“Tunggu saja! Aku akan kirim koordinat lewat pesan singkat tempat kita bertemu!!!”
Gavin langsung menutup panggilannya dan segera bersiap-siap, dia pun mengambil kunci motornya sembari mengirimi titik koordinat yang pas untuk dirinya dan Deny bertemu.
Keluar dari rumahnya, Gavin menguncinya dan segera menaiki motornya, kemudian tancap gas untuk menuju pertengahan lokasi antara rumahnya dan juga lokasi alun-alun Kota Aezak.
“Deny, cepat sekali kau main, sayang sekali malah bernasib sial,” gumam Gavin.
Dalam perjalanan, Gavin sudah melihat banyak pemain yang terkadang berteriak kesal, maupun tangis ketakutan menggema di beberapa sudut pandangnya.
“Cih, Bagaskara, kau akan menerima konsekuensinya!” gerutu Gavin.
Dalam waktu lima menit, Gavin sampai di titik koordinat, di sana sudah ada Deny yang menunggu begitu terlihat khawatir, pakaiannya kemeja putih lengan panjang yang digulung dengan celana kain panjang berwarna hitam.
Wajah gusar terlihat, mata segelap malamnya bergetar, rambut hitamnya diacak-acak seperti orang frustrasi. Deny berjalan mondar-mandir.
“Deny!” seru Gavin yang langsung melompat dan membiarkan motornya berjalan sendiri hingga menabrak tembok.
“Kau, kau tidak apa-apa?!”
Gavin tentu khawatir, Deny masih pemula, dia benar-benar pemain yang baru membeli ArcGear dan juga gim Roleplay World Online.
“Ka–Kau pikir aku baik-baik saja?!! Aku terlalu takut, takut dengan situasi ini, dan takut kalau Ibuku melepas perangkat ArcGear dan aku ... Ma–”
“Suutt!” Gavin meletakkan jari telunjuknya di bibir Deny.
“Tenang, Den, tenang,” ucap Gavin pelan sambil memegangi kedua pundak Deny.
“Oh, iya, peranmu apa?” tanya Gavin, ingin mengetes bagaimana rasionalnya Deny di situasi ini.
“Kau bilang jangan dibeberkan peran kita, kau ini mau menipuku, hah?!”
“Bagus, aku hanya mengetes pikiran rasionalmu di keadaan seperti ini, ya sudah, ayo ikuti aku!” ucap Gavin sembari bernapas lega.
Gavin mengambil motornya, masih cukup utuh, tak begitu banyak yang rusak akibat aksi Gavin yang menantang maut bagi dirinya sendiri, karena sekali poin Penjahat nya berkurang akibat benturan, maka dampaknya bisa fatal.
Poin Penjahat dan poin lainnya di sini sebagai nyawa sang karakter, maka dari itu mereka harus menambah poin itu sesuai peran masing-masing, dan menjaganya jangan sampai berkurang banyak.
“Kuharap kau bisa beradaptasi dengan cepat,” ucap Gavin sambil sejenak menoleh ke belakang.
Deny yang menumpangi motor Gavin hanya bisa terdiam, matanya fokus ke arah hologram pribadi yang hanya bisa dilihat olehnya.
“Menurut apa yang aku baca, kamu Mixing,” ucap Deny.
“Ayolah, Den, bodoh amat, lagian kita perlu lakukan pembagian nomor telepon, cuma itu!” seru Gavin.
Gavin pun kembali fokus ke jalanan, dia berniat pergi menuju tempat persembunyian terbaik miliknya, meski harus memasukkan Deny yang jelas identitasnya masih begitu tersembunyi.
“Kita ke sini, di kota-kota yang ada pasti terlalu ramai, kita bersembunyi satu sampai dua hari untuk melihat kondisi dulu,” jelas Gavin yang membelokkan motornya ke kiri, di sebuah jalan tanah bersemak-semak.
Di ujung jalan tanah bersemak-semak, sebuah rumah kayu yang terkesan misterius dengan banyaknya lumut yang menutupi permukaan rumah, hal ini membuat Deny merasa aneh untuk tinggal di sini satu hingga dua hari.
“Beneran di sini aman?” tanya Deny begitu ragu.
“Yaaah ... Aman sih, tapi kita harus tetap waspada, pegang ini sebagai alat pembela dirimu,” jawab Gavin sambil turun dari motor dan mengambil pisau dari sakunya untuk diberikan kepada Deny.
“Pisau, Vin, pisau, di toko tempatku tadi berada, seharga Rp 250.000!!”
“Pakai saja,” balas Gavin sambil mencoba menyibakkan rerumputan di tanah, mencari sesuatu.
Deny mengedarkan pandangannya, dia merasa ragu, tetapi di satu sisi dia merasa menjadi anak ayam yang baru menetas, tak tahu apa-apa di dunia yang penuh peran dan juga kebohongan tiada batas ini.
“Vin, kau aman, 'kan?” tanya Deny.
“Akh! Kau cerewet sekali, aku tahu kau khawatir, kalau kau ragu denganku, pergi saja sana!” pekik Gavin sembari menunjuk Deny. “Aku juga bisa frustrasi, Den, aku mainin gim ini hanya untuk mencari keuntungan, bukan mencari yang namanya kematian!”
Deny menunduk lesu, dia untuk sementara akan diam, sementara itu Gavin masih begitu berkutat dengan kegiatannya yang sekarang, hingga Gavin berseru senang.
“Ah! Dapat!” seru Gavin sembari mengangkat sebuah kunci.
“Masuk, terserah juga sih, aku mau istirahat,” ucap Gavin sembari memutar matanya malas.
Gavin melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah yang sebenarnya bagian dalam masih begitu nyaman untuk ditinggali, masih bersih dari rerumputan, hanya debu yang lumayan tebal.
“Akh, aku lupa beli tambahan makanan, aku lapar,” gumam Gavin sembari menggigit sebuah roti lapis isi sayuran.
Menunggu di dalam rumah, akhirnya Gavin melihat Deny yang masuk, keduanya saling bertemu pandang hingga Deny merasa canggung, meski pertemanan mereka sudah sangat lama.
“Makan,” titah Gavin sembari menyuguhkan sepotong roti lapis lainnya. “Jangan menolak, ya,” lanjut Gavin setelah melihat gerak-gerik Deny yang ingin segera menolak.
Deny pun mengambil kursi dan duduk berhadapan dengan Gavin, kemudian mengambil roti yang diberikan oleh Gavin, keduanya begitu senyap, tak ada yang berbicara sepatah katapun.
“Den, aku tahu kau khawatir, aku tahu keadaan ini terlalu sulit untuk diterima, tapi anggap saja kau akan lolos dari apa yang namanya Penghakiman Dunia yang dikatakan Bagaskara itu,” jelas Gavin.
“Ya, aku juga khawatir dengan keadaan dunia luar, rasanya ibuku tak lama lagi melepas perangkat ArcGear milikku, merinding aku, Vin,” ungkap Deny sambil menatap langit yang tak lama lagi gelap.
Gavin berdiri, menuju ke dalam suatu ruangan, dan keluar dengan memegang sebuah bantal kepala dan juga sebuah kain yang cukup tebal.
“Hmm ... Beradaptasi jalan satu-satunya, kalau kamu mau mencari uang, aku tidak bisa interupsi, kita masing-masing menyelesaikan peran kita,” jelas Gavin sembari memberikan bantal dan kain kepada Deny. “Karakter kita bisa kedinginan hingga hipotermia, bisa mati.”
Keduanya pun tidur berjauhan, saling merasa curiga, meski begitu masih ada kesan bahwa pertemanan itu jangan sampai hancur hanya karena perselisihan tentang masalah peran yang terjadi.
Malam yang gelap, situasi menegangkan muncul dengan suara lolongan anjing bersifat NPC, hingga semilir angin yang berhembus membuat suasana begitu terkesan suram.
Keunggulan ArcGear, dapat merasakan semilir angin, hingga merasakan respons sentuhan. Suatu keunggulan perangkat keras yang seperti sangat sulit ditemukan puluhan tahun lalu.
“Gim ini, aku akan menyelesaikannya sesuai dengan peranku sendiri, Penjahat, aku akan belajar menjadi Penjahat sesungguhnya demi hidupku sendiri,” gumam Gavin.
Sementara itu, Deny yang menatap langit-langit ruangan hanya bisa bergumam pelan, “Peranku, aku harus memanfaatkannya, jangan sampai ceroboh dan melakukan kesalahan.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments