Vivian, gadis itu melempar tespek ke lantai dan menatap bundanya kesal. Rasanya dia tidak ingin terima jika Haura benar-benar hamil anak Harun. Jika Harun mengetahuinya, otomatis dia tidak akan mendapatkan pria itu.
"Aku tidak mau tahu Bunda, secepatkan kak Harun harus menikahiku!" ucap Vivian penuh tekanan.
Elenan yang sedang duduk di meja rias lantas membalik tubuhnya sambil tersenyum. Menghampiri Vivian lalu mengelus rambut putrinya penuh kelembutan.
"Kau tenang saja Nak, sebentar lagi akan ada kabar duka di rumah. Bunda sudah menyuruh seseorang untuk mecelakai Haura dan calon anaknya. Bunda tidak mungkin membiarkan wanita yang sudah kita usir kembali lagi dan menjadi penghalang tujuan kita." Elena senyum licik.
Membuat Vivian langsung tersenyum lebar, gadis itu memeluk bundanya cukup erat. "Bunda memang selalu bergerak cepat hanya untuk membahagiakan aku. Harusnya satu tahun yang lalu, bunda menolak perjodohan kak Harun dan Haura."
"Bagaimana bunda bisa menolak Nak, ayah saja tidak meminta pendapatkan kita. Tapi sekarangkan wanita itu sudah pergi."
Elena dan Vivian kembali saling pandang dan tertawa puas. Keduanya tidak sabar menunggu kabar duka menghampiri kediaman Edelweis.
***
Harun, pria itu menjatuhkan tubuhnya di sofa karena sangat lemas keluar masuk kamar mandi hanya untuk muntah sedikit-sedikit. Sekarang tenaga pria itu telah terkuras habis tanpa tahu apa penyebab dia seperti ini.
"Obat apa lagi yang harus aku minum?" gumam Harun sambil memejamkan matanya menikmati rasa lemas.
Sudah jam 8 pagi, Harun belum mandi apalagi keluar kamar. Segala aroma menganggu penciumannya, apalagi aroma rumah sakit.
"Harun, apa kau baik-baik saja Nak?" Elena mengetuk pintu kamar.
"Aku baik-baik saja, Bunda. Sarapanlah tanpa menungguku," sahut Harun engang membuka matanya.
Pria itu akan mencoba untuk tidur berharap saat bangun semuanya akan baik-baik saja. Jika terus begini, mungkin ada baiknya Harun berhenti bekerja di rumah sakit Edelweis daripada harus izin terus menerus.
***
Kontarakan
Senyuman cerah menghiasi wajah cantik Haura yang terlihat berseri-seri di pagi hari. Wanita itu menenteng kresek berisi beberapa kotak donat di dalamnya, berjalan menuju rumah pemilik kontrakan untuk menunggu ojek online.
"Letakin di sini Neng, jangan diluar banyak debu!" ajak pemilik kontrakan.
"Makasih Bu." Haura lantas memasuki teras rumah pemilik kontrakan dan meletakkan kotak donatnya.
"Usaha online ya? Beberapa hari ini banyak yang nanyain kamu buat ambil donat."
"Iya Bu, baru pemula tapi alhamdulillah ada rezeki. Ibu suka Donat? Nanti Saya bawain ya."
"Terimakasih loh Neng sudah berbaik hati. Semoga usahanya laris manis. Ibu masuk dulu."
Haura menganggukkan kepalanya dan kembali fokus pada ponsel, memeriksa beberapa pesan takut ojek online yang dia pesan tiba sebentar lagi.
Jam 9 pagi, barulah semua pesanan diambil oleh pemiliknya, membuat Harun kembali kerumah. Wanita itu sedang mencari kurir pribadi perempuan agar bisa membantu pengantaran kalau saja ada pesanan tiba-tiba.
Usai sarapan dan membereskan rumah seperti biasa, Haura mulai mengecek stok bahan-bahannya yang berada di meja kecil. Wanita itu tidak menyetok banyak barang karena sadar tidak mempunyai kulkas, untung saja pasar lumayan dekat dari kontrakan sehingga dia bisa menempuhnya dengan berjalan kaki.
"Kacang, kentang dan coklat ...." Haura terus saja mengabses stok yang habis agar tidak bolak balik nantinya.
Wanita itu berencana akan keluar saat sore hari agar tidak terlalu kepanasan.
"Sekarang anak bunda sudah tidak rewel lagi setelah bertemu ayah, pintar banget. Maaf ya bunda misahin kalian berdua." Haura terus saja mengelus perutnya.
Sudah lama dia ingin memeluk Harun dan kebetulan pria itu datang menemuinya kemarin. Setelah memeluk tubuh kekar suaminya, rasa pusing juga mualnya perlahan-lahan menghilang, membuat Haura semakin semangat untuk beraktivitas dan membuat donat.
Rencananya wanita itu akan menambah menu baru, yaitu pisang Roll ala Haura. Berharap dagangannya membawa berkah sehingga bisa mencukupi hidupnya, apalagi semakin hari perutnya semakin membuncit dan kelahiran semakin dekat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
Silvi Vicka Carolina
cari nama jagan yang hampir sama ...otaku jadi mikir dua kali
2024-06-10
0
Dwi Setyaningrum
nama Harun d Haura jd keblibet lidah ya Thor hehehe
2023-12-13
1
anonim
semoga kamu bisa menghadapi kekejaman duo kadal ya Haura
2023-09-25
1