Melihat Haura masih bergeming di tempatnya, Ezra langsung saja menyetop taksi dan menyuruh wanita itu masuk. Jam 11 malam bukankah hal yang tepat bagi seorang wanita berkeliaran di jalan.
Apalagi perempuan seperti Haura yang polos dan terlalu baik bagi sesama manusia.
"Naiklah, di jalan ... ada kontrakan untuk wanita jika kau mau," ucap Ezra membuka pintu mobil setelah bicara dengan sopir taksi.
Dengan ragu akhirnya Haura masuk ke taksi, sebelum taksi itu melaju dia tidak lupa mengucapkan terimakasih pada Ezra yang ingin menolongnya.
Sepanjang jalan, Haura sibuk memperhatikan ponselnya dimana foto pernikahan mereka berada. Apa yang dikatakan Harun benar, harusnya dia tahu diri karena diterima oleh keluarga Edelweis dan bisa hidup mewah, padahal dulunya hanya anak pembantu di rumah tersebut.
Karena kamu sekarang sudah menikah, maka surgamu bukan lagi ada di telapak kaki ibu, tapi di telapak kaki suamimu Nak. Jangan pernah buat Harun kecewa apalagi menyakiti hatinya. Kamu beruntung karena Harun ingin menikahimu meski tanpa cinta.
Mengingat kalimat ibunya membuat air mata Haura kembali mengalir tanpa diminta. Harusnya sebagai anak pembantu dia sadar diri bahwa pernikahan terjadi hanya karena balas budi ayah Harun pada kedua orang tuanya, bukan karena cinta.
"Maaf bu, Haura gagal menjalankan amanah dari kalian. Maaf Ayah, Haura tidak bisa menjaga putra tampan ayah lagi."
Haura buru-buru menghapus air matanya ketika taksi berhenti di sebuah kawasan sederhana. Di sana bertuliskan.
Tersedia kontrakan untuk wanita, 500 Rp/ bulan.
Wanita itu lantas memandangi uang ditangannya yang berjumlah cukup banyak, bisa untuk dua bulan kontrakan di luar uang makan.
Haura segera turun dari taksi lalu mengulurkan uang pada sopir. Namun, pria itu menolak.
"Sudah dibayar sama pria tadi Neng, terimaksih."
Setelah mobil melaju meninggalkannya, Haura segera mengentuk pintu yang dia yakini ibu kontrakan karena di sisi pintu ada pemberiatahuan.
Tidak lama keluarlah seorang wanita dengan rambut acak-acakan, tentu saja semua orang sudah tidur, hanya Hauralah yang berkeliaran seperti orang gila.
"Apa masih ada kamar kosong Bu?"
"Ada, tapi masuk harus bayar dulu. Semuanya sudah lengkap air dan listrik. Peraturan ada di setiap pintu kontrakan, kalau melanggar maka akan kena denda!"
"Saya mengerti Bu."
Cukup lama Haura dan pemilik kontrakan berbincang-bincang sehingga Haura menyerahkan 5 lembar uang seraturan lalu mengambil kunci rumah dari ibu-ibu tersebut.
Haura menarik kopernya memasuki rumah dengan dua petak di dalamnya. Kontrakannya sudah termasuk murah untuk ukuran di ibu kota. Wanita itu lantas masuk ke kamar untuk mengganti baju lalu berwudhu sebelum melakukan sholat malam.
Dia tidak mempermasalahkan dengan kasur lantai yang sangat tipis untuk alas tidurnya, sebab dia sudah terbiasa saat sekolah dulu.
***
Harun, pria itu membuka matanya ketika matahari mulai menerpa wajah tampannya. Untuk pertama kalinya dia melewatlan sholat subuh karena tidak ada lagi Haura yang membanggungkan penuh kelembutan.
Tidak ada lagi suara mengaji yang mengalung indah di telinga Harun saat bangun tidur, senyuman manis Huara juga tidak dapat dia lihat setiap harinya.
Harun lantas mengelengkan kepalanya untuk mengusir bayangan Haura.
"Cukup Harun, dia bukan wanita yang baik. Dia wanita licik yang bersembunyi dengan wajah polosnya," ucapnya menyakinkan diri.
Pria itu segera mendi dan bersiap-siap ke rumah sakit sesuai jadwal yang telah diberikan oleh direktur rumah sakit.
"Akhirnya kamu bangun juga Nak, bunda sangat khawatir kamu kenapa-napa karena kepergian Haura," sambut Elena di meja makan.
Wanita paruh baya itu mengkode Vivian agar segera menyiapkan makanan untuk Harun seperti yang selalu Haura lakukan setiap pagi.
"Aku baik-baik saja," sahut Harun. Tidak ada lagi senyuman di wajah tampan pria itu.
"Aku tahu bagaimana kecewanya kak Harun, tapi sepertinya mengusir kak Haura bukan keputusan yang tepat kak." Vivian ikut duduk di samping Harun setelah menyiapkan sarapan.
"Yang dikatakan adikmu benar, Harun. Seharusnya kamu menyelidiki semuanya dan tidak mengusir Haura dari rumah Nak. Dia wanita baik dan ...."
"Bahkan kalian membelanya setelah dia berusaha memfitnah kalian." Harun meletakkan sendoknya di atas meja, selera makannya tiba-tiba hilang.
"Tidak ada kesempatan kedua untuk pengkhianat sepertinya!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
Bundanya Pandu Pharamadina
dua benalu tuh di depanmu (Harun) orang berduit tp bukan nya menyelidiki dulu kebenarannya
2024-09-13
0
revinurinsani
dasar muka dua si Kunti elena & vivian
2023-11-13
3
Dini Lestari
harun itu doktr kenapa ya... gk mau denger cerita haura ,cek cctv dong masa rmh dokter gk AdA cctv ,berpikir ulang harun kn kmu tau gimana baik nya haura
2023-11-07
2