Gavin mengendarai motornya membelah jalanan kota yang semakin ramai saja dengan orang-orang yang berlalu-lalang.
Adaptasi manusia itu adalah yang tercepat daripada makhluk hidup lain, maka dari itu mereka untuk sementara waktu mencoba beradaptasi dalam kondisi tertekan seperti ini.
Gavin singgah di salah satu kios, dia berniat membeli sebatang rokok. Satu hal yang pasti, karakter dalam Roleplay World Online memiliki tingkat stres yang bisa diatur.
Pengaturan tingkat stres, bisa menggunakan rokok, atau beberapa hal lain yang membuat nyaman, semisal melakukan hal-hal tak suci, itu salah satunya.
Namun, Gavin masihlah pemuda berusia 18 tahun yang tak ingin pedangnya terasah kepada tameng asing. Dia ingin mencari wanita yang sehidup semati, memiliki kemampuan sederhana yang tak menyombongkan diri, mau menerima apa adanya seorang pria.
“Fyuuuh ... Merokok di dunia maya sangat berbeda, aku bukan orang yang baik-baik juga di luar, tapi begitulah,” gumam Gavin sembari menatap langit yang cukup cerah.
Tring!
Ponsel pintar Gavin berdering, dia yang selesai menghisap rokoknya segera membuangnya dan langsung menjawab panggilan dari Deny.
“Ada apa, Den?”
“Vin! Max, teman kita yang kaya raya itu juga terjebak! Dia sekarang menuju ke sini setelah dia sempat menanyai tentang siapa yang menerbitkan iklan, aku komentar dan memberikan nomorku secara pribadi,” jelas Deny.
Sudut bibir Gavin berkedut, dia ingin sekali berteriak, tetapi situasi sekitar tak memungkinkan karena begitu banyak orang, yang ada malah dia akan dicurigai sebagai orang yang tak benar.
“Akh, bodoh, intinya aku akan ke sana!” pekik Gavin.
Gavin menaiki motornya dan menarik gas begitu dalam, dia melajukan motor begitu lihai, bermanuver indah melewati beberapa kendaraan lainnya.
“Anak itu, dia memberitahu lokasi tanpa tanya-tanya dulu, jangan Max datang dengan orangnya, bisa gawat, apalagi perannya jelas misterius!” gerutu Gavin yang kesal dengan sikap ceroboh Deny.
Gavin menyadari, Maximus itu adalah pemuda yang seangkatan dengannya dan juga Deny, tetapi terkadang hubungan ketiga saling bersitegang, dan tentu sebelum kejadian ini, Gavin bahkan sudah bersitegang cukup besar dengan Maximus.
“Deny sialan! Selepas ini aku akan berikan tata cara hidup di dunia yang kapan saja bisa mati ini!”
Gavin sudah melewati berapa kali nyaris mati saat pengujian beta setahun lalu, rasa kematian di dalam gim ini cukup realistis, rasa kesakitan dan juga mental karakter akan teruji.
Hal ini membuat gim ini menjadi salah satu gim terbaik, tetapi ketika kejadian ini, posisi respek khalayak ramai menurun drastis.
“Sial, kekhawatiranku benar-benar mengerikan!” ucap Gavin setelah melihat dua mobil hitam berada tepat di depan rumah persembunyiannya bersama Deny.
Tanpa menurunkan kaki motor, Gavin melompat dan melepas begitu saja motor tersebut hingga bertabrakan dengan mobil sedan hitam yang sedang terparkir.
Dengan sikap yang waspada, Gavin mengeluarkan pistol dari {Inventaris} miliknya, pistol yang berada pada kelas berat, yaitu Desert Eagle.
“ARRGHHH!!!”
Teriakan menggelegar dari dalam rumah, dengan cepat Gavin menendang pintu rumah yang tertutup dan menodongkan pistol begitu tegas dengan posisi layaknya sudah sangat terlatih.
Di ruang utama, seorang pemuda berambut acak-acakan dengan mata hitam segelap malam menatap tajam kedatangan Gavin, tangan kanannya yang memegang pisau berada sangat dekat dengan leher Deny.
Deny yang terduduk lemah dengan tubuh penuh luka, hanya bisa tersenyum pasrah kepada Gavin yang datang.
Sementara itu, tiga orang pria dewasa juga lantas menodongkan senjata api laras panjang, benar-benar tertekan antara hidup dan mati.
“Max, apa-apaan kau?!” teriak Gavin begitu menggelegar.
“Hahaha! Ternyata Deny ... Dan si tengil Gavin yang mencariku, kalian sangat tak tahu bahwa situasi sekarang sangat berat, bukan?” ejek Maximus dengan mata yang seakan ingin keluar dari tempatnya.
