Gavin memilih untuk duduk di bawah pohon, dengan posisi yang juga masih bisa melihat langit berisi ribuan bintang yang berkelap-kelip.
Duduk dalam keadaan santai, Gavin merasa bahwa dunia ini benar-benar nyaman, hanya saja posisinya sebagai seorang Kriminal yang membuatnya sama sekali tak nyaman.
Gavin membuka {Inventaris}, di dalamnya berisi roti lapis sebanyak tiga buah dan juga dua kotak susu berukuran besar, kemudian ada pemantik api beserta kotak rokok yang berisi dua batang.
“Ah, ini jelas tidak akan bertahan lama, aku lama-kelamaan semakin merasa lapar karena tak cukup hanya roti lapis biasa. Paman Argus dan lainnya pun sepertinya tak pernah kulihat makan,” gumam Gavin.
Gavin berdiri, kemudian menatap ke pedalaman hutan yang mana ada secercah cahaya temaram berwarna oranye, itu adalah gubuk tempat tinggal Argus.
Gavin melangkahkan kakinya, menuju sungai yang berdekatan dengan kaki bukit tol. Dia memilih untuk mencoba mencari ikan di sana.
“Mana pancingan gak ada, malam-malam gini ikan seharusnya tidur? Eh, emang tidur?” Gavin bermonolog.
Terus melangkahkan kakinya dengan perlahan, sepatu bot hitam yang membungkus kaki hingga di bawah lutut menginjak semak belukar yang semakin membesar.
Gavin yang saat itu tak fokus, menginjak sesuatu yang cukup lembek dan berbulu, hingga lolongan kesakitan terdengar dari arah sampingnya.
Gavin memasang tubuh waspada, tetap diam dan tenang hingga sosok besar berkaki empat dengan tubuh setinggi lutut mendatangi Gavin.
‘A–Anjing?’ pikir Gavin.
Sosok berkaki empat dengan bulu berwarna putih bagai salju itu menggeram ke arah Gavin, kedua pasang mata mereka saling bertatapan, mata dingin Gavin bertemu dengan mata kuning dengan pupil vertikal.
Itu jelas bukan anjing, itu adalah hewan yang paling berbahaya di hutan saat malam hari, hewan dengan insting berburu mematikan yang dapat menghabisi mangsanya dalam sekali terkaman.
“Sial ... Serigala,” ucap Gavin pelan.
Keringat mulai timbul, perasaan takut mulai muncul, hal ini membuat Gavin dengan perlahan melangkah mundur seraya kedua tangannya di depan dada.
Serigala itu mengikutinya dengan langkah yang mengintimidasi, moncongnya yang dipenuhi gigi tajam dan berliur itu sangat mendominasi situasi.
Grrrr!
Serigala itu terus menggeram kesal, pupil vertikalnya semakin menegang hingga dalam sekali lompatan, serigala itu menerjang Gavin yang sontak terkejut.
Gavin menghindar ke samping kemudian menarik pisau dari sakunya, melayangkan ayunan diagonal di samping serigala tersebut.
Gavin jelas sedikit ragu, alhasil serangannya hanya mampu memotong beberapa helai bulu serigala itu, dalam sepersekian detik kemudian, serigala putih itu kembali melompat.
Gavin yang memantapkan hatinya langsung memasang kuda-kuda, kedua tangannya di depan wajah dengan pisau yang dipegang ke samping.
Dalam sekali dorongan tegas, bilah itu menyambar gigi tajam mengerikan dari serigala. Gavin dengan tenaganya, mengambil tubuh serigala itu dan membanting dengan keras ke tanah.
“Huh?!”
Gavin berniat berlari, tetapi serigala itu nampak mengerang kesakitan.
Kaiiing!
Hati Gavin yang jelas masih memiliki kepedulian terhadap sesama makhluk hidup, langsung mendekati serigala itu dengan perlahan.
Gavin mencoba memeriksa tubuh serigala itu, ternyata Gavin membantingnya tepat menusuk sebuah ranting yang mencuat ke atas, ranting tajam itu menusuk bagian punggung serigala.
“Ah! Ma–Maaf!”
Gavin dengan terburu-buru, langsung menggendong serigala itu dan berlari sekuat tenaga menuju gubuk Argus.
Sesampainya di sana, Argus yang sedang membalut tangannya dengan perban karena latihan berat seharian yang membuat beberapa sayatan pisau mengenainya.
“Pama–”
“Argus, Argus saja, anak sialan!” pekik Argus. “Sudah kedua puluh tiga kali saya katakan!”
Gavin hanya terdiam, kemudian dia menunjukkan serigala yang bernapas berat, hal itu membuat Argus langsung melemparkan perban dan juga beberapa obat herbal serta alat operasi kecil kepada Gavin.
“Obati sendiri,” ucap Argus lalu masuk ke dalam gubuk.
“Pria itu ...” gerutu Gavin kesal. “Ah, lebih baik obati serigala ini dulu!”
Gavin meletakkan serigala itu di atas permukaan alas yang terbuat dari daun pisang yang disusun tebal secara meluas dan merata.
Setelahnya, Gavin mencoba melakukan sedikit jahitan yang membuat serigala itu melolong kesakitan tanpa bisa banyak bergerak karena telah kelelahan dan juga berkurangnya banyak darah.
“Cih, tanpa anestesi, ini menyakitkan!”
Gavin kemudian memberikan sedikit obat herbal dan langsung membalutnya dengan begitu rapi, dililitkannya dari punggung melewati bagian bawah tubuh dan begitu terus berulang-ulang hingga benar-benar tertutupi rapi.
Semua itu dilakukan dalam waktu dua puluh menit yang terbilang cukup cepat dengan alat seadanya. Setelah itu, Gavin mengeluarkan roti lapis dari {Inventaris} dan mengambil isiannya yang adalah daging sapi.
Gavin memberikannya kepada serigala itu, hidungnya nampak mengendus-endus sesuatu, tetapi sepertinya napsu makannya benar-benar menurun.
“Ayolah, kau harus makan, jangan sampai kekurangan energi, darahmu berkurang banyak,” ucap Gavin pelan sembari mengelus bagian bawah moncong serigala tersebut.
“Jangan ribut, saya mau istirahat, besok ada jadwal padat!” teriak Argus dari dalam gubuk.
“Cih, Pak Tua itu!” gerutu Gavin.
“Oh, siapa yang Pak Tua?” tanya Argus dengan nada yang berat dan begitu mengintimidasi.
Bahkan sekelas serigala saja sampai merasakan ketakutan, serigala itu nampak memberontak dengan erangan takut bercampur sakit.
“Bukan apa-apa, hanya nyamuk lewat!” jawab Gavin dengan datar.
***
Keesokan harinya, Gavin yang tertidur di luar gubuk merasakan bulu halus menempel di hidungnya, hingga dia membuka mata, perasaan terkejut tentu ada.
Ekor yang lembut itu mampu membuatnya terkejut hingga bersin, si serigala itu pun yang masih dalam keadaan tertidur juga harus terkejut hingga menggeram kepada Gavin.
“Woo ... Tenang,” ucap Gavin yang sontak berdiri dan mundur perlahan.
Grrrr! Kaiiing!
Setelah menggeram, serigala itu melakukan sikap yang tak cocok dengan tubuh dan wajahnya yang garang, benar-benar bersikap imut dengan mengibaskan ekornya ke kiri dan kanan secara cepat.
“Serigala itu ingin berteman,” ucap Argus yang tiba-tiba berada di samping Gavin sembari membaca secangkir kopi.
“Be–Begitu, ya?”
Argus mendorong Gavin kemudian berkata, “Sana beri dia nama, dia akan setia ke depannya. Serigala itu tahu balas budi.”
Gavin sempat berpikir, balas budi itu tentu ada, tetapi yang membuat serigala itu terluka adalah dirinya juga. Sehingga kapan saja serigala itu bisa mengenali pelaku yang membuatnya terluka akan sangat berbahaya.
“Haaa ... Baiklah, akan kucoba, namamu ...” ucap Gavin yang kemudian berpikir dan mendekati serigala itu serta jongkok di depannya. “Nama yang bagus, hmm ... Fenrir?”
Serigala itu menggeram, nampak tak suka dengan nama yang terkesan aneh hingga Argus sendiri yang biasanya datar dan dingin sampai tersenyum remeh.
Gavin kembali berpikir sembari mengelus-elus kepala serigala putih tersebut. Meski ada sebuah nama yang terbersit, berhubungan dengan warna, tetapi itu terasa kuno –Whitey.
“Ah, bagaimana kalau Vino, gabungan antara Gavin dan Arsenio!”
Si serigala kembali menggeram, nampak tak suka, bahkan langsung menerkam tangan Gavin, beruntungnya tak digigit, hanya benar-benar mengekspresikan ketidaksukaan terhadap nama tersebut.
“Ada kuberi kau nama Ucok, sialan!” seru Gavin yang nampak benar-benar kesal.
“Hahaha! Kamu benar-benar bodoh tentang memberikan nama!” sahut Argus.
“Shiro, apakah itu yang kau mau, pangeran salju?” ucap Gavin yang akhirnya harus mencoba peruntungan dengan nama jejepangan.
Shiro (白) berarti putih dalam bahasa Jepang.
Serigala itu pun melompat dan menjulurkan lidahnya, mata kuning dengan pupil vertikal itu berbinar-binar nampak senang jika mendapatkan nama tersebut.
‘Serigala aneh,’ pikir Gavin.
“Oke, pergi berburu bersama Shiro,” perintah Argus yang membuat sudut bibir Gavin berkedut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments
Ayano
Mama online bangga sama kamu nak 🤧🤧🤧
2023-04-08
1
Ayano
Emang anak mama paling baik dah 😭😭😭
2023-04-08
1
Ayano
Mama di sini nak.
Kamu makan dulu biar kuat
2023-04-08
2