“Lu–Luka tusuk di bagian perut sebelah kiri!” seru seorang dokter.
‘Baiklah, apakah aku yang baru menjalani semester satu di Fakultas Kedokteran akan mampu membantu mereka?’ batin Gavin.
Para dokter senior dan beberapa perawat memasuki ruang penanganan, di sana mereka akan melakukan penanganan pertama pada pasien.
“Perawat Naura! Korban ditusuk memakai pisau apa?!” seru seorang dokter dengan wajah panik.
“Ka–Katanya saat keadaan sedang kacau di alun-alun Garuda, dia ditusuk oleh orang tak dikenal menggunakan pisau yang biasa sering digunakan untuk sashimi!”
“Ah! Dok, tekanan darahnya 60! Sebentar lagi tak bisa terdeteksi!” seru seorang perawat lainnya.
Gavin yang menyimak itu pun sedikit menganggukkan kepalanya, dia cukup paham setelah menonton banyak rekaman dari dokter ahli di luar negeri dan juga dalam negeri saat itu sebelum Penghakiman Dunia.
“Lakukan intubasi trakea kemudian CT-Scan, kita harus tahu seberapa dalam pisaunya menusuk!”
Gavin terkejut, hingga dia tanpa sadar berteriak keras, “Jangan! Jangan lakukan itu!”
“Kenapa?!! Kau pemagang diam saja, sialan!” pekik seorang dokter sembari menunjuk Gavin.
“Maaf,” –Gavin melihat tag nama– “Dokter Cahyadi, saya tidak bisa membiarkannya seperti itu! Berbahaya, poinnya saat ini tak memungkinkan!”
Gavin lantas langsung membuka kemeja pasien yang terbaring itu dengan kasar, menunjukkan sebuah memar pada dada kiri.
“Jangan bilang ... Tamponade Jantung!!” pekik Dokter Cahyadi.
Tamponade Jantung adalah kondisi jantung yang tertekan karena darah mengumpul di antara otot jantung dan selaput jantung.
“Ah, saya akan melakukan puncture, tolong siapkan ultrasound dan spinal needle.” Dokter Cahyadi dengan wajah yang mulai berkeriput nampak panik.
Puncture adalah memasukkan jarum yang tengahnya berlubang untuk mengeluarkan cairan dari dalam tubuh. Spinal needle adalah jarum untuk mengambil cairan tersebut.
“Dok, poin pasien terus berkurang, sekarang ... Sekarang tersisa lima!!!”
“Sial, saya tahu itu, saya hanya terjebak dalam dunia ini, cuma pria biasa yang paham akan hal ini, karena anak saya dokter sesungguhnya!” ungkap Dokter Cahyadi.
“Tak peduli kalau dokter itu orang biasa dan anak anda dokter, cepat lakukan!” pekik Gavin yang terbawa suasana.
Situasi di ruang penanganan benar-benar tak kondusif, kelimpungan pun terjadi membuat rumah sakit yang memang sedang ramai karena banyak korban berjatuhan semakin ramai saja.
“Oke, 45 derajat sebelah kiri xiphoid process, atau tulang rawan ekstensi di bagian bawah sternum!” gumam Dokter Cahyadi yang langsung menusuk secara pelan spinal needle.
Beberapa detik kemudian, cairan darah yang mengumpul pun terhisap keluar oleh spinal needle, tekanan darah yang sempat turun pun kembali normal dalam sekejap.
“Oke, CT akan dijalankan–”
“Hmm ... Maaf menginterupsi, tapi lihat ini Dokter, saya mengusap luka sayatan pisau dan tidak ada darah yang menempel!” Gavin sekali lagi mencoba untuk menginterupsi.
“Anak magang, kau itu anak fakultas kedokteran?!” tanya Dokter Cahyadi.
“Yap, semester pertama dan sudah mengamati beberapa rekaman ahli,” ungkap Gavin.
“Huh! Saya tidak menyadarinya, ini syok hipovolemik!”
Syok hipovolemik adalah ketidakmampuan jantung memasok darah yang cukup ke tubuh akibat adanya kekurangan volume darah.
Darah yang dipasok dari penanganan ini pun tiba-tiba muncrat keluar dari luka sayatan pisau, dengan cekatan Dokter Cahyadi menutupinya dan menekannya.
“Siapkan meja operasi!!!” teriak Dokter Cahyadi. “Haaa ... Sial, jika anakku, dia akan cepat bereaksi,” gumamnya.
Gavin pun bersama beberapa dokter serta Dokter Cahyadi sendiri langsung bersiap untuk melakukan operasi dengan tempo yang cepat.
