Dua hari sejak Gavin melakukan pelarian, para Pemburu dan para pemerintah sama sekali acuh tak acuh terhadap Gavin saat ini.
Mereka telah berpikir bahwa Gavin telah seutuhnya tewas dalam kecelakaan parah yang memang seharusnya merenggut nyawanya.
Namun, karena sebuah keajaiban, Gavin ditolong oleh seorang pria bertopeng. Pria misterius yang tinggal di tengah hutan.
Kemudian dua pria misterius lainnya yang Gavin juga masih cukup penasaran akan identitasnya tersebut. Rasa penasaran tentu ada, tetapi dia menyisihkan terlebih dahulu untuk mencoba beradaptasi dengan situasi hidup dan mati miliknya.
Gavin dalam dua hari ini, benar-benar mengalami hari yang sangat berat, begitu berat hingga dia merasa lebih baik mati daripada mengalami hal yang sangat berat yang membuat fisik dan mentalnya kapan saja bisa hancur.
Gavin, dilatih oleh tiga pria misterius tentang berbagai macam teknik Kriminal, dari yang paling mendasar adalah cara pengendalian senjata tajam yang bagi mereka Gavin hanyalah anak kucing polos.
“Hei, sudah dua hari, tetapi kau sama sekali tak bisa mengendalikan pisau dengan baik, bakatmu sangat tak cocok di Kriminal,” hina Akira dengan wajah yang menyeringai lebar hingga nampak jahitan di mulutnya mulai tertarik.
Gavin hanya bisa duduk dengan napas yang begitu berat, dia mengusap keringatnya, melihat kondisi tubuhnya yang penuh sayatan dan juga beberapa luka lebam.
“Heh, jika ... Jika Paman Akira tahu saya hanya seorang anak muda Fakultas Kedokteran semester 1,” celetuk Gavin.
“Terus kenapa, huh? Padahal pisau adalah keahlian tersendiri bagi seorang mahasiswa Kedokteran,” cemooh Akira sambil menendang Gavin.
Gavin hanya bisa merintih kesakitan, dia menatap Argus dan Bima yang hanya duduk sambil menyesap secangkir kopi panas di malam yang begitu dingin ini.
“Sial,” umpat Gavin.
Dia beranjak, memegang pisau dengan bilahnya mengarah keluar, kedua tangannya memegang pisau dengan baik, posisi tubuhnya agak menunduk dengan kuda-kuda yang sangat pas.
Sedetik kemudian, Gavin menyerang ke depan ke arah Akira yang berdiri santai, tetapi ayunan lurus Gavin dihindari begitu mudah oleh Akira.
Akira menghindar ke samping sembari menebas tangan kanan Gavin yang menyerang lurus.
“Pengalamanku ... Ayunan pisau harus tegas dan fleksibel!” gumam Gavin. “Tubuh juga harus mengikuti irama gerakan kecil.”
Akira sempat terbelalak, dia lantas melompat dan melakukan tendangan menyamping ke arah datangnya tangan kiri Gavin yang mengayun secara diagonal.
Namun, Gavin tak tinggal diam, dia memutar badannya, melakukan manuver hingga ketika sesaat Akira mendarat, Gavin sudah melayangkan serangan lurus ke depan.
Bilah yang tajam langsung menyayat pipi Akira hingga membuat darah muncrat, sayatannya cukup dalam, sekitar 1 cm.
“Heh. Begitu, ya, cukup bagus,” puji Akira seraya melempar pisau yang dirampasnya dari tangan kiri Gavin.
Gavin jatuh terduduk, dia tak menyangka ketika Akira melempar pisau, benda itu mengikis di samping matanya dan menyayat telinganya.
Gavin ingin merintih kesakitan, tetapi dirinya lebih fokus kepada bagaimana perubahan sikap yang ditunjukkan oleh Akira. Sikapnya terlihat mendominasi, berdiri dengan condong ke depan dan tangan bergelantungan memegang dua pisau dari sakunya.
Mata segelap malamnya menyala disinari cahaya lampu, tatapan dingin itu membuat hati kecil Gavin bereaksi untuk lebih baik menyerah dan jangan melakukan apapun lagi.
“Akira, kau membuat anak itu takut, terlalu keras,” ucap Bima sambil merangkul pundak Akira.
“Ah, saya hanya terkejut, dia bisa menyerangku dengan kombinasi yang baik, dia sudah besar selama dua hari ini,” ungkap Akira sambil menyimpan kedua pisaunya.
