Siang harinya di kontrakan, Haura terus saja berkutat dengan ponselnya untuk mencari cara bagaimana memanfaatkan uang yang dia punya sekarang untuk bertahan hidup.
Pergerakan jari telunjuk Haura berhenti ketika melihat ponstingan donat yang sangat menggoda. Wanita itu mengelus lehernya yang terbalut jilbab.
"Terlalu mahal, yang lain sajalah," gumam Haura. Wanita itu tiba-tiba ingin memakan donat tapi melihat harganya yang cukup mahal, membuatnya urung.
Sekarang boros dan mengikuti keinginan sendiri bukanlah hal yang dibenarkan, terlebih dia sekarang hidup sendiri. Orang tuanyapun sudah tidak ada. Allah lebih menyayanginya sehingga memanggil mereka lebih dulu dua hari setelah dia menikah dengan Harun.
"Kira-kira kalau aku ikut jualan donat kayak orang lain bisa tidak ya? Mas Harun serin muji kok donat buatan aku." Haura tersenyum ketika menemukan ide untuk memutar uang yang dia punya sekarang.
Wanita itu mencatat sesuatu di kertas yang dia dapatkan di dalam kamar, lalu bergegas meninggalkan kontrakan untuk membeli bahan-bahan yang diperlukan.
Setidaknya keinginan untuk makan donat terealisasikan, sekalian membuat Video untuk dia posting di sosial media.
***
Rumah sakit
Setelah kedatangan Vivian di rumah sakit saat siang hari, wanita itu belum pulang juga karena menunggu Harun selesai bekerja. Vivian duduk di kantin rumah sakit sendirian sambil memainkan ponselnya.
Entah sekedar selfi atau melihat postingan teman-temannya. Melihat Harun melitas dengan pakaian rapi, Vivian lantas berdiri dan menghampiri pria itu.
"Kak Harun!"
Harun lantas menoleh ke sumber suara. "Vi, kenapa masih ada di rumah sakit, Bukannya sudah pulang tadi?" tanyanya.
Vivian mengelengkan kepalanya sambil merangkul lengan Harun. "Sudah lama kita tidak belanja bersama kak, apa kak Harun hari ini lelah? Mau temani aku jalan-jalan?"
Harun melirik arloji di pergelangan tangannya sebelum menyetujui ajakan Vivian. Terlebih Harun sedikit suntuk dan tidak ada keinginan untuk pulang.
Pulang kerumah hanya akan mengingatkan dia akan Haura juga pengkhianatannya.
"Sejak Ayah meninggal, kak Harun hampir tidak pernah mengajak aku jalan-jalan lagi. Kak Harun lebih perhatian pada kak Haura saja." Vivian mengembungkan pipinya setelah sampai di mobil.
Sementara Harun yang diajak bicara lebih banyak diam tidak seperti biasanya.
Setiap kali ada orang yang menyebut nama Haura, hati Harun sedikit nyeri. Rasanya sakit setiap kali teringat dimana Haura berbaring tanpa sehelai benangpun di atas ranjang.
"Kak Harun, itu bukannya kak Haura ya!" Menunjuk wanita dengan pakaian serba hitam sedang berjalan di pinggir jalan sambil menengteng kantong cukup besar.
Harun mengikuti arah pandangan Vivian dan tanpa sadar menghentikan mobilnya tepat berseberagan dengan Haura.
"Kak Harun mau samperin kak Haura? Ayo, kita ajak dia pulang kak. Aku tidak tega melihat kak Haura berkeliaran di jalan seperti itu. Apa kak Harun pernah berpikir kak Haura tinggal dimana? Diakan yatim piatu." Vivian terus mendesak Harun agar menghampiri Haura.
Namun, pria itu hanya bergeming sambil memperhatikan Haura yang semakin menghilang dari pandangannya. Wajah pucat, membuat Harun sedikit khawatir akan kondisi wanita itu.
"Kak Harun!" Menguncang lengan Harun beberapa kali.
"Dia pasti tinggal dengan kekasihnya," jawab Harun dan melajukan mobil meninggalkan jalanan tersebut.
Tanpa pria itu sadari Vivian lagi-lagi tersenyum licik karena berhasil meracuni pikiran Harun. Ternyata pura-pura baik di depan Harun ada gunanya juga.
***
Haura menghela nafas panjang setelah sampai di rumah sore harinya. Ternyata berjalan kaki juga cukup melelahkan dan membuat kakinya terasa pegal.
Wanita itu menselonjorkan kakinya dan memukul perlahan.
"Semangat Haura, demi anak dan hidup kamu sendiri!" Haura mengepalkan tangannya dan berusaha tidak mengeluh, meski wajahnya masih saja pucat.
Wanita itu istirahat sejenak juga beribadah di sore hari. Barulah setelahnya membuat donat dengan bahan-bahan yang sudah dia beli sebelumnya.
Haura menyisihkan sebagian bahan-bahan karena akan membuat beberapa saja sebagai bahan untuk mempostingnya di sosial media.
Mungkin usaha online keberhasilannya sangat kecil, apalagi Haura tidak punya mengalaman sebelumnya. Tapi hanya ini yang bisa Haura lakukan sebelum mendapatkan Ijazahnya entah dengan cara apa.
"Sssttttttt ...." Haura mendesis ketika sakit kepala kembali melanda. "Sayang, jangan buat bunda sakit. Nanti ya bunda bawa kamu untuk periksa," ucapnya sambil mengelus perut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
revinurinsani
aku yakin suatu saat usaha donat nya Haura berkembang jadi hebat.. sedangkan buat Harun kamu pasti bangkrut karena 2 Kunti bakaln Meres lho dan disanalah lho baru sadar Lo run
2023-11-13
3
Maysarah
semangat haura/Ok/
2023-10-30
1
Sur Anastasya
lnjut tmbh sedih
2023-09-20
1