Malam yang begitu dingin di dunia, hujan yang tak berhenti-henti membuat orang-orang hanya bisa terus menghela napas di dalam rumah persinggahan mereka, kabut semakin tebal menutupi jarak pandang.
Hujan yang mampu membawa kesadaran bagi setiap orang bahwa dunia ini benar-benar kenyataan yang tak berujung.
Kenyataan itu jelas akan terus menjadi sesuatu yang mampu menyalahkan aturan apapun dari dunia yang konstan dan terus berjalan seiring waktu.
Di sebuah gubuk tua di dalam hutan, seorang pemuda saat ini sedang menatap kosong ke depan dan benar-benar tak berniat untuk keluar gubuk.
Dia bersama seekor serigala putih hanya terduduk di atas dipan kayu memandang tiga pria dewasa yang terkapar tak berdaya.
“Tanpa pecahnya mereka menjadi cahaya, sepertinya dunia ini menjadi aneh,” gumam Gavin.
[Membunuh Pemburu, poin Kriminal ditambahkan +40]
[Total poin Kriminal adalah 90!]
“Lambat, tapi aku apresiasi sistem gim ini.”
[Pembaharuan Dunia, Sistem Pecah Cahaya dihilangkan dan membuat fitur yang membiarkan mayat tak pecah menjadi cahaya, membuat mayat melakukan pembusukan seiring waktu!]
Gavin hanya bisa terus menatap informasi yang masuk lewat layar hologram pemberitahuan global, itu diterbitkan sejak sejam setelah kejadian dia membunuh empat Pemburu.
“Dunia semakin aneh.”
Aiing!
Shiro menatap Gavin dengan mata berbinar, nampak meminta makanan yang membuat Gavin hanya bisa menggerutu.
“Alah, serigala sialan, sana buru makananmu sendiri!”
Shiro pun langsung keluar gubuk di tengah hujan yang perlahan mulai reda, Gavin pun memikirkan tiga pria yang mendidiknya beberapa hari ini untuk dilakukan penguburan.
***
Dua jam sejak Gavin menggali sendirian lubang dengan alat seadanya, akhirnya tiga pria yang mendidiknya dengan tegas dibaringkan dengan posisi berbaris.
Setelahnya, Gavin menutupinya, sebelum itu ada sedikit penghormatan kepada mereka-mereka yang telah mengajarkan dirinya layaknya guru.
Aiing!
Shiro mendatangi Gavin dengan moncong yang berlumuran darah, Gavin tersenyum dengan begitu maniak ketika melihat darah segar dari moncong Shiro.
Mata biru safirnya menyala disinari cahaya bulan purnama, saat itu juga Gavin merasakan gejolak besar dari dalam tubuhnya yang membuat Shiro bahkan mundur ketakutan.
“Dunia sialan, aku ... Aku akan menyelesaikannya sesuai bagaimana peranku, Kriminal,” ucap Gavin begitu mengintimidasi.
Gavin pun masuk ke dalam gubuk, mengambil mantel kulit milik Argus dan juga topeng berwarna putih dengan corak mata dan mulut berwarna hitam, terlihat wajah yang tersenyum cukup mengerikan.
“Topeng yang kau buat entah bagaimana, akan kupakai sekarang,” ucap Gavin pelan yang kemudian memakai topeng tersebut.
Topeng itu adalah ciptaan Argus, dalam seharian dia terus berkutat di dalam gubuknya dan tidak ada yang boleh memasuki gubuknya walaupun itu Gavin.
Gavin keluar dari gubuk, menatap malam yang telah cerah kembali dengan jutaan bintang menghiasinya.
“Oke, Kota Aezak adalah tujuanku selanjutnya untuk ... Mencari Pemburu sialan itu!”
Gavin pun mengajak Shiro untuk menuju sungai yang berada di kaki bukit jalanan tol, di sana dia akan mencoba mendaki bukit tersebut yang kemiringannya mencapai 60 derajat.
Mendaki di malam yang begitu gelap, hanya ada cahaya rembulan yang temaram menghiasi senyuman palsu dari topeng milik Gavin.
Shiro juga sedang berusaha mendaki bukit itu dengan menggigit beberapa tumbuhan menjalar sebagai tumpuannya.
Tiga puluh menit berjibaku dengan situasi tersebut, Gavin yang terengah-engah di pinggir jalanan tol hanya bisa melihat lalu-lalang kendaraan. Pagar pembatas tol yang ditabraknya tempo hari masih rusak.
“Shiro, sembunyi dulu, nanti akan aku jemput kalau misalkan aku dapat tumpangan!” ucap Gavin sambil mengelus kepala Shiro.
Gavin yang sedang duduk di pinggiran pagar pembatas sembari menghisap rokoknya, didatangi oleh sebuah mobil sedan yang tentu penasaran dengan keberadaan Gavin di sana.
“Hei, ngapain?” Seorang wanita dengan berpakaian kantor menanyainya dari dalam mobil dengan membuka jendelanya.
“Oh, aku dibegal dan hanya bisa meratapi nasib,” balas Gavin dengan suara yang terasa parau.
“Topeng ... Kenapa kamu memakainya?”
‘Wanita memanglah wanita, banyak tanya,’ batin Gavin yang hanya bisa bersabar untuk akting miliknya ini.
Gavin beranjak dan membuang rokoknya ke samping, dia berjalan hingga bersandar di jendela mobil tersebut, meletakkan tangannya di atap mobil sambil membuka sedikit topengnya.
Dia menunjukkan setengah bagian kanan wajahnya, mulut yang ditekuk layaknya bersedih.
“Ah ... Hmm ... Kamu naik aja, ayo, saya anterin!”
Gavin hanya bisa menghela napas sembari memasang kembali topengnya, di dunia yang berbahaya ini, untuk sekelas wanita sungguh berani menerima orang asing di mobilnya.
“Oke kalau itu yang wanita baik ini mau,” ucap Gavin.
Dia pun memutari mobil dan langsung masuk lewat pintu sebelahnya, duduk dengan tenang sembari mengulum senyuman seringai.
‘Aroma alkohol dan ... Amis darah?’ batin Gavin seraya melirik cermin bagian tengah mobil.
“Oke, ayo!” ucap wanita itu dengan semangat. “Namaku ... Anna,” lanjutnya dengan genit.
Gavin sangat ingin tertawa dengan puas, pikirannya langsung ternodai dengan beragam macam hal yang seharusnya pemuda seusianya tak terlalu memahami masalah tersebut.
Gavin menahan tawanya, hingga mobil itu berjalan pelan di jalan tol. Gavin kemudian berkata, “Saya Nio, saya harus memanggil apa nih?”
“Hahaha! Pemuda yang sopan, panggil saja Anna!”
Gavin pun mengangguk paham yang kemudian dari lirikan matanya menangkap kilauan alumunium di kursi belakang.
‘Pisau,’ pikir Gavin.
“Hei, Nona. Tolong menepi sebentar, saya merasa mual,” ucap Gavin.
“Oh, oke!”
Wanita itu dengan mudahnya terperdaya, yang kemudian dengan cepat Gavin ketika mobil itu menepi langsung menodongkan pisaunya ke leher Anna.
“Jangan bergerak, Nona Anna,” ucap Gavin pelan.
Anna hanya diam, dia tersenyum, tetapi Gavin dengan cepat bergerak yang jelas tak terpikirkan oleh Anna, Gavin langsung menahan tangan yang hendak menerjangnya dengan mata pisau menghunus ke depan menggunakan tangan satunya.
“Komplotan Nona-Nona girang! Hahaha, di dunia yang seperti ini masih ada juga kalian!”
Gavin langsung menekan pisaunya hingga menusuk leher Anna, kemudian tangan satunya dengan cepat memutar pergelangan tangan wanita lainnya yang bersembunyi di belakang jok yang didudukinya.
Malam yang cerah itu menjadi suram ketika teriakan kesakitan dari wanita yang dipelintir tangannya oleh Gavin, sebelum kematian menghampirinya ketika Gavin menarik pisaunya yang tadi dan ditusuknya ke belakang.
“Cih, mau main aman, tapi harus kotor lagi!” gerutu Gavin sambil menyibakkan pisaunya ke kursi.
“Oke, Nona Anna, kau ke belakang dulu, ya!” Gavin menarik tubuh Gavin ke belakang dan membiarkannya entah bagaimana cara jatuhnya.
Gavin pindah kursi dan segera tancap gas menuju tempat di mana Shiro bersembunyi, kemudian ketika selesai menjemput Shiro, Gavin melajukan mobilnya menuju Kota Aezak.
Melajukan mobil di jalanan yang begitu ramai tak menyurutkan semangat Gavin untuk terus maju, tatapan mata biru safirnya dari balik lubang topeng itu benar-benar dingin.
“Tenggelamnya cahaya harapan, terbitnya kegelapan yang berkepanjangan. Aku akan melakukan apa yang harus Kriminal lakukan, tapi tentu membela manusia baik,” gumam Gavin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments
Ayano
Ueeek
Hidung aman anak?. Gak kebayang aromanya bakal kek gimana
2023-04-09
1
Ayano
Itu topeng mirip kek topeng joker 🤔🤔
2023-04-09
1
Ayano
Keren 😳😳😳
Mang dasar pemburu tuh poinnya paling gede keknya. Banyak-banyakin aja ngebunuh pemburu nak
2023-04-09
2