengong? Jangan liat Arian terus!" tegur Maura ketus.

"Eh, i-ya maaf Nona," jawab Lisa yang langsung bergabung menyiapkan makanan.

Maura menggembungkan pipinya, ia yakin kalau Lisa juga mulai tertarik dengan Arian. Ia seketika langsung menyesal saat Arian hampir saja menggaulinya malah menangis.

Andai saja waktu itu aku tidak menangis, pasti Arian sudah menjadi suamiku.

Maura menggerutu di dalam hati, karena ia sadar telah mengambil jalan yang salah, andai waktu terulang kembali, wanita itu pasti akan dengan sukarela menyerahkan tubuhnya kepada Arian.

Terpopuler

Comments

Jarang Komen:)

Jarang Komen:)

Next...

2023-05-15

3

Team Hore (≧∇≦)/

Team Hore (≧∇≦)/

💕💕💕💕💘

2023-04-13

1

Red Ant

Red Ant

🏳🏳🏳kan tanpa syarat 🤭🤭🤭

2023-04-12

4

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!