Kota Aezak digemparkan dengan kejadian yang merenggut empat nyawa di sebuah rumah milik pemuda yang identitasnya dirahasiakan.
Bahkan sekelas pemerintah kota pun langsung turun tangan, seorang yang berkuasa di dunia luar dan juga dunia dalam ini, dia adalah seorang yang terkenal atas keputusan kontroversi miliknya, terkadang.
“Bagaimana dengan Anomali G-A?” tanya seorang pria bertubuh cukup besar sembari mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja.
Dia yang duduk begitu mendominasi, di hadapannya adalah seorang Pemburu Veteran bernama Jimmy Henderson yang bertanggung jawab atas semuanya di Kota Aezak.
“Anak muda itu, mentalnya mengalami penurunan drastis, dia tak akan selamat dalam konteks jiwanya,” jelas Jimmy masih mempertahankan senyuman misteriusnya.
“Oh, anak muda yang malang. Menurutmu, dia kenapa?”
Jimmy sedikit terkejut atas pertanyaan yang dilontarkan oleh pria yang berkuasa di Kota Aezak, entah mengapa pertanyaan itu benar-benar mengganggu dirinya pribadi.
“Dia ... Menurut data yang kami terima dari Liora Cynthia, G-A dalam keadaan abnormal ketika Liora menyebutkan sebuah nama, Putri Ayu, entah siapa, tetapi G-A menjadi tak terkendali setelah itu,” jelas Jimmy sedikit gugup.
Pria yang berkuasa di Kota Aezak bernama Adiwiyata, walikota Aezak, atau jika di dunia luar, dia adalah seorang gubernur di salah satu Provinsi di Pulau Jawa.
“Ah ... Begitu, ya, cari informasi tentang Putri Ayu, firasatku agak aneh kali ini,” ucap Adiwiyata sembari berdiri dan membelakangi Jimmy menatap keluar jendela.
“Ba–Baiklah!”
***
Sementara itu, di rumah sakit Pemburu, saat ini Gavin telah siuman, menatap sekeliling dengan kebingungan. Gavin melihat kedua tangannya, terlihat begitu pucat, kemudian menyentuh wajahnya.
Clek!
Pintu ruangan terbuka dan menampakkan seorang dokter beserta perawat dan juga seorang pria yang memiliki luka sayatan di tengah hidungnya, memanjang secara horizontal.
“Gavin Arsenio, apa yang kamu rasakan?” tanya pria yang memiliki luka di bagian batang hidungnya. “Saya Fery, Pemburu bagian penyelidikan!”
“Ah, semuanya terasa kosong,” jawab Gavin dengan sorot mata yang memang cukup kosong.
Manik mata biru safirnya sama sekali tak berkilauan, terlihat polos tanpa ada kilauan penuh tekad. Fery sebagai Pemburu, dan seorang dokter pun merasakan bagaimana beban yang datang di pundak Gavin.
“Tenanglah, kami akan memeriksa sedikit,” ucap seorang dokter sembari tersenyum.
Gavin yang duduk pun kembali berbaring dan menjalani rentetan pemeriksaan, sekitar 30 menit pun berlalu dan pemeriksaan telah berakhir, di ruangan menyisakan Gavin yang menghela napas panjang.
“Memeriksa sedikit, heh, itu sedikit bagi mereka,” gumam Gavin.
Dia mengedarkan pandangannya, ruangan yang begitu sepi, sama sekali tak ada objek dan hanya ada ruang putih dengan jendela cukup besar di sisi kirinya menampakkan gedung-gedung pencakar langit.
Gavin mencoba untuk turun, dia perlahan dengan tubuh yang jelas masih agak lemah, menarik tempat gantungan cairan infus miliknya, dia mendekati jendela untuk mencoba menikmati pemandangan tersebut.
Melihat ke bawah, lalu-lalang kendaraan di pagi hari yang begitu sibuk, dunia ini benar-benar sebuah kenyamanan sendiri bagi mereka, entah sejak kapan mereka mendapati adaptasi mengerikan ini.
Gavin menyentuh jendela yang merefleksikan dirinya, sorot matanya begitu rendah seperti seorang yang tekadnya hancur lebur oleh suatu sebab yang tak dapat dirasakan olehnya, perasaan itu begitu aneh dan membebani pikirannya.
Gavin terlihat tenang saat ini, tetapi di pikirannya begitu berantakan mencoba mencari apa yang telah terjadi, entah apapun itu, tetapi terasa sangat berat.
“Sial, sebenarnya apa yang terjadi? Apa yang terjadi? Apa yang terjadi?”