“Haaa ... Tak kusangka ilmu dari anakku akan saya gunakan saat ini dalam keadaan kegilaan karena Penghakiman Dunia, dan juga melakukan operasi di dunia maya,” gumam Dokter Cahyadi yang sementara mencuci tangan.
“Dok, kita harus kuat, meski anda bukan dokter sesungguhnya, tapi ... Nyawa pasien ini ada kepada kita,” jelas Gavin.
Seluruh persiapan selesai, saat ini pasien telah dibaringkan dengan rapi dan siap untuk dilakukan pembedahan.
“Dokter anestesi, ah, Dokter Cipto, lakukan anestesi tora ... Tora ... Ah, torakotomi, obat etomidate!”
“Baik, Dok!” Dokter Anestesi Cipto pun melakukan apa yang memang seharusnya dia lakukan.
“Mari mulai, setelah dibersihkan bagian perut dan dada, kemudian drab,” jelas Dokter Cahyadi.
Drab adalah kertas peeling yang digunakan untuk mencegah infeksi di bagian yang dioperasi.
“Pisau elektrik, Rio, siap-siap suction sebelum uapnya masuk ke hidung saya!”
Gavin menganggukkan kepalanya dan menyiapkan perlatan suction, atau metode penghisapan.
“Tarik selaput perut dan ...”
Dokter Cahyadi bekerja dengan cekatan, melakukan gerakan tangan yang lihai membuat Gavin merasa takjub kepada seseorang yang hanya diajarkan oleh anaknya.
“Oh, pantas bisa berdarah banyak, salah satu syaraf arteri limpa putus,” ungkap Dokter Cahyadi. “Ikat ini, Dokter Dedi!” titahnya.
Dokter Dedi mengerjakan tugasnya dengan baik, mengikat dengan rapi hingga prosesnya berjalan dengan lancar.
“Oke, mengendalikan pendarahan limpa selesai, kita ke dada, Dok!” seru Gavin dengan antusias.
“Haaa ... Anak muda sepertimu yang terjebak di dalam gim tidak bisa belajar banyak lagi untuk saat ini, nyawa kita tergantung keberuntungan!” jelas Dokter Cahyadi.
***
Sekitar satu setengah jam kemudian, operasi pasien berjalan sukses, hal ini benar-benar membawa pola pikir baru tentang gim yang benar-benar nyaris menyentuh kenyataan.
“Fyuh ... Kalau dada pasien kena hantaman lebih keras lagi, dia datang bukan Tamponade Jantung, melainkan jantung bocor,” ucap Dokter Cahyadi dengan lega.
Dokter Cahyadi kemudian menatap Gavin, dari matanya memperlihatkan bahwa ada secercah harapan datang dengan keberadaan Gavin yang bagai malaikat tersebut.
Keduanya duduk di depan ruang ICU, hal ini karena masih ingin menjamin keselamatan pasien yang poinnya perlahan naik dengan teknik Penambahan Paksa.
“Dok, saya berpikir, dunia sekarang ini lebih baik. Mungkin satu hingga dua bulan ke depan, orang-orang sudah bisa beradaptasi,” ucap Gavin.
“Saya tahu, ini adalah proses panjang mengendalikan diri, anak muda macam kamu mana paham, kemampuan beradaptasi tergantung situasi. Proses inilah yang akan membawa pada situasi damai atau bisa jadi kacau!” jelas Dokter Cahyadi.
Gavin menjadi sangat penasaran akan masa lalu Dokter Cahyadi sebelum dia terjebak dalam gim antara hidup dan mati ini.
“Dari matamu, kau penasaran, 'kan?”
Gavin hanya bisa terkekeh canggung, ekspresinya masih begitu mudah ditebak, hal ini membuat Gavin akan berwaspada ke depannya.
“Anak saya dokter di sebuah rumah sakit di Jayakarta, dia itu salah satu dokter terbaik Indonesia, bernama Rendy Juliansyah.”
“Begitu, ya ... Lebih baik anda tidak perlu membeberkan masa lalu atau identitas anda, ini masalah orang-orang yang lalu-lalang dan juga aturan dunia,” ucap Gavin pelan.
Dokter Cahyadi hanya tertawa, dia pun menepuk-nepuk punggung Gavin dengan pelan sambil memberikan sekaleng minuman untuk Gavin.
“Proses panjang pengendalian dirimu akan dimulai sekarang, anak muda,” tutur Dokter Cahyadi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments
Ayano
Itu tau. Makanya jangan galak galak
2023-04-06
1
Ayano
Etdah bro... anak gue itu woi.
😡😡. Gak tau aja anak online yang satu itu masuk daftar kriminal calon OP
2023-04-06
1