“Kau, teman yang gila, selemah itu kah mentalmu mengatasi itu semua? Mana ayahmu yang kaya raya itu, heh?” hina Gavin tanpa mengendorkan kewaspadaannya.
“Kau brngsek!”
Srat!
Sayatan kecil membuat Deny bergetar hebat, perasaan dingin menjalar ke seluruh tubuh, rasa sakit mulai benar-benar mematahkan semangat kehidupannya.
“Kau tahu? Aku berperan sebagai Kriminal di sini, oh, apa kau ... Pemburu macam ayahku?!”
Gavin jelas terkejut, suatu kehormatan baginya bisa bertemu sesama Kriminal, hanya saja, Kriminal di depannya membahayakan teman satu-satunya disaat dia susah maupun senang.
[Adrenalin Karakter Gavin Arsenio memuncak, kapan saja bisa meledak!]
[Peringatan!]
Gavin acuh tak acuh terhadap informasi dari sistem gim itu, dia lebih mementingkan keadaan saat ini yang seperti berpacu dengan waktu.
‘Sial, tiga pria, memegang masing-masing senapan laras panjang berjenis AK-47, terlalu mengerikan! Jari mereka benar-benar siap di pelatuk!’ pikir Gavin.
Gavin menarik napas, dia mengarahkan moncong pistol ke arah kepala Maximus yang membuat Maximus merasa terancam kehidupannya.
“Max, aku tahu, aku akan menjadi Kriminal sesungguhnya, tapi ... Tak ada cara lain, kau sudah menyimpang, padahal kau walaupun menyebalkan, tetapi masih bisa tersenyum bersama teman-temanmu yang baru saja lulus bersama,” ungkap Gavin dan menyiapkan telunjuknya di pelatuk.
Maximus berniat menghindari todongan senjata Gavin, tetapi refleks Gavin mampu menandinginya dan langsung menembakkan sebutir peluru ke arah kepala Maximus.
Setelah itu, tanpa menunggu efek keterkejutan tiga pria lainnya yang saat ini sempat terhenyak, Gavin langsung berlari dan melakukan manuver.
Dia menarik tubuh pria terdekatnya dan lantas menjadikannya tameng sembari menarik pelatuk senapan laras panjang AK-47 milik pria itu ke arah dua pria lainnya secara cepat.
Kejadian itu berlangsung cepat, dalam sekali tarikan napas, empat orang tumbang di tangan Gavin yang saat ini berdiri dengan pandangan kosong.
“Sial, kemampuan ini ...”
Sementara itu, Deny yang sedari tadi telah tak sadarkan diri, untuk saat ini Gavin menganggap bahwa aksinya tadi tak diketahui siapapun itu.
“Haaa ... Tingkat stresku bertambah drastis, rasanya pusing dan ... Mual,” gumam Gavin.
Dia menatap keempat orang yang telah perlahan menjadi butiran cahaya biru yang melayang hingga seluruhnya menghilang, kecuali beberapa barang dari {Inventaris} yang akan terjatuh saat kematian terjadi.
“Sial, mereka punya barang terlarang, barang mengerikan itu!” celetuk Gavin setelah melihat sebuah serbuk putih yang sudah dikemas untuk pengedaran.
Gavin, dengan tubuh yang sempoyongan, meninggalkan rumah itu sembari memapah Deny yang masih tak sadarkan diri.
Keluar rumah, Gavin menuju salah satu mobil sedan di sana, dengan kelihaian jari-jarinya, Gavin dengan tepat memasukkan mobil itu ke dalam asetnya melalui fitur gim yang tersedia.
[Membunuh sesama Kriminal, poin Kriminal ditambahkan +40]
[Total poin Kriminal adalah 55!]
“Membunuh dapat sepuluh, ya?” gumam Gavin, pandangannya sekarang kosong.
Mata birunya seperti tidak ada kehidupan, tetapi dia masih ingin menolong temannya dari trauma berat yang terjadi dengan segera membawanya ke rumah sakit yang tersedia.
“Hanya empat saja, tidak lebih.” Gavin bermonolog, dia berpikir untuk jangan lagi membunuh nyawa manusia sampai gim berakhir.
Namun, siapa yang tahu, Gavin adalah pemuda yang kepribadiannya kapan saja bisa berubah seiring waktu dan kondisi yang memaksa kehendak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments
Ŕæýhæń Æŕť
semangat thor
2023-04-04
1
Ayano
Sudah kuduga poinnya gede banget kan 🤣🤣. Emang kelas kriminal dasar
2023-04-04
1
Ayano
Auto mati kalo meledak 😥. Kau harus lakukan sesuatu Gavin
2023-04-04
1