Dia terus mengulangi ucapannya hingga dirinya merasa bosan dan kembali ke brankar miliknya dan duduk dengan penuh tekanan yang jelas membuatnya merasa pusing.
“Apa yang terjadi ... Semuanya sangat kosong.”
***
“Bodoh! Putri Ayu itu adalah–”
“Ba–Baik Tuan Adiwiyata, saya akan menetralisir semuanya, jangan ... Jangan sampai terbongkar ke publik, kita sendiri akan habis di dunia ini dan juga dunia luar!” ungkap Jimmy ketika Adiwiyata hendak melemparkan beberapa lembaran dokumen.
Jimmy bisa bernapas lega, tetapi dari belakang sebuah pipa logam menghantam kepalanya hingga berdarah dan Jimmy jatuh terkapar tak berdaya, poinnya berkurang drastis.
“Cih! Buang saja dia ke sungai, jangan sampai Penembak Misterius dari mereka ikut campur!” seru Adiwiyata.
Dua orang pria berpakaian jas datang dan langsung menyeret Jimmy, sementara itu, seorang pemuda yang berdiri tegak memegang pipa logam terus berdiam menunggu ucapan yang akan jelas menyibukkan dirinya.
“Kamu, saya promosikan menjadi Kepala Pemburu Kota Aezak di usia yang ke-18 tahun!”
Pemuda itu tetap tak bergeming, terus berdiam dengan napas yang begitu berat, tekanan di ruangan itu benar-benar mengerikan, tetapi siapa yang sangka dirinya akan menanggung beban yang begitu berat.
Pemud ini juga mengingat kejadian yang baru saja terjadi, sebuah nama yang tak ingin didengar olehnya karena menurutnya takdir orang ini telah melenceng dari takdir miliknya dan tak akan bisa berjalan bersama.
Dia adalah seorang yang akan menghentikan bagaimana pun dan siapa pun yang menghalanginya demi mencapai tujuannya dalam menyelesaikan apa yang telah terjadi sejauh ini.
“Gavin Arsenio, entah bagaimana pertemuan kita, tapi ingatlah, kita berbeda kubu dan jelas meskipun kau temanku, tak ada kata maaf kepada seorang Kriminal,” ucap pemuda itu dengan tekanan yang begitu besar.
Kota Aezak telah mengalami satu perubahan besar, di mana pemimpin Pemburu yang terkenal berkuasa di atas segalanya tiba-tiba dikabarkan tewas akibat sesuatu yang tak diketahui.
Kemudian pergantian Kepala Pemburu telah ditentukan, Kepala Pemburu termuda di Kota Aezak telah ada, beberapa kalangan mencoba memahami yang telah terjadi sejauh ini.
Di sebuah gubuk tua dengan berbagai macam barang antik dan tentunya berharga, seorang pria bertubuh besar sedang tersenyum menatap televisi di hadapannya.
“Apakah semuanya telah dimulai? Hmm ... Dalam seminggu lebih, dunia ini telah benar-benar berubah, meski begitu saya rindu Gavin yang sering menjual barangnya,” ucap pria itu sambil melempar rokok sisanya.
Di Rumah Sakit Pusat Aezak, seorang dokter sedang menonton siaran berita yang cukup menghebohkan di Kota Aezak sembari menyesap secangkir kopi di pagi hari yang seharusnya damai.
“Gejolak besar, perubahan besar jelas akan terjadi seiring waktu, tapi secepat ini kah?” gumam dokter tersebut yang pada tag namanya tertulis Bambang Subagyo. “Yaa ... Mari kita pikirkan ke depannya, kurasa anak itu sedang dalam keadaan penuh tekanan di tengah gejolak besar ini.”
Semua orang menyadari, adakalanya kita dapat memahami setiap pribadi atau bahkan diri sendiri, tetapi kita juga tak jarang sama sekali tidak dapat memahami apa yang dipikirkan hingga mampu mengubah pola pikir mereka.
“Setidaknya aku telah berusaha, ingatan yang buram ini membuatku memiliki satu tekad baru, dunia yang aneh jelas harus diakhiri dengan aneh juga dan penuh banyak tanya, sampingannya adalah mencari jati diri sesungguhnya,” ucap Gavin yang saat ini kembali membaringkan tubuhnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments
Ayano
Yakin gak dimaafin nih?. Beneran?. Ntas ada insiden yang mengharuskan kalian kerja sama aja baru tau lu
2023-04-11
1
Ayano
Nak kamu akhirnya sadar nak 😭😭😭
Mama dah takut aja kamu bakalan stay koma ampe berchapter chapter
2023-04-11
1