Gavin yang saat ini sedang begitu sibuk membangun hubungan baik dengan para NPC dan orang-orang lainnya, membantu banyak pasien dari korban kekacauan alun-alun Kota Garuda.
Dikatakan, di alun-alun benar-benar kacau, hal ini didasarkan atas para Pemburu yang begitu ceroboh.
Para Pemburu langsung mengeksekusi seorang pemuda yang katanya belum diketahui apakah Kriminal apa bukan, maka demonstrasi pun terjadi.
Kejadian ini jelas membuka mata bagi semua orang bahwa kepercayaan suatu pihak didasari atas hal yang saat ini terjadi, melalui berbagai macam skenario mengerikan.
Gavin yang akhirnya selesai menangani para pasien, menghela napas panjang, dia untuk sementara mampu mengatur hubungan baik antar semuanya.
Namun, kapan pun itu bisa pecah dan kehilangan momentum hubungan baik jikalau Gavin membuat sebuah kesalahan kecil saja.
“Aku tahu, aku terlalu munafik, mencoba membantu penyelesaian, tetapi dengan kondisi bermuka dua seperti ini. Memang, ya, Kriminal tetaplah Kriminal,” gumam Gavin sembari menenggak sebotol minuman.
Ngiiiungg ...!
Sebuah mobil ambulans melaju dalam kecepatan tinggi, bahkan lebih tinggi daripada sebelum-sebelumnya, hal ini langsung menggerakkan Gavin untuk langsung mendatanginya sesaat mobil itu berhenti.
“Pasien ... Sial,” umpat Gavin.
Seorang pasien dengan kedua kaki yang bagian paha nampak hancur seperti terlindas sesuatu, kemudian kepalanya benar-benar mengeluarkan banyak darah.
“Pa–Pasien henti napas!”
“Resusitasi jantung paru-paru! CPR!”
Gavin langsung menaiki brankar, melakukan resusitasi jantung dengan mempertimbangkan beberapa aspek penting seperti luka yang benar-benar parah.
“Satu ... Dua ... Tiga!”
Dalam perjalanan menuju ruang penanganan, Gavin benar-benar berusaha, tetapi di depannya, layar hologram telah menunjukkan poin pasien telah berada di titik nol.
“Berhenti, berhenti!” pekik Gavin.
Dia turun dan menatap jam, pukul 12.23. Gavin membuat para perawat dan dokter hanya bisa bernapas pasrah.
“Penghormatan!” seru Dokter Cahyadi.
Di tengah penghormatan, pasien itu pun pecah menjadi kepingan cahaya dan beterbangan, hingga hilang secara total menyisakan sebuah kertas yang jatuh di lantai.
Gavin mengambilnya dan membacanya cukup keras, “Ayah tidak tahu harus apa, dalam kondisi ini, anakku di dunia luar bisa saja kehilangan nyawanya juga, tapi ... Ayah akan mencoba yang terbaik, dan jika ayah pergi, maka surat ini akan menjadi tanda bahwa ayah pernah hidup di dunia nyata dan maya.”
Gavin melepas kertas itu, tak terasa koridor itu pun menjadi tangisan tak berdaya para garda terdepan penyelamat, Gavin juga tak bisa berbuat banyak dalam kondisi ini.
“Sial,” umpat Gavin dan langsung pergi begitu saja.
Dokter Cahyadi ingin menahannya, tetapi para dokter dan perawat lainnya menahannya dengan tatapan pasrah dalam keadaan ini.
Dokter Cahyadi hanya bisa diam terpaku, menatap kertas dilepas Gavin di atas brankar, dirinya bergetar dan mengingat anaknya yang kemungkinan saat ini sedang menangani pasien di dunia luar.
“Maaf, Nak, ayah tidak bisa mendengar ucapanmu kalau ayah jangan bermain gim ini, rasanya ... Penyesalan benar-benar datang diakhir, gim ini menjadi ribuan kali lebih berbahaya dari sebelumnya, Nak,” gumam Dokter Cahyadi.
Sementara itu, Gavin yang keadaan mentalnya dalam situasi antara tak terkendali dan terkendali harus mampu menahan cobaan itu.
“Haaa ... Benar-benar, ya,” gumam Gavin.
Proses pengendalian diri itu memakan waktu lama disituasi yang kapan saja bisa berbahaya, maka dari itu Gavin ingin mencoba untuk terbuka dengan keadaan.
Drrrt ...!
Gavin merasakan getaran di tanah, hingga dia terbelalak ketika menatap ke depan, di mana halaman rumah sakit dipenuhi oleh lautan orang-orang dengan bersenjata apapun itu.
“Keluar kau, Vector! Keluar kau!!!”
“Pemburu sialan! Keluar kau, Vector, jangan mentang-mentang kau asal Amerika bisa berbuat seenaknya pada kami!!!”
“Dokter-dokter sekalian, keluarkan Vector yang kalian bawa!!”
“Keluarkan dia!”
