Gavin melajukan mobil yang dia ambil hak miliknya dari orang-orang sebelumnya, di tengah kota yang semakin ramai saja.
Entah bagaimana, tetapi jika dakam kalkulasi GPS dari gim itu sendiri, bahwa waktu tempuh yang bisa dicapai dari rumah sebelumnya ke Rumah Sakit Pusat Aezak sekitar 30 menit.
Namun, dengan kelihaian Gavin melajukan mobil tersebut, waktu tempuh terpangkas menjadi 15 menit saja. Cukup cepat untuk saat ini yang dirinya kapan saja bisa lepas kendali karena mentalnya.
Sampai di lokasi, Gavin berteriak kepada dokter dan perawat yang ada, kekhawatirannya menjadi lebih naik ketika saat Warga Biasa yang berprofesi sebagai Dokter mendiagnosis bahwa jika beberapa milimeter lagi sayatan itu terbuka, Deny akan tewas.
“Bantu!”
“Turunkan pasien, saya akan mencoba menahan darah yang merembes keluar, pasien cukup parah!”
“Anda tunggu saja, kami akan berusaha sebaik mungkin sebagai Dokter yang masih hidup saat ini,” jelas seorang dokter.
Gavin menganggukkan kepalanya paham, dia tahu, dia sangat tahu bagaimana profesi seorang Dokter yang terkadang berpacu dengan waktu.
“Tahan, Dok, Poin pasien tersisa dua!!!”
Gavin terkejut ketika Warga Biasa yang berprofesi sebagai Perawat mengatakan demikian. Sebagai Warga Biasa yang bertugas membantu siapapun, mereka bisa melihat Poin seorang pemain.
Meski keterangan selanjutnya macam Poin Kriminal atau Poin Pemburu tak diteruskan, hanya tertulis Poin dalam daftar diagnosa mereka.
“Deny, separah itu kah Max menyayatmu?!” gumam Gavin.
Gavin berdiri dengan panik di depan ruang Instalasi Gawat Darurat, ini sebagai pertolongan pertama pada seorang pasien yang membutuhkan pertolongan, jika tak memungkinkan dilakukan di ruangan tersebut, maka jalan satu-satunya pindah ke ruang operasi.
Gavin menunggu dengan khawatir, beberapa pemain atau bahkan NPC cukup penasaran apa yang terjadi saat itu, tetapi mereka lebih memilih kepentingan pribadi daripada penasaran dengan urusan orang lain.
Sekitar sepuluh menit, dokter yang menangani Deny saat berlari menuju IGD keluar dari ruangan tersebut dengan wajah yang berseri-seri.
“Haaa ... Aman, poin pasien bertambah seiring proses Penambahan Paksa dari pihak kami,” jelas dokter tersebut.
Dokter dengan rambut hitam berponi terbelah, wajahnya cukup tampan, perkiraan usia sekitar 30 tahunan. Gavin pun mendekati sang dokter.
“Dok, hmm ... Sekiranya, siapa nama yang berusaha sebaik mungkin terhadap teman saya ini?”
“Oh, saya Bambang Subagyo, dokter yang iseng bermain gim ini, tetapi malah ikut terjebak,” jelas Bambang.
“Ah, ta–tak usah dijelaskan serinci itu, hmm ... Saya Gavin,” sanggah Gavin merasa tidak nyaman.
Bambang hanya tersenyum, dan mengajak Gavin untuk duduk terlebih dahulu ke kursi pengunjung, di sana dia akan sedikit menanyai beberapa pertanyaan tentang bagaimana bisa Deny seperti itu.
“Bagaimana bisa teman kamu seperti itu?”
“Ka–Kami diserang Kriminal,” ungkap Gavin yang tak membeberkan keseluruhan kejadian.
“Pisau, pasti pisau dengan ketajaman yang baik, harga itu sangat mahal, nyaris sejuta.”
“Ah, aku mendapatkan pisaunya, mereka ... Mereka melarikan diri.”
Gavin mengeluarkan pisau yang sempat dia simpan pada {Inventaris} miliknya, menunjukkan pada Bambang.
“Wah, baiklah, kamu kirim saja ke Markas Pusat Pemburu Aezak, mereka akan mencari Kriminal itu.”
Percakapan keduanya pun berakhir setelah Gavin diizinkan untuk melihat keadaan Deny yang perlahan berangsur-angsur pulih kembali.
Gavin berada di samping brankar Deny, beberapa alat medis masih menempel di tubuh Deny, benar-benar sangat realistis untuk penanganannya.
Sementara itu, sayatan di lehernya pun sudah terjahit dengan rapi, cukup cepat untuk ditangani hanya di ruangan Instalasi Gawat Darurat saja, padahal seharusnya itu bisa masuk meja operasi jika dalam keadaan genting.
Namun, Gavin hanya bisa menghela napas lega atas semua yang terjadi, tetapi dia juga tak ingin kejadian ini menimpa teman satu-satunya yang ada disaat susah maupun senang.
Deny sudah dia anggap seperti saudara sendiri, dengan itu, Gavin menguatkan tekadnya untuk meninggalkan Deny apapun konsekuensinya.
Berdekatan dengan dirinya yang seorang Kriminal tak membuat kesempatan hidup Deny semakin tinggi, bahkan bisa saja menurun drastis karena Kriminal jelas akan menghadapi banyak bahaya.
Gavin meninggalkan catatan di samping bantal brankar Deny, dia juga menitip pesan kepada Dokter Bambang bahwa dia akan pergi menjauh dari Deny.
Dokter Bambang hanya bisa mendengar keputusan itu, dia tak bisa menginterupsi, lagipula firasatnya mengatakan bahwa pemuda bernama Gavin itu pemuda yang tidak baik-baik saja.
Firasatnya mengatakan secara jelas, kemungkinan terbesar bahwa Gavin adalah Kriminal yang tidak ingin melepas rasa kemanusiaannya dan masih cukup merasa damai dengan kehidupan yang berbahaya.
“Kamu, mungkin firasat saya, tapi ini akan menjadi rahasia saya sendiri jika benar, menurut saya, kamu itu Kriminal,” bisik Bambang ketika Gavin ingin segera pergi.
Gavin langsung menjauhi Bambang, perasaan waspada pun naik ke tingkat tinggi. Pandangannya menatap setiap inci Dokter Bambang.
“Melihat sikapmu seperti itu, ya, kurasa benar. Saya akan simpan ini rapat-rapat, tapi saya sarankan jika pemuda seperti kamu ingin menyelesaikan gim ini, maka selesaikan lah dengan rasa kemanusiaanmu,” jelas Bambang sembari berbalik kemudian mengangkat tangan kanannya dan melambaikannya.
Gavin pun hanya bisa terdiam, dia merasa bahwa peran ini benar-benar berat untuk dalam keadaan nyata yang bisa merenggut kapan saja nyawa seseorang. Ini adalah gim kematian!
“Ya, sepertinya aku harus menyendiri, melakukan tugas-tugas gila ini sendirian, jangan membahayakan siapapun,” gumam Gavin dan berbalik meninggalkan ruangan Deny.
Gavin dengan tekad kuatnya, berpisah dengan Deny, mencoba mengambil jalan yang tentu akan banyak mengundang marabahaya, ini tergantung bagaimana dia mengatasinya sebagai seorang Kriminal dalam dunia Roleplay World Online.
Mentalnya diuji saat ini, layaknya bom waktu, dia kapan saja akan meledak dan tak terkendali hingga mampu menghabisi tanpa belas kasihan.
Memikirkan itu semua, Gavin sangat tak ingin hal itu terjadi, sungguh, dia sangat bersungguh-sungguh atas tekadnya dalam menyelesaikan gim ini dengan mementingkan rasa kemanusiaan, tetapi masih dengan caranya sebagai Kriminal.
“Aku memiliki firasat, kita berdua akan bertemu, tetapi ... Beda posisi, aku menantikan itu, benar-benar menantikannya,” gumam Gavin yang mengendarai mobilnya menjauh dari Rumah Sakit Pusat Aezak.
Sementara itu, di ruang Instalasi Gawat Darurat, Deny yang sudah siuman dipindahkan ke ruang perawatan, dirinya cukup bingung, tetapi mengingat banyak yang terjadi, tak terasa bulir air mata menetes.
“Aku membahayakan Gavin, karena kecerobohanku, dia ...”
Deny tersadar, Gavin sama sekali tak ada, hal itu pun langsung mengundang pertanyaan dalam benaknya.
“Hmm ... Suster, ada teman saya?”
“Teman? Oh, maksud kamu pemuda berambut coklat dan bermata biru itu? Dia pergi, katanya ingin menjauh darimu.” Seorang perawat yang terlihat memiliki kantung mata menjawab begitu ketus.
“Heh, huss! Perawat Casandra, jangan seperti itu!” seru seorang dokter.
“Saya Bambang, dokter di rumah sakit ini, anak muda itu mengambil jalan takdir yang berbeda,” jelas Bambang.
Deny pun termenung, sehari bersama Gavin di dunia maya memang membuatnya merasa menjadi beban, dirinya yang pemain baru, pasti akan menjadi beban bagi pemain penguji beta.
“Baiklah, aku akan mengambil jalan takdir yang juga berbeda, sebagai Pemburu terbaik dari Aezak,” tutur Deny begitu yakin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments
Ayano
Calon calon rival kah ini?. Kita liat nanti 😏😏😏
2023-04-05
2
Ayano
Dan saya pikir anda itu peramal 🙄
2023-04-05
1
Ayano
Bukti bakalan OP😏😏😏
2023-04-05
1