Dunia yang tak ada bedanya dengan dunia luar, di mana orang-orang memakai topeng wajah palsu, mereka yang terlihat baik belum tentu demikian, begitu pun sebaliknya.
Di dunia ini, satu kalimat saja bisa mengubah pandangan mereka kepada seseorang, kesalahan itu adalah dosa besar bagi mereka, kesombongan, ketamakan, kemarahan, hawa nasfu, iri hati, kerakusan dan kemalasan adalah bagian dari diri mereka.
Begitulah yanh terjadi sekarang, meski banyak orang yang telah beradaptasi di dunia aneh itu, tetapi sebagian dari mereka sama sekali tak membuang salah satu dari 7 dosa mereka, bahkan menimbulkan dosa baru.
Dunia yang kelam, tentu kegelapan akan mengiringinya hingga kepada kehancuran dunia itu sendiri, tergantung bagaimana kondisinya kelak.
Saat ini, Gavin yang melepas 7 dosa besar miliknya dan mengatakan pada dirinya sendiri untuk menghilangkan kemanusiaan demi tujuan baik miliknya, semua itu terjadi begitu cepat.
Gavin yang telah sampai di rumah miliknya segera masuk ke dalam bersama Shiro dan juga dua mayat wanita, dia tak segan-segan menyuruh Shiro untuk membersihkannya dengan memakannya.
“Hahaha! Hidup kalian terlalu bodoh, wanita pemuaa hawa nafsu tidak keren sama sekali!” ucap Gavin diiringi tawa puas miliknya.
Gavin melepas topengnya dan meletakkan di atas meja, kemudian merebahkan tubuhnya di sofa miliknya.
Menutup matanya, Gavin memasuki alam bawah sadarnya yang telah begitu gelap dengan bayangan hitam mendominasi ruang.
Alam bawah sadar yang begitu suram dan benar-benar tak layak untuk dinikmati, tetapi Gavin hanya tersenyum melihat betapa buruknya dirinya saat ini yang telah melepas kata kemanusiaan.
Satu kalimat penuh, menghabisi orang yang tak berperikemanusiaan dengan juga tak berperikemanusiaan, begitulah prinsip aneh Gavin yang telah dia cetuskan hingga saat ini.
“Duniaku benar-benar, ya, terlalu kelam dan aneh, hahaha!”
Sorot mata biru safirnya benar-benar menjadi momok menakutkan di tengah kegelapan yang menyeruak tanpa batas, sinar mata birunya begitu mendominasi dan menggetarkan jiwa dan raga.
***
Aiiing~!
Gavin terbangun ketika Shiro mencoba memberikan sebuah tanda, entah itu raungan ketakutan atau gonggongan biasa saja dari seekor serigala hutan yang menawan.
Shiro nampak panik dan terus menggeram ke arah pintu depan rumah, sorot matanya menunjukkan betapa pentingnya apapun itu yabg yang ada dibalik pintu.
Gavin beranjak sembari memegang tegas pistol miliknya, menodongkan moncongnya ke depan dengan waspada, sorot mata biru Gavin benar-benar serius dan tak bisa diganggu lagi.
Gavin mengintip dari balik jendela, di depan pintu ada beberapa orang yang nampaknya sedang berbincang, dua pria dan seorang wanita.
“Siapa mereka?” Gavin bermonolog.
Dia pun mulai menajamkan indera pendengarannya, menempelkan telinga di daun pintu dan mencoba mendengar perbincangan macam apa yang mereka lakukan.
Meski nyaris tak terdengar, tetapi samar-samar suara mereka tertangkap oleh gendang telinga Gavin.
“Hei, di sini kah rumah yang anda bilang ada aroma aneh?” Terdengar samar-samar suara pria dewasa.
“Iya, Pak! Aromanya menyengat, saya dari seberang apartemen dapat merasakannya, seperti darah tapi ... Entahlah.” Balasan dari seorang wanita yang bersuara lemah lembut nampak panik.
‘Ah, setelah kupikir-pikir memang ada aroma aneh, apa ini? Masa mayat beraroma seperti ini,’ pikir Gavin sambil menengok mayat kedua wanita yang tersisa tulang belulang.
Krieett~!
Gavin terkejut ketika Shiro melangkah dan membunyikan lantai papan yang jelas saling bersinggungan.
Sontak dari arah luar, teriakan seorang pria langsung menyadarkan Gavin. “Hei, siapa di dalam? Bisa keluar sebentar?!”
Gavin pun hanya bisa menghela napas panjang, Shiro terlalu ceroboh untuk sejenis serigala yang seharusnya mewaspadai seluruh gerakannya.
Gavin membuka pintu dan menatap rendah dua pria yang sepertinya adalah seorang Pemburu, kemudian Gavin memindahkan tatapannya kepada seorang wanita cantik berambut hitam panjang.
“Siapa, ya?” ucap Gavin mencoba berpura-pura untuk bingung.
“Kami mendapatkan laporan dari warga, katanya ada aroma ... Ah! Semerbak bunga! Ini semakin terasa!” seru seorang pria yang nampaknya memiliki jabatan lebih tinggi dari pria satunya.
“Boleh kami masuk?” sahut pria yang satunya sambil menunjukkan lencana Pemburu.
“Hei, ini sudah malam, dan jangan ganggu privasi milik saya!” ucap Gavin sambil memberikan tatapan tajamnya.
Kedua Pemburu itu saling melirik dan langsung menerjang ke arah Gavin tanpa aba-aba, keduanya langsung menjatuhkan tubuh Gavin ke lantai dan memborgol kedua tangannya ke belakang.
“Anda mengganggu pemeriksaan!”
Grrrr~!
‘Habis sudah mereka,’ batin Gavin sambil melihat Shiro sedang memasang kuda-kuda untuk menerkam.
Kedua Pemburu yang belum menyadarinya pun terkejut ketika terkaman dari Shiro, salah seorang di antara mereka langsung digigit pada bagian leher oleh Shiro tanpa ampun hingga terkoyak-koyak.
Tewas seketika, Pemburu lainnya hanya terduduk dengan ketakutan, berdiri saja sangat tidak memungkinkan hingga Shiro langsung maju dan menerkam Pemburu itu hingga tewas.
Sedangkan wanita berambut hitam panjang pun juga terduduk dengan tubuh gemetaran hebat, rasa takut benar-benar mendominasi rasa rasionalitas miliknya.
Wanita itu ingin berteriak, tetapi sama sekali tak bisa, perasaannya menggebu-gebu tentang rasa takut yang benar-benar menjatuhkan mentalnya.
“Uh ... Ukh ...”
Gavin berdiri dengan susah payah, kemudian dia mengambil kunci borgol yang tergeletak di sampingnya, membukanya dengan sedikit sulit, akhirnya terbuka juga.
Gavin melempar borgol itu dan menatap sengit wanita yang benar-benar gemetar ketakutan, hanya bisa bernapas panjang, Gavin berjongkok dan mengelus kepala Shiro untuk menenangkannya.
“Hei, kamu. Mulutmu bisa dikunci?” ucap Gavin dengan nada pelan serta tersenyum tipis penuh misteri.
Wanita itu refleks menggeleng, Gavin sontak menarik paksa wanita itu dan mendudukkan di kursi kayunya kemudian diborgol serta ditutup mulutnya menggunakan lakban.
Gavin menyeret dua mayat Pemburu menuju halaman belakang, memberikan aroma pupuk yang sangat besar sehingga semerbak bunga pun hilang.
‘Semerbak bunga yang pernah kurasakan, kalau tak salah Higanbana. Bunga dari Jepang yang identik dengan kematian, dasar Bagaskara kekanak-kanakan!” ucap Gavin sambil memberikan tahap terakhir untuk menghilangkan semerbak yang jelas akan memancing orang lain lagi.
Setelah itu, Gavin kembali masuk ke rumah dan menatap sengit wanita yang melaporkan aroma aneh keluar dari rumahnya.
Wanita itu gemetar ketakutan menatap mata biru safir Gavin yang begitu dingin dan mendominasi.
“Hmm ... Mmmh!”
“Aku lepas, jangan berteriak atau peluru ini bersarang di kepalamu!” jelas Gavin sambil melepas rekatan lakban dari mulut wanita itu.
“Dasar brengsek!” seru wanita tersebut sembari meludah ke samping.
“Hahaha! Wanita jala–” Gavin ingin meneruskan, tetapi menurutnya sebutan itu terlalu kejam bagi wanita yang belum diketahui identitasnya tersebut dan apa maunya.
Gavin menyentuh pelan pipi wanita tersebut kemudian turun ke dagunya, mengangkatnya dan segera mendekatkan bibirnya ke arah bibir wanita tersebut.
Semakin dekat dan semakin dekat, kedua bibir mereka pun saling melekat, butiran air mata keluar dari wanita itu diiringi erangan nikmat.
“Hahaha, nikmat, 'kan?”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments