Haura, wanita itu berjalan memasuki rumah suaminya dengan langkah pelan. Jantungnya berdegup sangat kencang karena takut akan penolakan Harun.
Dengan tangan bergetar, Haura memutar handel pintu kamarnya lalu membuka. Ruangan itu tampak kosong tanpa penghuni.
"Beraninya kau datang ke kamarku!" Suara bariton itu mengelegar di depan pintu kamar mandi.
Harun baru saja membersihkan dirinya yang terasa gerah setelah melihat istri yang berhasil mengambil hatinya, tidur satu kamar dengan pria lain. Yang bahkan keduanya sudah mempunyai buhungan di belakangnya.
Sedangkan Haura yang mendapat tatapan tajam lantas menundukkan kepalanya.
"Mas, tolong dengarkan penjelasan aku. Aku tidak mungkin mengkhianatimu. Ak-aku dijebak!"
"Pergi dan jangan kembali lagi! Kau tidak lebih seperti Bunda!"
"Mas?" Haura berlutut tepat di hadapan suaminya. Meraih tangan Harun yang terkepal hebat. Namun, Harun menepisnya sangat kasar.
"Aku berani bersumpuh tidak tahu apapun tentang pria itu Mas. Tadi bunda hanya menyuruhku untuk menghadiri arisan teman-temannya dan ada yang memberika aku minum, setelahnya aku tidak ingat apapun," ucap Haura menjelaskan.
Wanita itu mendongak untuk menatap manik suaminya. Namun, Harun menghindar, pria itu malah menatap sisi ranjang tanpa ada keinginan menatap mata indah yang selalu membuatnya jatuh cinta.
"Jangan bawa-bawa bunda Elena dalam hal ini. Dia tidak tahu apapun, Haura. Pergilah, sebelum aku berubah kasar padamu!" Nada suara Harun terdengar randah, tapi setiap katanya penuh tekanan.
Sampai kapanpun Harun tidak akan menerima yang namanya pengkhianatan, terlebih pria itu mempunyai trauma cukup dalam tentang sebuah perselingkuhan.
Hari dimana ayahnya kecelakaan, bundanya malah berhubungan badan dengan pria lain di kamar utama. Harun menyaksikan semuanya, sehingga sulit untuk melupakan bahkan setelah bertahun-tahun lamanya.
"Mas, maafkan aku karena tidak bisa menjadi istri yang baik. Tapi tolong percaya padaku dan jangan usir aku dari rumah. Aku tidak tahu akan tinggal di mana." Air mata Haura terus saja berjatuhan.
Wanita itu mencintai suaminya dan dia tidak ingin berpisah, terlebih semuanya hanya kesalahpaham. Haura yakin dia tidak melakukan apapun di kamar hotel.
Namun, sekuat apapun menjelaskan tentu saja Harun tidak akan percaya, karena Haura tahu suaminya mempunyai trauma akan penghianatan saat sekolah dulu.
Dia juga menyaksikannya malam itu.
"Hukum aku Mas. Pukul, cambuk apapun itu. Tapi maafkan semua kesahalanku."
Harun senyum sinis, pria itu memberanikan menatap manik indah Haura sehingga tidak terasa air mata juga ikut berjatuhan tanpa diminta.
"Pergil Haura, sebelum aku melakukan hal lebih!"
Haura mengelengkan kepalanya dan memeluk kaki jenjang Harun agar mau memaafkan dirinya.
Harun memang tidak membentak, tapi pancaran matanya membuat Haura tersiksa.
"Mas Harun, aku sungguh tidak melakukan apapun, dan maaf karena tidak bisa menjaga diri dengan baik. Harusnya saat keluar dari rumah aku meminta izin ...."
"Kau tidak meminta izin karena tidak ingin aku tahu tentang hubungan gelapmu itu Haura. Kurang apa aku hm? Jangan karena kita menikah karena dijodohkan kau melakukan ini padaku. Harusnya kau tahu diri karena aku mau menikahimu dan mengangkat derajatmu!"
Brugh
Harun mendorong tubuh Haura sehingga tersungkur di lantai. Berjalan menuju lemari dan mengeluarkan seluruh pakaian Haura dari dalam sana.
"Pergi malam ini juga, dan jangan sekali-sekali menampakkan wajahmu di hadapanku! Ternyata aku salah menilai orang selama ini!"
"Mas Harun, aku mohon jangan seperti ini. Aku mengaku salah dan ...."
"Sekarang kau mengaku? Mana tadi ucapannya yang mengatakan semua ini salah bunda Elena? Aku tidak pernah menyangka, wanita sepertimu juga licik memainkan lidah untuk mengambil perhatian orang lain."
Dengan sekali sentakan, Haurn menarik lengan Haura agar berdiri. Membuka pintu secara kasar lalu mendorong tubuh mungil istrinya keluar dari kamar.
"Malam ini, kau bukan istriku lagi Haura! Kau wanita murahan dan tidak tahu terimakasih!" ucap Harun menutup pintu kasar setelah melempar pakaian Haura.
"Mas Harun, aku mohon jangan seperti ini. Aku berani ...."
"Tunggu apa lagi? Bukannya kau sudah di usir?" tanya Vivian yang sejak tadi memperhatikan pertengkaran kakak iparnya.
Sebenarnya wanita itu kurang puas, karena tidak ada bentakan yang keluar dari mulut Harun. Tapi untung saja Harun menguris Haura dari rumah, itu sudah jauh lebih baik.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
Runik Runma
dasar
2024-05-16
0
revinurinsani
Lo bakal nyesel run
2023-11-13
2
Dini Lestari
ya c harun marah lah liat istri telanjang bulat d kmr hotel sm cowo lgi ,alasan apapun gk akan d terima,, kecuali ada bukti kejahatan c elena dn c vivi terbongkar, pasti harun menyesal,,
2023-11-07
1