Gavin yang berdiri di pinggiran rooftop benar-benar melihat betapa kacaunya keadaan di bawah, beberapa mobil lapis baja mencoba merangsak masuk rumah sakit.
Gavin dengan cepat menuruni tangga dan bertemu para dokter yang nampaknya ketakutan setengah mati, ini sebuah ketakutan daripada menangani seorang pasien.
“Do–Dokter! Kacau, kita keluar lewat belakang!” seru Gavin.
“Tak ada jalan, tak ada jalan! Mereka ... Mereka memblokir semua sisi! Keluarkan saja Vector, si Pemburu yang tangan kanan dan kaki kirinya diamputasi tadi!” pekik Dokter Cahyadi dengan tatapan mata kosong.
“Tapi, Dok ...”
Para dokter langsung mendorong Gavin, hingga terjatuh berguling-guling ke arah bawah tangga, sementara para dokter dan perawat sudah naik di rooftop.
“Benar-benar, ya, mau dokter sesungguhnya atau orang biasa, hal begini jelas akan sulit,” gumam Gavin.
Gavin dengan langkah tegas menuju sebuah ruangan, di sana, Pemburu bernama Vector sedang terbaring lemah karena dirinya benar-benar nyaris tewas di tangan lautan manusia.
“Pasien bernama Vector, kesadaranmu sudah baik, hanya lemah, tolong pahami kata-kata saya. Anda segera bersiap!” seru seorang perawat wanita berambut sependek bahu.
“Heh! Perawat Naura, kamu ikut dengan yang lain saja, Vector nanti saya yang tangani!”
Perawat Naura menatap sengit Gavin, merasa bahwa dia begitu sangat diremehkan hingga sebuah hal yang membuat Gavin nyaris kehilangan akal sehatnya.
Jika dianimasikan, urat kesabarannya putus.
Sebuah proyektil peluru menembus kepala perawat Naura hingga perawat itu jatuh terkapar menjadi pecahan cahaya dan beterbangan hingga menghilang.
“Sial, sial, sial!!” Gavin menunduk, tubuhnya bergetar hebat, sedangkan Pemburu Vector menepuk pundak Gavin.
“Kamu, kamu masih muda, tinggalkan saja saya dan naik helikopter bersama para dokter, mereka menunggumu,” ucap Vector pelan.
“Aku Gavin Arsenio, seorang Kriminal, sampai jumpa di dunia sana,” balas Gavin dengan raut wajah yang datar.
Vector hanya menatap Gavin dengan mulut ternganga, dia tak percaya Gavin adalah seorang peran Kriminal dan membantu dirinya yang seorang Pemburu.
Gavin pun meninggalkan Vector, sedangkan Vector sendiri tersenyum mengingat masa-masa indahnya sebelum gim itu benar-benar membawanya pada kesalahan yang akan disesalinya seumur hidupnya.
“Baiklah, aku akan menemui mereka dan menerima konsekuensinya,” ucap Vector.
Sementara itu, Gavin berlari mendatangi helikopter yang akan lepas landas, dengan susah payah dia berhasil masuk.
“Rio–”
“Nama saya Gavin, untuk sekarang lupakan nama Rio,” sela Gavin dengan cepat perkataan dari Dokter Cahyadi.
Tiga helikopter lepas landas dari rooftop rumah sakit, menyisakan rumah sakit yang kosong karena para pasien sebelumnya telah benar-benar dipindahkan, kemudian sebagian dari mereka mati.
Rumah sakit itu pun dikuasai oleh orang-orang yang muak terhadap Vector hingga bencana yang lebih mengerikan pun terjadi.
Pasukan Pemburu datang, ribuan atau bahkan belasan ribu langsung menghujani para pengunjuk rasa dengan proyektil peluru, pembantaian benar-benar membuat situasi mencekam.
Siang itu, teriakan putus asa menggema, semuanya hilang dalam sekejap 30 menit kemudian, menyisakan berbagai macam peralatan dari masing-masing {Inventaris} mereka.
Gavin dan pada dokter yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya, sepertinya Pemburu di sini nampak berlagak sebagai Kriminal sesungguhnya.
Mereka tak pandang bulu, benar-benar definisi memburu apa yang berhak diburu hanya karena membela seorang Pemburu.
Vector keluar dari rumah sakit, derai air mata menghujani pipinya, dia benar-benar tak percaya rekan-rekannya mampu membantai belasan ribu orang tanpa pandang bulu.
Semuanya sirna seketika, siang yang kelam membuat Vector pun memilih untuk bunuh diri daripada menanggung rasa malu akibat kemanusiaan para Pemburu yang sepertinya mencapai titik nol.
“Aliansi Pemburu, mereka biadab!” pekik Dokter Cahyadi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments
Ayano
Dari sini kita tau gak semua pemburu itu baik dan gak semua kriminal itu jahat
2023-04-06
2
Ayano
Hiks.... jangan kuatir nak. Mama sudah mendidik kamu dengan baik. Tungguin aja, bentar lagi kamu bakalan diakui nak 🤧🤧😢
2023-04-06
1