Bab 20 – Hilangnya 100% Emosi

Drek! Drek! Drek!

Di sebuah koridor rumah sakit, brankar di dorong begitu cepat dengan beberapa dokter dan juga perawat, wajah mereka begitu panik ditambah ramainya rumah sakit yang agak mengganggu mereka.

“Mohon minggir!”

Di atas brankar tersebut, seorang pemuda terbaring begitu lemah dengan tubuh yang gemetar hebat, napasnya terasa sangat berat sehingga dia membuka terus mulutnya.

Pemuda itu adalah Gavin, semua kejadian ini bermula disaat otaknya dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan yang sangat aneh.

Sejam sebelumnya.

Di ruangan tempat Gavin berada, dia saat ini sedang duduk termenung tanpa memikirkan hal-hal yang aneh, dia hanya terus terdiam.

Dia yang awalnya berbaring, memilih untuk duduk saja karena berbaring membuatnya merasa lemah, maka dari itu dia memilih duduk untuk mencoba menenangkan jiwa dan raganya yang terlihat sangat rapuh.

“Apa yang kau takutkan?”

“Hah! Si–Siapa di sana?!” seru Gavin yang langsung mengedarkan pandangannya, mencoba mencari asal suara.

Suara yang begitu berat dengan intensitas tinggi, sangat mengganggu, tetapi di satu sisi rasa penasaran amat dalam yang membuat Gavin beranjak dari duduknya dan berdiri waspada.

“Apa yang kau takutkan?”

Kembali sebuah suara yang begitu berat menghantuinya, Gavin merasa sangat aneh dengan suara yang jelas pertama didengarnya, tetapi terasa familier.

“Apa yang kau takutkan, Gavin Arsenio?”

Sakit yang amat dalam tiba-tiba menghantam kepalanya, telinganya berdengung begitu keras hingga mengeluarkan darah segar.

Gavin jatuh terkapar, tetapi mencoba untuk bangkit sambil terus mendengar suara samar-samar yang cukup mengerikan dan terus menghantam indera pendengarannya.

“Bagaimana jika manusia-manusia yang kamu bunuh mendatangimu?”

“Dunia tak adil, bukan?”

“Apa yang kau takutkan?”

“P-U-T-R-I A-Y-U, Putri Ayu, bukan?”

Gavin berdiri, dia langsung menendang brankar miliknya dan terus berteriak keras, kepalanya seakan tercabik-cabik oleh sesuatu yang sangat tajam.

Gavin berjalan sempoyongan sembari mengacak-acak rambutnya, dia menariknya begitu keras hingga rasa sakit itu bahkan sama sekali tak terasa, beberapa rambut mulai tercabut dari akarnya.

Sementara itu, suara yang semakin berat terus terdengar samar-samar, Gavin semakin mengamuk, dirinya bahkan menghantamkan kepalanya ke tembok.

“AAARRRGHHH!!! KELUAR KAU!!!”

“Mengapa harus keluar? Aku 'kan dirimu.”

Mata Gavin bergetar hebat, ketika dia berkedip dan membuka kelopak matanya kembali, sesosok anak kecil sedang menunduk di depannya muncul.

Anak kecil itu nampak bersedih, tetapi senyuman tipisnya membuat Gavin terhenyak seketika, hingga ketika anak kecil itu mendongakkan kepalanya, kedua pasang mata sama warna saling bertemu.

Anak kecil itu tersenyum begitu mengerikan, senyumannya bahkan benar-benar lebar hingga tak bisa berkata-kata lagi untuk dalam penalaran analogi.

“Kenapa ... Kenapa kau membuang masa lalumu dengan memainkan ini?” Anak kecil itu bersuara begitu parau.

Gavin melangkah mundur hingga menabrak tembok, kedua tangannya nampak terus menghalau pandangannya terhadap anak itu yang lama kelamaan semakin mengerikan dan begitu menghancurkan mentalnya.

“Kenapa, apa masa lalumu begitu ‘indah’? Hihihi!”

Tiba-tiba saja, dalam pandangan Gavin, dunia seakan meleleh dengan cairan hitam dan merah saling bercampur.

Gavin menunduk ke bawah dan melihat kakinya yang secara perlahan tenggelam di sebuah kubangan cairan merah, dia meronta-ronta ketakutan dan terus berteriak.

Namun, sama sekali tak ada respons, dunia di pandangannya pun semakin meleleh hingga menelannya perlahan demi perlahan.

“Tidak~ A–Aku ... Aku takut, ARRRRGHHHH!!!”

Drap! Drap! Drap!

Suara langkah kaki yang begitu ramai terdengar, pintu ruangan yang tadinya seperti meleleh tiba-tiba kembali seperti semula dan sementara terbuka memperlihatkan para dokter yang panik.

Dunia juga perlahan kembali ke semula, tersisa Gavin yang gemetar hebat dengan mulut terbuka hendak mencari napas, tangannya terus bergerak ke sana ke mari menyentuh apapun itu.

