Harun, pria itu melangkahkan kakinya memasuki rumah sakit setelah memarkirkan mobil dengan aman. Selalu saja penampilan pria itu tidak jauh-jauh dari kemeja juga celana kain yang melekat di tubuhnya.
Belum lagi rambut rapi dan memperlihatkan kening, membuatnya semakin tampan. Siapa saja akan terpesona dengan visual yang dimiliki seorang Harun
Meski berusia 30 tahun, tapi wajahnya sama sekali tidak terlihat tua.
Pria itu melempar senyum pada beberapa dokter yang memang mengenalnya sebagai pemilik rumah sakit. Harun sesekali berhenti ketika diajak bicara oleh seseorang.
"Katanya dokter Harun sakit, kenapa berkunjung?" tanya suster.
"Sudah jauh lebih baik," sahut Harun, tapi tatapannya tertuju pada ruangan Ezra dimana seorang wanita baru saja keluar.
Harun sangat mengenal wanita tersebut. Karena penasaran, Harun lantas menghampirinya.
"Kau sakit?" tanya Harun pada Haura istrinya.
Haura mengelengkan kepalanya sambil tersenyum. Untung saja dia memakai gamis dan jilbab besar, jadi perutnya yang mulai membuncit tidak bisa dilihat oleh siapapun.
"Aku hanya bertemu dokter Ezra karena urusan penting. Mari!" Haura menundukkan kepalanya, hendak berjalan tapi tangannya ditarik oleh Harun.
"Apa kau bisa memberiku penjesalan lebih rinci lagi tentang malam itu?"
"Sepertinya tidak ada yang perlu dibicarakan lagi Mas. Aku sudah mengatakan semuanya, mas Harun mau percaya atau tidak itu bukan urusan aku," ucap Haura tanpa membalik tubuhnya.
Jujur saja Haura sangat ingin memeluk tubuh suaminya saat ini, tapi urung ketika sadar semuanya telah berakhir. Jika Harun benar-benar mencintainya, pria itu tidak akan marah lebih dari tiga hari.
"Bisa lepaskan tangan aku Mas? Aku harus pergi!"
"Ah ya." Harun yang sejak tadi memperhatikan pundak Haura dalam diam langsung melepaskan genggamannya. Hatinya sedikit terusik melihat Haura tidak lagi memohon dan menjelaskan tantang malam itu.
"Apa kau benar-benar ingin berpisah denganku Haura? Tapi kenapa kau mengatakan mencintaiku?"
Batin Harun terus saja bermonolong sambil memperhatikan tubuh Haura yang memasuki lift. Pria itu menghela nafas panjang dan melanjutkan langkahnya.
Masuk keruangan Ezra tanpa mengetuk atau memberi salam lebih dulu. Pria itu menatap sahabatnya cukup dalam, sementara Ezra tampak acuh dan tidak takut sama sekali. Ezra yakin, Harun berpapasan dengam Haura di lorong rumah sakit.
"Kau benar-benar menyukai istriku?"
"Sepertinya kita perlu memperjelas sesuatu di sini. Haura bukan lagi istrimu."
"Ezra! Apa kau mau mati?"
Ezra tertawa melihat wajah Harun yang tina-tiba memerah. Satu kata untuk sahabatnya, bodoh. Mencintai tapi lebih memetingkan Ego semata.
"Haura masih istriku, dia hanya pergi dari rumah dan ...."
"Suami macam apa yang tega mengusir istrinya dari rumah, Harun? Membiarkan wanita yang dia cintai keluar malam-malam dari rumah tanpa uang sepeserpun. Apa kau waras? Kenapa kau terlalu egois memetingkan perasaan sendiri? Apa pernah sekali saja kau menyelidiki apa yang terjadi? Apa pernah kau sekali saja mempercayai apa yang dikatakan Haura?"
Ezra mengambil nafas dalam-dalam untuk mengontrol emosinya agar tidak tersulut meliat kebodohan Harun. Sementara Harun sendiri mengerutkan keningnya, merasa aneh dengan tuduhan yang dilontarkan oleh Ezra. Jelas-jelas malam itu Harun tidak mengambil apapun dari Haura.
Dompet yang berisi dua ATM, satunya khusus keperluan rumah, satu lagi uang bulanan pribadi. Apa itu tidak cukup?
"Sepertinya kau salah Ezra. Haura sendiri yang mengatakan ATMnya hilang."
"Bagaimana jika ATM itu tidak hilang? Tapi diambil oleh seseorang." Ezra menaikkan salah satu alisnya sambil tersenyum. Apalagi saat melihat raut wajah Harun yang tampak bimbang.
Pria itu lantas mengeluarkan amplop pemberian Haura tadi. "Uang yang aku pinjamkan malam itu. Apa kau tahu? Haura duduk di bawah pohon yang tempatnya sangat sepi jam 11 malam tanpa tujuan dan tanpa uang. Apa kau tahu rasanya ditelantarkan, Harun?"
"Melihat matanya saja kau bisa menebak apa yang kau lihat benar atau salah. Tapi kau terlalu bodoh, hatimu." Meletakkan tulunjuk tetap di dada Harun. "Dipenuhi rasa selalu benar dan ingin dimengerti tanpa bisa mengerti orang lain."
Harun terdiam, semua kata-kata Ezra berhasil menohok hatinya. Selama ini dia tidak pernah memikirkan penderitaan apa yang Haura rasakan diluar sana sebab hanya fokus dan yakin, Haura sedang bersenang-senang dengan kekasih gelapnya.
"Kenapa kau datang?"
"Aku ingin menanyakan sesuatu tentang kesehatanku," jawab Harun memilih tidak membahas persoalan tadi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
Runik Runma
semngat haura
2024-05-16
0
revinurinsani
peped terus za
2023-11-13
4
Diah Darmawati
nyeseeeggggggggg twrus bikin 😭😭 lope lope author🥰
2023-10-29
1