Peluk Aku, Ibu

Peluk Aku, Ibu

bab 1

"Selamat ya sayang kamu sudah berhasil dan mendapatkan gelar Sarjana," ucap Chandra pada Najwa.

Hari itu adalah hari wisuda Alya dan Najwa. Kakak beradik itu sudah selesai dengan kuliahnya dan kini mereka sudah menyandang gelar Sarjana.

Alya menyandang gelar Sarjana dengan nilai terbaik sedangkan Najwa menempati peringkat ke tiga setelah salah satu temannya mendapatkan posisi ke dua.

Meski begitu, Chandra ~ Ibunya Najwa dan Alya begitu bahagia dengan kemampuan putri pertamanya itu.

"Terimakasih Ibu, ini belum seberapa dibandingkan dengan Alya yang mendapatkan peringkat pertama," ucap Najwa dengan terus mengukir senyuman di bibirnya.

"Tetap saja Ibu bahagia dan bangga padamu sayang."

"Ibu, aku mendapatkan gelar mahasiswa terbaik dengan nilai tertinggi. Ibu bahagia kan? Apa Ibu tidak ingin mengucapkan selamat padaku?" Alya tersenyum gembira pada Ibunya yang sedang berdiri di samping Najwa ~ kakaknya.

Chandra mendelik pada Alya, seketika senyumnya musnah saat tahu Alya ada di hadapannya.

"Najwa ayo kita pulang, acaranya sudah selesai," ucap Chandra sembari berjalan menuju parkiran!

Alya berdiri mematung sambil menatap Ibunya yang kian menjauh.

Air matanya mulai menetes namun ia mencoba untuk menahannya agar tak jatuh. Hari ini adalah hari bahagianya, dirinya tidak boleh menangis di sana.

"Jangan pikiran Ibu, ayo kita pulang," ucap Najwa sembari menggandeng tangan Alya.

"Kak aku ...." Alya menggantung ucapannya dan memilih untuk tidak melanjutkannya.

"Apa?"

"Tidak." Alya menggelengkan kepalanya. "Ayo kita pulang," sambungnya.

Dari sejak sekolah TK sampai kuliah, Alya selalu berusaha untuk menjadi jadi yang terbaik, dia rajin belajar dan sering melakukan sesuatu yang tidak pernah Najwa bisa lakukan, bukan tanpa alasan dirinya melakukan semua itu.

Hanya satu tujuannya yaitu untuk mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari Ibunya, namun semua usahanya itu selalu gagal meski dirinya menjadi yang terbaik di sekolah tapi tidak di rumah.

Chandra selalu lebih menyayangi Najwa dibandingkan dirinya, sampai saat ini dirinya pun tidak tahu apa yang membuat Chandra menyukainya.

Selama ini dirinya tumbuh bersama pengasuhnya, seingatnya dirinya tidak pernah dibelai, dipeluk, dan dimanja oleh Chandra jangankan semua itu, senyum pun tak pernah dia dapatkan dari ibunya itu.

"Alya nanti malam kita rayakan keberhasilan kita di kafe tempat biasa kita nongkrong," ucap Najwa sembari terus berjalan.

Tangannya terus menggandeng tangan Alya karena kalau tidak, Alya akan berhenti berjalan dan terus berdiri dibelakangnya hingga sampai Ibunya meninggalkan dirinya.

"Aku malas kak."

"Tidak ada kata malas, kakak ingin kita pergi dan merayakan ini bersama. Kamu tahu, momen ini tidak akan terulang lagi jadi kita harus merayakannya."

Najwa memang sangat menyayangi Alya, meski Ibunya selalu melarangnya untuk tidak terlalu baik pada Alya tapi dirinya tetap menyayangi Alya seperti dirinya menyayangi sang Ibu.

"Kak, aku ingin pergi ke luar kota dan bekerja di sana."

"Untuk apa? Perusahaan Ibu masih butuh kamu."

"Ada kakak yang mengurus perusahaan Ibu."

"Tidak, aku tidak bisa. Aku lebih suka dengan dunia modeling daripada duduk diam dalam satu ruangan itu-itu saja."

Najwa, gadis berambut panjang dan berwarna pirang itu memang menyukai dunia modeling sejak usianya baru belasan tahun dan kini dirinya sudah menjadi model busana dan kecantikan di salah satu perusahaan ternama di kotanya sedangkan Alya, dia lebih suka melakukan pekerjaan seperti yang dilakukan Ibunya yaitu mengurus perusahaan peninggalan Ayahnya

"Kak–"

"Diam Alya, ayo masuk ke dalam mobil dan kita pulang."