“Aerrghhh!! Tinggalkan aku! Nama itu, nama brengsek itu!”

Gavin benar-benar hancur kali ini, mentalnya sangat jatuh ditambah ketakutan terhadap sebuah nama yang menambah kengerian baginya pribadi.

Gavin dinaikkan di atas brankar, diikat menggunakan sabuk yang memang tersedia di brankar, dan dia segera didorong ke ruang penanganan.

Ketika memasuki ruangan penanganan, sebuah mesin yang sangat besar telah tersedia dan segera tubuh Gavin dimasukkan ke dalam hingga seluruhnya masuk, mesin itu pun ditutup.

“Lakukan sokongan hidup lebih baik, tambah beberapa obat penenang! Lihat data grafik otaknya!”

“Obat penenang dimasukkan!”

“Da–Data grafik otaknya berantakan, ini ... Di dunia sekarang dan juga dunia luar otaknya benar-benar mengalami kehancuran mental!”

“Lakukan penanganan intensif!”

Seluruh dokter berusaha sebaik mungkin, hingga seorang di antara mereka pun mengusulkan untuk melakukan pencucian otak demi menjaga kesenjangan di antara sel-sel otak.

Dengan melakukan pencucian otak, maka pikiran Gavin akan terjaga dan bahkan pikiran kelam dan suram miliknya bisa dihilangkan dalam seketika.

“Lakukan! Buat 60% penghilangan ingatan yang membuat otaknya berantakan secara alami!”

Dalam prosesnya, dua jam melakukan hal-hal yang di dunia luar jelas belum pernah ada metode seperti itu, tetapi saat ini Gavin mengalami masa-masa sulit yang benar-benar menghancurkan hidup damainya.

Gavin terus dilakukan penanganan, prosesnya begitu lama hingga para dokter sendiri merasa sangat jenuh dan juga sedikit kesal karena metode ini juga memakan rasa kemanusiaan mereka sendiri terhadap sesama makhluk hidup yang seharusnya memiliki hak pribadi dalam meniti jalan takdir.

Namun, satu hal yang pasti, Gavin perlahan tenang dan data grafik otaknya mulai konsisten dengan gelombang yang cukup dalam posisi aman, meski begitu ingatannya belum benar-benar diobrak-abrik.

Ketika para dokter dan beberapa ilmuan mencapai tahap akhir, sebuah kesalahan fatal bagi mereka karena alat yang seharusnya hanya sedikit memodifikasi ingatan kelamnya, malah menghancurkan suatu hal yang wajib bagi manusia.

“Ja–Jangan begitu! Lakukan pengulangan metode!”

“Ti–Tidak bisa, Prof! Otaknya telah memakan habis tahap akhir itu dan dalam proses adaptasi sel!”

“Matikan ... Matikan mesinnya!”

Drrr!

Mesin itu bergetar hebat, bahkan secara insting para dokter dan orang-orang yang menangani itu menjauh, mereka juga mengalami apa yang namanya rasa takut dari sebuah ancaman membahayakan nyawa pribadi.

Ngiiiing~!

Suara yang begitu memekakkan telinga, seluruh telinga orang-orang dalam radius belasan meter mengeluarkan darah, teriakan kesakitan benar-benar menggema di lantai penanganan tersebut.

Hingga mesin itu pun mati total dan terbuka secara otomatis, dari dalam mesin, Gavin telah sadar sepenuhnya dan langsung merangkak keluar mesin.

Dia berdiri, di telinganya penuh teriakan, tetapi wajahnya bahkan dirinya sama sekali tak merasakan apa yang harusnya manusia rasakan saat sebuah situasi mengerikan terjadi.

“Ah ... Semakin kosong saja,” celetuk Gavin sambil menatap kedua tangannya. “Tak ada yang kurasakan sekarang, semakin ... Kosong.”

Terpopuler

Comments

Ayano

Ayano

Kenapa anak gue jadi kek tikus laboratorium gini 😭😭😭😭


Mama sedih banget kamu jadi begini nak
Mama minta maaf ya 😭😭😭😭

2023-04-11

1

Ayano

Ayano

EBUSET
ANAK GUE KENAPA ITU WOOOI 😱😱😱😱

2023-04-11

1

Ayano

Ayano

Bener kan, berasa feel creepy dan ngenesnya.


Kamu yang sabar nak 😭😭😭

2023-04-11

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 01 – Roleplay World Online [Fase 01 Dimulai]
2 Bab 02 – Penghakiman Dunia
3 Bab 03 – Bersama Deny
4 Bab 04 – Mencuri Perhiasan NPC
5 Bab 05 – Theo Si Pembeli Barang
6 Bab 06 – Hanya Empat Saja, Tidak Lebih
7 Bab 07 – Berpisah
8 Bab 08 – Kota Garuda
9 Bab 09 – Proses Panjang Pengendalian Diri
10 Bab 10 – Aliansi Pemburu Garuda
11 Bab 11 – Pelarian
12 Bab 12 – Tiga Pria yang Misterius
13 Bab 13 – Pelatihan
14 Bab 14 – Teman Serigala
15 Bab 15 – Hilangnya Kemanusiaan
16 Bab 16 – Tenggelamnya Cahaya, Terbitnya Kegelapan
17 Bab 17 – Semerbak Bunga Higanbana dan Wanita Aneh
18 Bab 18 – Gelombang Rasa Ketakutan
19 Bab 19 – Gejolak Besar
20 Bab 20 – Hilangnya 100% Emosi
21 Bab 21 – Sebuah Takdir Kejam [Fase 01 Berakhir]
22 Bab 22 – Deny, Si Pemburu Polos [Fase 02 Dimulai]
23 Bab 23 – Kemanusiaan itu Utama
24 Bab 24 – Pencuri yang Familier
25 Bab 25 - Keraguan Deny
26 Bab 26 – Dukungan dari Nanda
27 Bab 27 – Proses Pendewasaan
28 Bab 28 – Dunia yang Keras!
29 Bab 29 – Dentuman dan Gelombang Berbahaya!
30 Bab 30 – Permainan Pikiran Deny
31 Bab 31 – Merasa Aman dan Kabar Baik
32 Bab 32 – Pembalap Liar Kriminal
33 Bab 33 – Rasa Penasaran Deny
34 Bab 34 – Bertemu Gavin, Berbeda Pihak!
35 Bab 35 – Bertemu Walikota Aezak, Adiwiyata.
36 Bab 36 – Keputusan Berat Deny
37 Bab 37 – Deny Dewantara [Fase 02 Berakhir]
38 Bab 38 – Deklarasi Perang [Fase 03 Dimulai]
39 Bab 39 – Gerakan Kecil Gavin
40 Bab 40 – Hari Terakhir Kekuasaan Adiwiyata
41 Bab 41 – Konfrontasi Dua Daredevil
42 Bab 42 – Pelarian yang Mendebarkan
43 Bab 43 – Theo Si Pembeli Barang (2)
44 Bab 44 – Orang Misterius
45 Bab 45 - Malam Penuh Aksi
Episodes

Updated 45 Episodes

1
Bab 01 – Roleplay World Online [Fase 01 Dimulai]
2
Bab 02 – Penghakiman Dunia
3
Bab 03 – Bersama Deny
4
Bab 04 – Mencuri Perhiasan NPC
5
Bab 05 – Theo Si Pembeli Barang
6
Bab 06 – Hanya Empat Saja, Tidak Lebih
7
Bab 07 – Berpisah
8
Bab 08 – Kota Garuda
9
Bab 09 – Proses Panjang Pengendalian Diri
10
Bab 10 – Aliansi Pemburu Garuda
11
Bab 11 – Pelarian
12
Bab 12 – Tiga Pria yang Misterius
13
Bab 13 – Pelatihan
14
Bab 14 – Teman Serigala
15
Bab 15 – Hilangnya Kemanusiaan
16
Bab 16 – Tenggelamnya Cahaya, Terbitnya Kegelapan
17
Bab 17 – Semerbak Bunga Higanbana dan Wanita Aneh
18
Bab 18 – Gelombang Rasa Ketakutan
19
Bab 19 – Gejolak Besar
20
Bab 20 – Hilangnya 100% Emosi
21
Bab 21 – Sebuah Takdir Kejam [Fase 01 Berakhir]
22
Bab 22 – Deny, Si Pemburu Polos [Fase 02 Dimulai]
23
Bab 23 – Kemanusiaan itu Utama
24
Bab 24 – Pencuri yang Familier
25
Bab 25 - Keraguan Deny
26
Bab 26 – Dukungan dari Nanda
27
Bab 27 – Proses Pendewasaan
28
Bab 28 – Dunia yang Keras!
29
Bab 29 – Dentuman dan Gelombang Berbahaya!
30
Bab 30 – Permainan Pikiran Deny
31
Bab 31 – Merasa Aman dan Kabar Baik
32
Bab 32 – Pembalap Liar Kriminal
33
Bab 33 – Rasa Penasaran Deny
34
Bab 34 – Bertemu Gavin, Berbeda Pihak!
35
Bab 35 – Bertemu Walikota Aezak, Adiwiyata.
36
Bab 36 – Keputusan Berat Deny
37
Bab 37 – Deny Dewantara [Fase 02 Berakhir]
38
Bab 38 – Deklarasi Perang [Fase 03 Dimulai]
39
Bab 39 – Gerakan Kecil Gavin
40
Bab 40 – Hari Terakhir Kekuasaan Adiwiyata
41
Bab 41 – Konfrontasi Dua Daredevil
42
Bab 42 – Pelarian yang Mendebarkan
43
Bab 43 – Theo Si Pembeli Barang (2)
44
Bab 44 – Orang Misterius
45
Bab 45 - Malam Penuh Aksi

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!