Ezra, pria itu semakin mendekatkan tubuhnya pada meja sambil menatap Harun penuh selidik.
"Aku tidak yakin kalau Haura benar-benar seligkuh, alasan kamu percaya apa? Lihat dengan mata kepala sendiri?"
"Tentu saja aku melihatnya. Dia tidur dengan pria di kamar hotel yang ...."
"Kak Harun!"
Atensi dua pria tampan yang saling berhadapan tersebut lantas teralihkan pada sumber suara. Ezra mendelik, entah kenapa sejak dulu dia tidak suka pada Vivian meski adik dari sahabatnya.
"Bicara nanti saja lah, aku masih ada urusan," ucap Ezra meningalkan ruangan Harun.
Sementara Vivian langsung duduk di kursi bekas Ezra tadi, dengan senyuman menghiasi pipinya. Wanita itu meletakkan rantang nasi di atas meja.
"Aku bawa makan siang untuk kak Harun, aku membuatnya sendiri," ucap Vivian.
"Lain kali tidak perlu membawa makan siang kerumah sakit Vi!"
"Tidak apa-apa kak, aku tidak merasa repot kok. Terlebih sekarang kak Haura sudah tidak ada, aku sebagai adik tentu saja harus memperhatikan kesehatan kak Harun." Vivian tersenyum tanpa dosa, terlebih saat Harun mengusap kepalanya sambil tersenyum.
"Terimakasih untuk makan siangnya."
Karena memang lapar dan sudah waktunya makan siang, Harun langsung saja menyantap makanan yang dibawa Vivian, tanpa sadar sejak tadi gadis itu menatapnya penuh damba.
***
Kontrakan
Haura, wanita itu berjalan menuju dapur dan terkejut melihat perabotan rumah lumayan lengkap. Padahal kotrakannya sangat murah.
"Ternyata aku bisa masak dirumah dan tidak perlu boros memesan makanan," gumam Haura tersenyum.
Wanita itu lantas duduk lesehen di dapur sambil meneguk segelas air putih. Wajah Haura terlihat sangat pucat karena baru saja muntah di kamar mandi.
Demamnya juga tiba-tiba naik tengah malam, untung saja reda tanpa diobati.
Wanita itu keluar untuk jalan-jalan sekedar mencari sesuatu yang bisa dimakan agar perutnya tidak terasa sakit.
Langkah Haura berhenti tepat di depan pemilik Kontrakan ketika melihat wanita paruh baya berdiri sambil berkacak pinggang.
"Pagi Bu."
"Wanita semalam ya?"
"Iya Bu."
"Bagaimana kontrakannya? Nyaman kan?"
"Alhamdulillah sangat nyaman Bu. Ah iya di dapur ada kompor beserta gasnya, belum lagi perabotan lain untuk makan, apa saya bisa memakai semuanya?" tanya Haura hati-hati.
"Pakai saja, sebenarnya itu milik anak kuliahan yang keluar 3 hari yang lalu. Sepertinya tidak sempat mengambil barang-barang. Lagian ibu tidak butuh, apalagi bukan punya ibu." Wanita paruh baya itu tersenyum lebar.
Haura bernafas lega, dia sangat bersyukur karena dipertemukan oleh orang-orang baik saat kesusahan, terlebih semua urusannya seakan dipermudah oleh Allah.
Ternyata rencana Tuhan jauh lebih idah.
"Bu, di sini ada kedai yang dekat tidak?"
"Ah ada Neng, di ujung gang ada pejual sembako lengkap!"
"Makasih Bu."
Haura lantas membawa langkahnya menuju gang yang ditunjuk oleh ibu-ibu sambil membawa uang yang diberikan oleh Ezra.
Wanita itu membeli dua liter beras juga mie instan untuk penganjal perut sebelum mencari cara yang mungkin bisa menghemat uangnya sebelum mendapat pekerjaan.
Apa aku harus kembali lagi kerumah itu? Tapi aku takut mas Harun semakin membenciku.
Haura memandangi uang kembaliannya sambil berjalan pulang ke kontrakan.
Ijazah, surat nikah, akta kelahiran semuanya berada di rumah Harun. Haura sangat membutuhkannya untuk mencari pekerjaan yang lebih layak juga aman bagi kandungannya.
"Mari pikirkan nanti saja," gumam Haura.
Setelah sampai dirumah, wanita itu segera memasak nasi dengan kompor. Sambil menunggu, dia membereskan rumah yang tampak berdebu padahal baru ditinggal 3 hari oleh pemilik sebelumnya.
Haura mengusap keningnya yang penuh akan keringat. Duduk di lantasi sambil bersandar pada tembok karena kepalanya terasa sangat pening.
Di tengah-tengah dia memejamkan mata, Haura tersenyum. Bayangan Harun saat memijat kepalanya dengan lembut terlintas begitu saja.
Baru beberapa bulan Haura merasakan kasih sayang dari suaminya, tapi sekarang mereka harus berpisah karena kesalah pahaman. Kecewanya Haura bukan karena diusir dari rumah, melainkan ketidak percayaan Harun padanya.
"Hari ini tepat satu sahun pernikahan kita Mas, ternyata rencanaku dan rencana Tuhan tidaklah sejalan."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
Tati Suwarsih
sabar y ra...Allah menyayangi kamu
2023-10-16
3
anonim
semangat Haura
2023-09-24
1
Adfazha
Rencana Tuhan yg terbaik tuk mu Haura.. ikhlasin aja biar akan ada kebahagiaan nantinya
2023-04-04
2