“Oke, berarti ... Giliran senjata api lagi, ya?” balas Bima seraya mengambil pistol dari sakunya dan menjilatinya layaknya orang gila.
Gavin yang terduduk, sontak memundurkan tubuhnya, dia merasakan bahaya yang datang mengancam dari Bima, tekanannya benar-benar tak tertandingi.
“Ambil ini, bidik burung hantu yang bertengger empat ratus tiga puluh meter dari sini,” ucap Bima sembari melempar senapan laras panjang berjenis SS3 dengan kaliber 7,62 × 51 mm.
“Bi–Bima, apa tidak apa-apa? Jarak efektifnya hanya empat ratus meter jika hanya menggunakan visir!” seru Argus nampak ragu.
Bima menatap Argus dengan datar, dia melempar senyuman mengejek kemudian berkata, “Baru kali ini kau ragu, Argus.”
Argus hanya bisa berdecak kesal, dia tidak bisa berkata-kata lagi, alhasil Gavin pun segera diperintahkan untuk membidik arah Utara dengan ketinggian derajat sekitar 30 hingga 45 derajat.
“Oke, cari saja, burung itu lagi bertengger santai, jika dia terbang, kau tahu apa konsekuensinya,” ucap Bima dengan kesan misterius.
Gavin saat ini memegang senapan serbu SS3 buatan PT. Pindad yang melegendaris sejak dahulu, sudah berbagai macam versi diciptakan, tetapi versi ini tetaplah legendaris di kalangan tentara.
Tahun 2030 yang seharusnya SS6 dengan segala kelebihannya, masih sedikit kurang daripada SS3 yang katanya senjata terbaik Indonesia hingga saat ini dan masih aktif digunakan oleh tentara di Indonesia.
“Posisikan tubuhmu dengan rileks, jika tangan kanan dominan maka pegang grip serta telunjuk dalam posisi siap tembak pada trigger lalu tubuh sedikit dibungkukkan lalu tangan kiri memegang lurus frame bagian depan,” jelas Bima. “Tergantung kenyamanan!” lanjutnya.
Gavin pun memperagakannya dengan baik, dia sebenarnya sudah cukup terlatih untuk memegang senjata tipe pistol yang lebih ringan dan pendek, hanya perlu memegang dengan kedua tangan, meluruskan kedua tangan ke depan.
Gavin meletakkan jari telunjuknya pada pelatuk, menarik napas dalam-dalam dan mencoba mendeteksi posisi burung hantu yang berada membelakangi arah bidikan Gavin.
Bertengger di atas dahan yang sekiranya sekitar lima hingga enam meter dari atas permukaan tanah, Gavin pun mulai menggerakkan tubuhnya dan menggeser posisi tangan.
Gavin menarik napas panjang, menahannya dengan tenang, mata biru safirnya menyala disinari cahaya bulan, benar-benar menatap dingin bidikannya.
“Hahaha! Itu dia!” seru Bima begitu senang.
“Ukh!” Ketika bergerak sedikit, Gavin merintih kesakitan karena luka-luka di tubuhnya jelas belum sembuh sepenuhnya.
Namun, fokus Gavin kembali ke arah bidikan, dalam sekali tarikan napas, Gavin menarik telunjuknya dengan pelatuknya yang mengikuti.
Efek tolakan membuat Gavin sedikit tersentak ke belakang, tetapi peluru itu telah melesat hingga mengikis sayap burung hantu itu hingga dia terjatuh ke tanah.
“Emmm ...” Bima memicingkan matanya ke arah burung hantu, hingga senyumannya terbentuk. “Bagus untuk sekali coba,” pujinya.
Gavin bernapas lega, dia mengira bahwa dia akan dimarahi atau apapun itu, kemudian dia berkata, “Terus ... Apa lagi? Apa saya harus berlatih lagi semalaman?”
“Terserah, saya mau tidur, aturlah jadwalmu agar efektif,” ucap Argus langsung pergi dari area tanah kosong di tengah hutan tersebut.
Gavin pun hanya bisa menatap langit yang rasanya akan hujan, dia bergumam, “Oh, apakah ini hujan pertama dunia?”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments
Ayano
IH KESEL
MEREKA NGAPAIN ANAK ONLINE KU!!!!
Kalo ampe Gavin kenapa-napa di tempat anta branta itu awas aja ya
Mama onlinenya yang ambil tindakan 😡😡
2023-04-08
2
Ayano
Jangan mo kalah 😤😤
2023-04-08
1
Ayano
Kamu pasti bisa nak
Masih mama dukung 😤😤
Maju nak
Jangan mo kalah
2023-04-08
1