Harun, pria itu menghampiri Elena yang duduk sendirian di ruang keluarga, duduk berhadapan dengan bundanya sambil menatap intens. Pipi Elena memar dan ada bekas tangan di sana.
"Kata Vivian, Bunda habis bertemu Haura?" tanya Harun dengan salah satu alis terangkat.
Elena lantas menganggukkan kepalanya sambil memegangi pipi yang baru saja ditampar oleh Vivian atas perintahnya.
"Vivian cerita kalau lihat Haura di jalan ..., karena bunda sangat rindu, akhirnya bunda menemuinya. Bunda mengajak dia pulang sebab kasihan dia tinggal sendirian, orang tuanya sudah tidak ada Harun. Tapi ...." Air mata buaya Elena jatuh begitu saja. Wanita itu menunduk, membuat Harun sedikit bersimpati melihatnya.
Harun tidak pernah menyangka, Elena begitu menyayangi Haura padahal bukan ibu kandungnya.
"Tapi kenapa, Bunda?"
"Haura malah menuduh bunda menfitnahnya. Dia mengatakan bunda menjebak dia, padahal itu tidak benar. Haura juga menampar bunda."
Harun menghela nafas panjang mendengar penuturan bundanya. Pria itu bergerak duduk di samping Elena lalu mengulus pundak wanita paruh baya itu perlahan.
Sebenarnya Harun sedikit tidak percaya Haura melakukan hal seperti itu, tapi apa yang dia lihat lagi-lagi terasa nyata.
"Tidak perlu menemui Haura lagi Bunda. Biarkan dia hidup dengan dunianya sendiri," ucap Harun, membuat Vivian yang duduk tidak jauh tersenyum penuh kemenangan.
Ternyata sangat mudah memperngaruhi Harun yang sudah dibutakan akan ego yang terlalu tinggi.
***
Seperti rutinitas Haura setiap harinya, wanita itu akan berkunjung ke pasar jika sore hari. Untuk jalan-jalan sekalian melengkapi bahan-bahan yang lagi-lagi habis.
Wanita itu berjalan di trotoar jalan tanpa tahu sejak tadi ada pria yang menunggu kedatangan Haura keluar dari gang.
Pria itu adalah orang suruhan Elena yang ditugasnya untuk menabrak Haura hingga keguguran, kalau bisa meninggal dunia.
Laju motor tersebut semakin kencang setelah pemiliknya memasang topeng, bersiap untuk menabrak wanita yang sedang memainkan tangannya sambil menunduk.
Haura yang menyadari suara motor semakin dekat ke arahnya, segera berbalik dan terkejut. Wanita itu memejamkan matannya.
"Aaaaaaaaaaaaa!"
"Haura!"
Brak
Tubuh Haura terhuyung tapi tidak terjatuh sebab berada di pelukan seorang pria. Sementara pengendara bermotor tersebut menabrak pembatas jalan, tubuh pria itu terpental cukup jauh ke tengah jalan, sangat diuntung lampu lalu lintas berubah menjadi merah, atau tubuh pria jahat itu akan hancur dilindas mobil.
Di sisi lain, Haura perlahan-lahan membuka matanya ketika tidak merasakan sakit, padahal jelas-jelas pengendara bermotor tersebut berada beberapa langkah di hadapannya tadi.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Ezra, pria yang menolong Haura.
Wanita itu lantas mengeleng, lalu mendorong tubuh Ezra agar menjauh darinya.
"Maaf, aku tidak bermaksud menyentuhmu, tadi siatuasinya sangat mendesak," ucap Ezra tidak enak karena lancang memeluk istri sahabat yang telah dianggap sebagai saudaranya.
"Tidak apa-apa, terimakasih sudah menolongku." Menunduk untuk menghindari tatapan Ezra. "Kamu kebetulan lewat atau ...."
"Sengaja menemuimu, apa bisa bicara sebentar?"
"Di tempat yang ramai," pinta Haura.
Ezra mengangguk dengan senyuman, berjalan lebih dulu agar Haura mengikutinya. Pria itu sangat bersyukur karena datang tepat waktu, atau Haura akan masuk kerumah sakit dan besar kemungkinan akan mengalami keguguran.
Dia memperhatikan jalan yang ramai sebab beberapa orang menolong pengendara bermotor yang hendak mencelakai Haura. Ezra menoleh ke belakang dan mendapati Haura juga memperhatikan kecelakaan tersebut.
"Sudah ditolong sama orang, ayo!"
"Iya." Haura melanjutkan langkahnya mengikuti Ezra dengan jantung berdegup kencang. Wanita itu sangat bersukur karena masih dilindungi oleh Allah melalui Ezra.
Haura duduk di salah satu kursi setelah berada di Cafe bagian luar. Duduk berhadapan dengan Ezra yang tampak sibuk dengan ponselnya.
"Mau bicara apa?"
"Tidak mau minum atau makan dulu?" tanya Ezra balik.
Ada rasa lega di hati Ezra setelah menolong Haura. Pria itu awalnya tidak tahu kalau Haura akan dicelakai seseorang karena kedatangan Ezra untuk mengatakan hal yang sangat penting.
"Katakan saja Ezra, aku harus pergi. Berduan seperti ini bukanlah hal yang dibenarkan, terlebih aku sudah menikah."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
revinurinsani
dah deh amaa ezra aja
2023-11-13
4
guntur 1609
laki2 bodoh
2023-10-12
1
anonim
ya Allah lindungi Haura selalu dimanapun melangkah
2023-09-25
1