Najwa membukakan pintu mobil untuk Alya lalu menyuruh Alya segera masuk ke dalam mobilnya.

"Terimakasih." Alya tersenyum lalu segera masuk ke dalam mobilnya!

Setelah Alya masuk, Najwa segera menyusul Ibunya yang sudah berada di dalam mobil yang duduk di bangku belakang.

"Lain kali tidak usah membukakan pintu untuk Alya. Dia punya tangan sendiri jadi dia pasti bisa melakukannya sendiri."

"Tidak apa Ibu, hanya membuka pintu saja tolong jangan perbesar masalah ini." Najwa berucap tentunya dengan senyuman di bibirnya.

Najwa memang selalu menolak perintah Ibunya dengan halus dan dengan senyuman di bibirnya.

"Maaf Bu, aku tidak akan membiarkan kakak melakukan itu lagi untukku." Alya yang duduk di bangku depan dengan sang sopir itu pun merasa tidak enak hati dan merasa bersalah pada Chandra.

Chandra hanya diam, sedikit pun dirinya tak berniat untuk menjawab perkataan Alya.

"Pak jalan sekarang," ucap Najwa pada sang sopir.

Sopir itu pun segera melajukan mobilnya tanpa menjawab perkataan Najwa padanya.

Setelah tiga puluh lima melakukan perjalanan akhirnya mereka tiba di rumah mereka.

Chandra segera keluar dari mobilnya dan langsung masuk ke dalam rumahnya tanpa mengatakan sesuatu apa pun terhadap Najwa apalagi pada Alya.

"Ayo Al, kita beritahu kabar gembira ini pada Mbok Darti," ucap Najwa dengan penuh semangat.

Mbok Darti, perempuan paruh baya itu sudah bekerja pada Chandra sejak dua puluh lima tahun dia lah yang merawat dan mengasuh Alya sejak Alya masih bayi.

Sampai saat ini Alya memang lebih dekat pada Mbok Darti dibandingkan dengan Chandra bahkan kasih sayang dari Mbok Darti sangat dirasakan oleh Alya.

Najwa sudah lebih dahulu keluar dari mobilnya dan masuk ke dalam rumah sedangkan Alya masih duduk di tempat semula.

"Mbak Alya hebat ya, selamat ya Mbak," ucap Arman ~ sopir pribadi Chandra.

"Terimakasih Mas."

"Sabar ya Mbak, saya yakin suatu saat Ibu pasti menyayangi Mbak."

"Saya sabar kok Mas, kalau gak sabar mungkin saya sudah kabur," ucap Alya sembari tertawa kecil.

Arman pun ikut tertawa bersama Alya.

"Lagian dari dulu sampai sekarang pun Ibu sudah menyayangi saya, Mas. Buktinya saya masih hidup kalau gak saya sudah mati sejak saya bayi."

Alya memang tidak pernah berbicara jelek tentang Ibunya, meski memang kenyataannya sang Ibu tidak pernah menyayanginya tapi dirinya selalu menutupi kebenaran itu dari orang lain termasuk orang rumahnya.

Meski semua orang di rumahnya tahu tentang sikap Chandra padanya tapi Alya selalu menutupi semua itu. Alya selalu berkata bahwa Ibunya juga menyayanginya seperti menyayangi Najwa.

Arman tersenyum sembari menatap Alya yang sudah berada di luar dan kini tengah berjalan memasuki rumahnya.

"Mbak Alya memang baik, entah terbuat dari apa hatinya sehingga dia mempunyai maaf yang begitu banyak untuk Ibu Chandra. Saya do'akan semoga suatu saat Mbak Alya mendapatkan kebahagiaan seperti yang Mbak Alya inginkan," gumam Arman.

Perlakuan Chandra yang suka membeda-bedakan kasih sayangnya memang sudah bukan rahasia lagi, semua orang di rumahnya tahu kalau Alya tidak pernah disayangi oleh Chandra.

Arman adalah salah satu yang mengetahui hal itu, dia selalu menghibur Alya saat Alya sedang bersedih karena merasa tersisihkan.

Bersambung

Terpopuler

Comments

Wirda Lubis

Wirda Lubis

anak di beda beda kan

2023-08-08

0

Uneh Wee

Uneh Wee

hadir ka eh ko aku baru liat ada novel baru kaka yah kaka ga kirim undangn nya apa aku ga buka yah ka

2023-04-05

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!