Seperti rencanan sebelumnya, Haura ke pasar saat sore hari. Berjalan sendirian di trotoar jalan sambil menenteng kantong. Wanita itu dalam perjalanan pulang ke kontrakan setelah mendapatkan apa yang dia ingingkan di pasar.
Langkah Haura berhenti, kepalanya mendongak untuk memastikan siapa pemilik kaki yang baru saja menghadang jalannya.
"Bunda?" Wanita berbapakaian syar'i itu mengerjapkan matanya perlahan. Kemarin Harun, sekarang dia bertemu dengan Elena di waktu hampir sama.
"Bunda-bunda, aku bukan mertua kamu lagi! Harun sudah menalakmu malam itu!" cibir Elena bersedekap dada. Wanita itu datang untuk memastikan Haura benar-benar hamil atau tidak.
"Kau hamil?"
Haura bergeming, membuat Elena geram. Wanita paruh baya itu lantas mendorong pundak Haura cukup kasar.
"Kalau ada orang bertanya itu dijawab Haura, apa kau sudah tidak bisa bicara karena kepalaran? Kau hamil atau tidak?"
Haura memejamkan matanya, mencoba untuk tidak tersulut emosi karena wanita itu sadar emosi adalah hal paling berbahaya, apalagi jika mulut ikut berbicara.
Lidah itu setajam silet, jadi harus berhati-hati jika mengunakkannya karena takut melukai hati seseorang.
"Hamil atau tidaknya aku itu bukan urusan Bunda, karena aku bukan lagi istri mas Harun." Akhirnya Haura bicara.
"Berani-beraninya kau menjawab perkataanku!" Mengangkat tangannya untuk menampar Haura, tapi tangan itu mengantung diudara sebab cekalan dari Haura.
"Maaf Bunda, tapi aku tidak membiarkan diriku terluka lagi." Menatap Elena tanpa rasa takut. Haura sudah lelah ditindas terlebih saat difitnah dan berakhir berpisah dengan suaminya.
"Apa belum cukup Bunda memisahkan aku dengan mas Harun? Aku sudah pergi dari rumah karena fitnah yang Bunda berikan, jadi aku berharap setelah ini tidak ada lagi pertengkaran di antara kita." Haura kembali menundukkan tatapannya dan berjalan terburu-buru, terlebih dia merasa tidak nyaman menjadi pusat perhatian beberapa orang.
Lagipula posisi Haura dan Elena tepat berada di lampu lalu lintas dimana tatapan orang-orang akan menyerot jika lampu merah tiba.
"Dasar wanita murahan tidak tahu diri!" teriak Elena.
Haura menulikan pendengarannya dan terus saja melangkah dengan jantung berdegup kencang. Wanita itu mengira setelah keluar dari rumah, maka Elena tidak akan lagi menyakitinya.
Ada rasa syukur Haura rasakan karena diusir oleh Harun dari rumah, dengan begitu Elana tidak akan melukai calon anaknya.
***
"Apa kau sudah bosan menjadi dokter hingga berhenti? Run, aku tidak ada teman di rumah sakit!" Suara di seberang telpon melengking ditelinga Harun setelah surat mengunduran dirinya resmi keluar.
Hanya sementara, sampai hidungnya bisa mengirup aroma dengan normal.
"Jika tidak ada yang penting, matikan telponnya!"
"Ja-jangan! Kau harus tahu sesuatu tentang bundamu itu. Tadi sore aku melihat dia menemui Haura di pinggir jalan!" jelas Ezra.
Harun senyum sinis. "Jika kau sudah lelah ingin membuktikan Haura tidak bersalah, maka berhentilah. Jangan bawa-bawa bunda Elena dalam hal ini. Dia wanita baik, tidak mungkin melakukan hal sehina itu."
"Orang munafik ada dimana-mana Run, jangan tertipu. Coba periksa ponselmu!"
Harun lantas memeriksa pesan yang dikirimkan Ezra, berupa foto pinggir jalan. Dimana Haura tengah menahan tangan Elena yang terlihat meringis.
"Kau mengirimnya untuk apa? Membuktikan Haura telah berubah dan menyakiti bunda Elena, atau sebaliknya?"
"Goblok benar kamu jadi dokter. Sana kelaut saja dan jangan kembali lagi! Rugi Haura punya suami bodoh kayak kamu!" maki Ezra sebelum memutuskan sambungan telpon.
Pria itu tidak sempat mengambil video pertemuan Haura dan Elena sebab jalanan sedikit macet juga lampu hijau saat dia lewat.
Sementara Harun yang mendapat makian dari sahabatnya hanya bisa memejamkan mata.
" Kak Harun!"
"Hm."
"Buka dulu pintunya kak, aku mau bicara."
Harun segera bangkit dari duduknya dan membuka pintu kamar. Menatap Vivian dengan alis terangkat.
"Kenapa?"
"Bunda tadi izin sama aku, katanya mau ketemu kak Haura, pas pulang bunda nangis dan pipinya merah. Aku menyesal memberitahukan keberadaan kak Haura pada bunda." Vivian memperlihatkan ekspresi seolah-olah sedih.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
Afternoon Honey
memang goblok Harun itu....
2023-11-13
2
anonim
weh kadal cilik bertingkah neeehhh. Harun yg super bodoh apakah tetep tambah bodoh percaya sama aduan kadal cilik tentang kadal tua wkwkwk
2023-09-25
2
Sweet Girl
hedeh.... si Ular
2023-09-21
1