Malam yang mencekam di suatu daerah, asap tinggi membumbung, bangunan rata tanah dan tak ada kehidupan sama sekali.
Di perbatasan antara daerah yang hancur lebur ini dengan daerah yang katanya dalam perjalanan menuju kehancuran juga.
Di sebuah gubuk tua dekat sungai, berada di kaki perbukitan jalanan tol yang menghubungkan antara Kota Garuda dan juga Kota Aezak.
Seorang pemuda terbaring lemah, napasnya menderu berat, terkadang sesekali merintih kesakitan.
Kemudian seorang pria bertopeng langsung segera mengobati beberapa luka pemuda ini yang kembali mengeluarkan cairan berwarna merah.
Gavin, dia adalah pemuda malang yang nampaknya hidupnya tergantung bagaimana penanganan pria bertopeng, itu karena poinnya terus berkurang hingga sekarang menyentuh angka 5.
Namun, dalam waktu sejam kemudian, Gavin mulai merasakan titik balik pada dirinya, poin Kriminalnya meningkat tajam hingga menyentuh angka 50 yang dari angka 1, nyaris tewas!
Penambahan Paksa dan juga hak istimewa langsung berada pada tubuh Gavin hingga dia sekarang benar-benar sadar dan duduk kebingungan.
Di gubuk tua itu, penerangan tak cukup hanya dengan lampu minyak yang dipasang di setiap sudut gubuk. Gavin mengedarkan pandangan hingga dia bertemu pandang dengan pria bertopeng.
Lubang kedua mata pada topeng itu menunjukkan mata sedalam jurang hingga Gavin merasakan kapan saja dia benar-benar akan tersedot ke dalamnya.
“Ah ... Ka–Kamu siapa?” tanya Gavin yang menyiapkan pisau dari {Inventaris} miliknya.
“Tenanglah, anak muda. Saya yang menolongmu dari kemalangan,” ucap pria bertopeng itu dengan suara serak yang begitu berat.
Terasa dari suaranya saja, pria ini benar-benar nampak mendominasi dengan aspek yang jelas menambah karisma gelap bagi pria bertopeng tersebut.
“Di–Di mana ini?” tanya Gavin yang masih begitu ragu untuk melepaskan kewaspadaan.
Pria bertopeng itu berdiri dan mendekati Gavin yang tak bisa berbuat banyak, pria itu menunduk dan meraih dagu Gavin serta mengangkatnya.
Kedua pasang mata mereka bertemu, mata biru safir dan juga mata segelap jurang itu mampu membawa suasana sekitar menjadi mencekam.
“Saya adalah Argus,” jawab Argus seraya melepaskan pegangannya dari dagu Gavin.
‘Dia ... NPC? Tapi terasa seperti manusia asli, ah, ini aneh,’ pikir Gavin.
Argus berjalan begitu tegas menuju lampu minyak yang berada di salah satu sudut gubuk dan mematikannya dengan segera.
Argus segera berkata, “Istirahatlah, anak muda.”
Mendengar itu, Gavin bak tersihir oleh sebuah perkataan yang nampaknya mutlak untuk diikuti tanpa memikirkan apapun lagi. Itu seperti perintah hidup dan mati baginya.
Gavin pun membaringkan tubuhnya dengan perlahan sembari menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya, kemudian setelahnya dia tidur menyamping dengan mata yang fokus ke arah Argus.
Argus duduk di kursi kayu dengan memeluk sebuah bantal yang begitu lusuh, berapa lama kemudian Argus tertidur pulas dengan suara dengkurannya yang muncul.
“Haaa ... Argus, siapa pria ini? Terlalu misterius,” gumam Gavin.
Dia pun mau tidak mau langsung segera menutup matanya hingga kesadarannya memasuki alam mimpi.
***
Pagi yang begitu cerah, tetapi tak secerah orang-orang yang mendapatkan kabar bahwa populasi Kota Garuda menghilang dalam sekejap karena sebuah ledakan dahsyat.
Populasi keseluruhannya sudah menyentuh paling tidak 250.000 sekian, ini sangat berkurang banyak sejak seminggu dimulainya Penghakiman Dunia.
Tak ada yang bisa berbuat banyak, orang-orang hanya bisa mencoba mengendalikan diri mereka dalam proses panjang beradaptasi, hingga berangsur-angsur mereka mulai memahami bagaimana cara bertahan hidup dengan damai di dalam tekanan tersebut.
Di sebuah gubuk tua, seorang pria bertopeng segera membangunkan Gavin yang tertidur cukup pulas.
Namun, ketika pria bertopeng itu ingin memegang tangan Gavin, sontak Gavin bergerak dan langsung mengayunkan pisau yang semalaman ini terus dipegangnya tanpa ragu.
