Pusat perbelanjaan
Harun terus saja mengikuti langkah Vivian tanpa ada semangat di hatinya. Pria itu benar-benar kehilangan selera bahkan untuk bicara saja.
Langkah Harun berhenti tepat di penjual parfum.
"Kak Harun, wangi tidak?" Menyemprotkan parfum ke tangannya lalu memberikan pada Harun.
Bukannya memuji, Harun malah memegangi perutnya yang terasa diaduk-aduk setelah mencium aroma parfum. Pria itu menutup mulutnya.
"Aku ke toilet dulu," ucap Harun, melangkah pergi tanpa menunggu sahutan dari Vivian.
Wanita berusia 24 tahun dengan pakaian sedikit terbuka itu merengut kesal memandangi punggung Harun yang semakin jauh.
Sementara Harun memuntahkan isi perutnya setelah berada di kamar mandi. Aroma parfum tersebut benar-benar menganggunya.
"Aneh," gumam Harun mengeringkan mulutnya dengan tisu setelah selesai muntah.
Pria itu berjalan keluar dari kamar mandi dengan santainya. Kembali ke mobil tanpa menemui Vivian lagi.
Aku tunggu di mobil!
Itulah pesan yang Harun kirimkan untuk Vivian, membuat gadis itu kesal bukan main. Bisa-bisanya Harun meninggalkan dirinya dengan banyak belanjaan seperti ini.
Dengan menghentakkan kaki, Vivian kembali ke parkiran dengan belanjaan di sisi kanan juga kiri tubuhnya. Setelah hampir mendekati mobil Harun, gadis itu mengembangkan senyumnya agar terlihat baik-baik saja meski darahnya sedang mendidih karena amarah.
"Kak Harun baik-baik saja? Wajah kakak terlihat sangat pucat." Tanpa izin Vivian meraba kening Harun.
Pria itu lantas menyingkirkan tangan Vivian dari keningnya. "Aku baik-baik saja. Pasang sabuk pengamanmu!" ucap Harun lalu melajukan mobil meninggalkan lingkungan pusat perbelanjaan.
***
Seperti rutinitasnya setiap hari, Haura akan bangun sebelum subuh untuk melaksakana sholat tahajjud, setelahnya dilanjutkan dengan mengaji sampai adzan subuh terdengar.
Wanita itu lantas mandi ketika matahari mulai menyinari bumi. Memeriksa ponselnya untuk melihat perkembangan konten yang dia buat semalam.
Senyuman Haura mengembang, ini seperti keajaiban untuknya. Tayangan tiba-tiba naik drastis padahal pertama kali untuknya memposting sesuatu.
"Alhamdulillah, awal yang baik." Mata Haura berkaca-kaca melihat beberapa komentar yang mengatakan ingin mencoba donat buatannya.
Bahkan beberapa menyuruh Haura untuk mengecek pesan. Dengan tangan bergetar karena kaget, Haura membalas beberapa pesan dari seseorang yang berniat membeli donatnya lewat online.
Setelah membalas dan menerima pesanan, Haura terpaku di tempatnya karena tidak mempunyai modal yang banyak.
"Apa aku meminta mereka membayar lebih dulu? Tapi aku sudah mengatakan dibayar setelah orangnya datang." Haura bermonolog dengan dirinya sendiri.
Hingga beberapa saat tatapannya tertuju pada cincin pernikahannya dengan Harun.
"Apa aku mengadaikan cincin ini? Dan mengambilnya saat punya uang?" Haura tampak berpikir, takut kalau saja Harun datang dan mencari cincin tersebut.
"Hanya beberapa hari, toh mereka akan membayar setelah donatnya jadi." Haura bergeras ke pasar untuk membeli bahan-bahan juga mengadaikan cincinnya.
***
Kediaman Edelweis.
Elena, wanita itu terus saja menatap Harun yang hari ini terlihat sangat aneh. Tidak selera makan dan sering kali muntah, belum lagi wajah pucat menyertai.
"Kamu baik-baik saja Nak? Bunda lihat kamu kurang sehat. Sebaiknya hari ini tidak perlu masuk bekerja, toh kamu juga pemilik rumah sakitnya," ucap Elena perhatian.
"Aku baik-baik saja Bunda, hanya mual saja. Mungkin salah makan sesuatu," sahut Harun mulai menyesap tes hangat di atas meja.
Berbeda dengan Elena yang menatap penuh kecurigaan pada putra tirinya. Ciri-ciri yang diperlihatkan Harun seperti orang mengidam saja.
Apa Haura hamil?
Elena mengelengkan kepalanya, tidak ingin percaya kalau Haura benar-benar hamil anak Harun.
Tidak, ini tidak boleh terjadi. Jika Haura hamil dan mempunyai anak, maka otomatis harta akan jatuh ketangannya.
Tangan Elena mengepal tanpa di sadari oleh Harun yang fokus pada ponselnya. Pria itu kembali membaca chat dari Haura beberapa hari yang lalu.
Ada rasa rindu bersemayang dihati Harun untuk istrinya. Namun, Ego mengatakan agar tidak terlena pada wanita licik seperti Haura.
"Kak Harun, apa aku terlihat cantik dengan gaun ini?" Vivian tiba-tiba datang dengan senyum lebarnya.
Memamerkan gaun cantik di hadapan Harun, sebenarnya bukan gaun yang ingin Vivian pamerkan, melainkan kode agar Harun ingin menikah lagi.
"Cantik," sahut Harun dan bangkit dari duduknya. "Bunda, tolong keluarga semua barang-barang Haura dari kamar aku dan letakkan di depan kamar!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
Sweet Girl
mungkin ada campur tangan Ersa.
2023-09-21
4
Sur Anastasya
dokter ko oon ga tau istriy hamil
2023-09-20
0
Sisri Nurdayanti
kok jd dokter oon, biasanya y thor, dimana mana dokter pinter
2023-05-10
1