Ezra, pria itu kembali duduk di hadapan Harun yang tampak terdiam setelah kepergian suster. Menumpu tangannya di atas meja dengan tampang songong.
"Apa yang bisa kamu simpulkan setelah melihat ilustrasi tadi? Plis kamu tuh bukan lagi anak kecil Run, usia kamu sudah 30 tahun, jangan goblok-goblok bangetlah." Ezra mulai mengeluhkan sikap Harun yang terlalu keras kepala juga egois dalam mengambil keputusan.
"Setelah melihat apa yang aku lakukan pada suster tadi, semoga kamu bisa berpikir jernih!" Ezra segera meninggalkan ruangan Harun dengan perasaan jengkel. Sahabatnya benar-benar telah dibutakan oleh Ego.
Sementara Harun masih terdiam di tempatnya sambil memikirkan apa yang dia lihat tadi.
Yang dilakukan Ezra mengandung makna yang sangat dalam. Sesuatu yang kita lihat dengan mata kepala sendiri belum tentu itu yang terjadi sebenarnya. Seperti yang dilakukan Ezra, jika dilihat dari sisi lain, maka mereka bisa dianggap berciuman. Namun, jika ngambil dari pendapat orang lain, Ezra dan suster tidak melakukan apapun selain berhadapan.
"Aaaakkkkhhhhhhh, sudah pusing ditambah semakin pusing!" Kesal Harun mengacak-acak rambutnya kasar.
Sampai sekarang Harun masih saja merasakan mual, sering kali perutnya terasa nyeri secara tiba-tiba padahal tidak melakukan apapun. Satu lagi, ada rasa rindu yang bersemayang dihatinya untuk wanita yang hampir mengisi hatinya sepenuhnya.
***
Tidak enak badan dan terus merasakan pusing berkepanjangan, Harun akhirnya meminta izin pada atasan untuk pulang lebih cepat dari jadwal yang ditentukan.
Sesampainya dirumah, bukannya istirahat pria itu malah memeriksa isi dus yang ada di depan kamarnya.
Satu dus sangat besar dan dua dus sedang yang isinya tentu saja berbeda-beda. Harun langsung mengambil dus yang lebih ringan tetapi isinya bisa dikatakan sangat penting juga mahal.
Pria itu membawanya keluar dari rumah. Langkah Harun berhenti ketika berpapasan dengan Elena di lantai dasar.
"Mau dibawa kemana, Nak?" tanya Elena.
"Ke suatu tempat, Bunda."
Setelah menjawab pertanyaan Elena, Harun kembali melangkahkan kakinya menuju mobil. Meletakkan dus ukuran sedang tersebut tepat di samping kemudi.
Pria itu melajukan mobilnya secara perlahan dan berhenti di suatu tempat. Jalan dimana akhir-akhir ini menjadi pusat perhatiannya.
Sambil menunggu seseorang muncul, Harun menyandarkan tubuhnya pada jok mobil, sesekali memperhatikan seberang jalan. Tangan pria itu bergerak hendak mengambil benda bernikotin di dalam dasbor, tapi urung ketika sebuah kalimat melintas di pikirannya.
"Mas Harun tidak boleh menyentuh benda berbahaya seperti itu. Mas Harun dokter, harusnya lebih menjaga kesehatan. Jangan ya."
"Bisa-bisanya kamu tidak bisa hilang dari pikiran aku, Ra," gumam Harun, terlebih saat senyuman manis Haura terbayang di hadapannya.
Tepat saat itu juga, seorang wanita dengan pakaian sedikit gelap keluar dari sebuah gang. Harun yang melihatnya lantas turun dari mobil sambil membawa dus ukuran sedang. Menyembarang jalan seraya memanggil nama seseorang.
"Haura!"
Langkah Haura berhenti, wanita berbadan dua itu berbalik dan terkejut melihat keberadaan Harun beberapa langkah di hadapannya. Dia mengerjap perlahan untuk memastikan suaminya memang berdiri di sana, atau hanya halusinasinya sebab sangat merindukan Harun.
Haura bergeming di tempatnya, membuat Harun mau tidak mau berjalan mendekat. Pria itu menyerahkan dus pada Haura.
"Punya kamu, itu sangat menganggu di kamarku!"
"Apa ini, Mas?" Haura lantas mengambil dus yang tidak terlalu berat tersebut sambil menatap Harun yang seakan menghindari tatapannya.
"Mas Harun, ak-aku sebenarnya ...." Lidah Haura terasa kelu hanya untuk mengatakan bahwa dia sekarang sedang hamil.
"Sudah bahagiakan sama pacar kamu itu? Selamat." Harun senyum sinis, membuat Haura semakin ragu untuk mengatakan yang sebenarnya.
Ketika Harun hendak pergi, dengan sigap Haura menarik tangan pria itu. "Tunggu, Mas!" Menunduk untuk meletakkan dus yang membuat tangannya terasa pegal.
"Apa aku boleh memelukmu sebentar saja? Ini keinginan ...." Haura mengigit bibir bawahnya, sementara Harun menatap penuh selidik pada istrinya.
"Boleh?" tanya Haura lagi tapi Harun bergeming. Tidak bisa menahan keinginannya, Haura langsung memeluk Harun dan membenamkan wajahnya di dada pria berkemeja hitam tersebut.
"Aku baru sadar, ternyata mas Harun begitu berarti dalam hidup aku. Harusnya sejak awal aku mengatakan, bahwa aku mencintaimu."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
Annie Soe..
Aaa,,
So sweet plus so sad.. /Cry/
2025-02-22
0
Alifah Azzahra💙💙
Haura😭😭😭
2024-10-22
0
revinurinsani
dokter bodoh..
2023-11-13
1