Ayunan pisau itu mampu membuat sebuah kesan bahwa ini adalah ayunan dalam keadaan bahaya. Pria bertopeng bernama Argus itu menepis tangan Gavin.
Pisau itu terlempar, tetapi Gavin hanya bisa merintih kesakitan ketika tangan kanannya dari pergelangan ke jari-jarinya mati rasa dan tak bisa digerakkan.
“Sial,” umpat Gavin.
“Hati-hati dengan pisau itu, anak muda. Sini tanganmu,” ucap Argus yang langsung menarik tangan kanan Gavin.
Kemudian, Argus kembali menebas tangan itu dengan ayunan tegas tangannya, perlahan aliran darah ke tangan kanan Gavin mengalir hingga bisa kembali dirasakan dan digerakkan.
“Hmm ... Paman Argus, sebenarnya anda siapa?” tanya Gavin yang benar-benar penasaran.
Dalam gim ini, kita sebagai pemain bisa mengidentifikasi seorang pemain lainnya dari bagaimana mereka berkomunikasi dan juga memiliki emosi yang bagi NPC sangat jarang mereka miliki.
Namun, di depannya ini, komunikasi Argus sangat baik, emosinya cukup tersampaikan, emosi di mana aura gelapnya sangat kental membuat Gavin hanya bisa menenggak ludahnya secara kasar.
Di satu sisi, ciri dari NPC benar-benar terasa kuat dari Argus, yaitu kekuatannya fisiknya yang benar-benar seperti tak terbatas tersebut.
“Saya? Hmm ... Entahlah, tapi tak usah pikirkan itu, ayo ikuti saya!” jelas Argus yang langsung pergi keluar gubuk.
Gavin pun menuruni tempatnya berbaring kemudian berjalan keluar gubuk, dari dalam cukup nyaman, tetapi ketika melihat kondisi di luar, kayu atau bambunya seperti benar-benar rusak.
Lingkungan gubuk itu juga sangat kotor dengan berbagai semak belukar yang mampu menggores tubuh jika dipaksakan jalan di dekatnya.
“Kamu lihat itu?” tunjuk Argus menuju ke atas perbukitan.
“Itu jalan tol?” balas Gavin mengikuti arah jari Argus.
Argus mengangguk ringan, dia kemudian mengajak Gavin dengan isyarat untuk semakin memasuki area hutan tanpa peduli beberapa hewan liar.
Gavin mengikuti Argus, dia juga telah melihat pakaiannya yang kotor dengan beberapa bercak yang telah mengering. Pakaiannya sepertinya harus benar-benar diganti.
“Pakaianmu, biarkan saja dulu, ikuti saja saya!”
Gavin terkejut, apa yang dipikirkan olehnya seperti dapat ditebak oleh Argus. Hal ini membuatnya semakin penasaran siapakah Argus yang misterius tersebut.
“Oke, kita sampai, beri salam kepada teman-temanku,” ucap Argus.
Gavin pun mengedarkan pandangannya hutan yang padat tadi, tiba-tiba ada sebuah tanah lapang yang berdiameter cukup besar, kemudian ada dua pria asing yang terlihat misterius layaknya Argus mendekati Gavin.
“Saya Bima,” ucap seorang pria bertopeng setengah wajah, menunjukkan mulutnya yang nampak robek hingga ke pipi dan telah dijahit.
Seorang pria lagi mendekati Gavin, dia memakai jaket yang kerahnya menutupi mulutnya, wajahnya cukup terlihat tampan dengan tatapan dingin nan datar tersebut. Mata segelap malamnya menatap lekat Gavin.
“Saya Akira.”
“Ah, per–perkenalkan, saya Gavin Arsenio,” ucap Gavin.
“Kamu masih muda, tetapi sepertinya terlalu berat menangani mereka.” Akira angkat suara, dia menunjukkan mulutnya yang dijahit, tetapi masih bisa untuk dipakai berbicara.
Gavin tak habis pikir, tiga pria misterius benar-benar mengisi otaknya, dia mencoba berpikir hingga sejauh mungkin apa yang sebenarnya terjadi kepada ketiganya.
Sepertinya, tiga pria itu mengalami suatu peristiwa yang mengharuskan mereka seperti saat ini, tatapan mata mereka juga sangat dingin dengan mata yang bagai sedalam jurang itu.
“Y–Ya, terus ... Apa yang harus saya lakukan?”
“Kau, belajarlah teknik dari kami, buat Bagaskara sialan itu menanggung rasa sakit kami!” ucap Argus yang membuka topengnya dan menunjukkan wajahnya yang seperti menghitam karena terbakar.
“Teknik ... Bagaskara ... Mereka ini siapa?” gumam Gavin.
“Teknik di mana kamu bisa menangani Bagaskara,” lanjut Akira.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments