Pagi hari yang indah di Kota Aezak, tak seindah perasaan semua orang yang hanya bisa pasrah dengan keadaan dan mencoba beradaptasi dengan baik demi menunjang kehidupan mereka sendiri.
Saat ini, Gavin dan Deny sedang duduk santai di teras rumah kayu milik Gavin, mereka menyesap secangkir kopi panas.
“Ada juga indera pengecap, ya, kopi buatanmu pahitnya minta ampun!” seru Deny.
“Yee, bikin aja sendiri kalau banyak maunya,” ketus Gavin sembari memalingkan wajahnya.
“Eh, ja–jangan gitu, aku hanya bercanda,” ucap Deny dengan cepat.
Sementara itu, semilir angin pagi membuat keadaan cukup menyegarkan, keduanya cukup damai untuk hari pertama Penghakiman Dunia.
Menurut informasi yang beredar di jejaring sosial In-Game, sudah banyak orang yang tewas dalam sehari, sekitar 7.890 orang.
Hal ini tentunya Gavin dan Deny sayangkan, sepertinya pembantaian di alun-alun pusat Kota Aezak adalah insiden yang tak akan pernah dilupakan banyak orang. Ribuan orang meregang nyawa dalam sehari saja.
“Kita harus waspada, para Kriminal tak tanggung-tanggung kalau berbuat, apalagi kalau otak mereka sudah terkontaminasi bagaimana nyamannya menjadi Kriminal,” jelas Gavin kepada Deny.
Deny menganggukkan kepalanya dengan paham, hingga sebuah kalimat dari Deny membuat Gavin sedikit tersentak kaget.
“Kriminal, bagaimana jika gim ini selesai, apakah mereka akan masuk penjara nantinya?”
Gavin mencoba tenang, dia pun sempat berpikir demikian, tetapi satu hal yang tak dapat disalahkan kepada para pemain adalah mereka yang berjulukan “Korban” tak bisa diadili sedemikian rupa.
Apa yang Gavin pikirkan tentu hanya hipotesa atau kesimpulan sementara miliknya, kesimpulan ini bisa berubah kapan saja tergantung bagaimana selesainya gim ini nantinya yang jelas masih akan sangat lama.
“Oh, bagaimana dengan tubuh kita, ya, pasti perlu makan, minum atau bahkan buang air besar maupun kecil,” ucap Deny masih penasaran.
“Pastinya kita akan dipindahkan ke fasilitas memadai, kurasa begitu, aku yang tinggal hanya berdua dengan adik berusia 10 tahun berharap apa sebenarnya,” ungkap Gavin dengan nada sedih.
“Ah, Nathan, ya? Dia itu cerdas, pasti dia akan meminta bantuan kok!” harap Deny mencoba menaikkan perasaan Gavin.
“Semoga saja,” sambung Gavin yang langsung menenggak kopinya dalam sekali tegukan.
Deny menatap bingung, dia pun bertanya, “Mau ke mana kau, buru-buru gitu.”
“Kerja, cari uang untuk kehidupan karakter ini, haha!” terang Gavin yang langsung masuk ke dalam rumah.
Deny hanya bisa bernapas lega, pikirannya begitu jauh, mencoba mencari ketenangan pada pagi hari ini, hingga dia menemukan sedikit pencerahan tentang keadaan saat ini.
“Vin, kau tahu Maximus?” tanya Deny.
“Tahu, anak orang kaya itu yang katanya ayahnya salah satu anggota pengembang Triple-A, pengembang dari gim ini,” jelas Gavin dari dalam rumah.
Gavin pun tiba-tiba keluar dan segera menghampiri Deny, kemudian berkata dengan cepat, “Anak itu! Kalau dia juga terjebak, kita dapat bantuan! Katanya karakternya orang kaya juga, lumayan, 'kan minta uang darinya!”
“Idemu brilian, tapi mencari dia di tengah ratusan ribu manusia itu gila!” sanggah Deny yang membuat Gavin menyadarinya.
Gavin pun terduduk lemah, dia masih berpikir untuk mencari banyak uang, lagipula jika dia menjual perhiasan semalam, paling mahal hanya terjual sekitar satu hingga dua juta saja, tak cukup untuk persediaan jangka panjang.
Deny berdiri, kemudian mengambil sebuah kerikil dan melemparnya ke udara dengan teriakan kekesalannya. Ini adalah bentuk ekspresif yang seharusnya wajib di tengah kata Penghakiman Dunia.
“Kita buat iklan pencarian di jejaring sosial, Blue Bird Apps!” usul Gavin mendapatkan ide.
“Boleh juga, kita gunakan semaksimal mungkin fitur itu, aku harus Log-in Blue Bird Apps dulu sih.”
Akhirnya keduanya pun berkutat dengan ponsel pintar masing-masing yang memang sejak pembuatan karakter telah ada perlengkapan awal.
Gavin dan Deny dalam sepuluh menit terakhir pun menyelesaikan pendaftaran Blue Bird Apps, dan dengan segera ribuan notifikasi dari beranda bermunculan, banyak akun yang mencari atas nama berbagai macam orang.
Ada juga yang berkelit dengan kekesalan mereka. Terlalu natural, hal ini membuat Gavin dan Deny sontak tertawa sejenak atas kekacauan Blue Bird Apps.
Meski sudah disediakan U-Tube, tetapi banyak dari mereka lari ke Blue Bird Apps karena lebih memadai untuk berkomunikasi secara luas.
“Buat seperti mereka, kita harus mencari Maximus!” seru Deny dengan semangat.
Gavin pun membuat sebuah informasi tentang pencarian seorang pemain bernama Maximus Jaya, seorang pemuda berusia 18 tahun.
Baru saja diterbitkan, ratusan komentar memenuhinya, hal ini dengan cepat Gavin atur komentar, yaitu satu akun hanya bisa memberikan satu komentar dalam jangka waktu dua jam.
Sontak isi komentar pun sepi, hanya beberapa dari mereka yang juga bertanya-tanya tentang teman atau bahkan keluarga mereka, di mana keberadaan mereka.
“Ya sudah, kau kalau mau lakukan apapun, terserah, aku masih memilih kerja dulu deh, ini kunci cadangan rumah ini,” jelas Gavin.
“Yoi, aku masih mau fokus ke ponsel ini, dan fitur lainnya yang disuguhkan, lagipula uang awal gim ku masih sekitar Rp 500.000, masih cukup lah untuk seminggu ke depan,” jawab Deny.
‘Asal kau tahu, biaya hidup di gim ini disetel dengan begitu ketat dan tinggi, kau akan tercekik dengan pembayaran makan sehari saja,’ batin Gavin.
Gavin pun menaiki motornya menuju salah satu rumah toko di tempat yang cukup terpencil, tempat ini adalah tempat pegadaian gelap milik Theo.
“Kuharap, benar-benar berharap Pak Theo juga ikut terjebak, dia pasti akan kasih bonus,” gumam Gavin.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, Gavin yang melajukan motornya di ramainya jalan, lalu-lalang pemain dan juga banyak NPC, Gavin sampai di sebuah gubuk yang terlihat kapan saja bisa roboh.
“Pak Theo, jus alpukat tambah coklat satu!” ucap Gavin di sebuah lubang pengeras suara yang terhubung ke dalam gubuk tersebut.
“Ah, ternyata Gavin! banyak yang ke sini, saya bunuh, mereka terlalu ganas!” seru Theo dengan mata merah menyalanya, bercak darah masih terdapat di pipinya.
“Ayolah, nilai buronanmu di kantor pusat Pemburu pasti akan terus naik,” celetuk Gavin. “Oh, iya, aku mau jual ini,” sambungnya sembari menunjukkan perhiasan emas berbentuk kalung.
“Wah, dua juta!” jawab Theo sembari menutup pintu setelah Gavin masuk.
“Tiga juta, Pak,” tawar Gavin mencoba menambah jumlahnya.
Theo yang bertubuh kekar dengan rambut putihnya duduk, aura dominasi keluar, kemudian senyuman seringai membuat Gavin sedikit mundur ke belakang.
“Saya tidak akan tertipu seperti pengujian beta setahun lalu, anak tengil,” sindir Theo sambil menyalakan sebatang tembakau.
“Ah, sudahlah, takut juga aku dengan keganasanmu, baiklah, dua juta akan kulepas,” ucap Gavin sembari duduk di hadapan Theo.
“Oke, akan kuberikan, ini dua juta pas, mana benda itu?”
Keduanya pun bertransaksi dengan puas, Gavin mendapatkan Rp 2.000.000,00 secara cepat, dengan begitu dia memiliki tingkat hidup yang tinggi untuk sebulan lebih ke depan.
Theo si Pembeli Barang pun juga merasa puas, kalung emas itu akan berharga di tangannya.
“Aku pergi, Pak Theo!”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments