Karena terus memikirkan perkataan Ezra, akhirnya Haura memutuskan untuk datang kerumah sakit memeriksakan kandungan, sekalian mengembalikan uang yang dipinjamkan oleh Ezra beberapa hari yang lalu.
Mendapatkan uang dari berjualan online bisa dikatakan cukup untuk membiayai hidupnya saat ini, terlebih ketika dibanjiri orderan yang membuatnya sedikit lelah juga kurang istirahat.
Wanita itu naik angkutan umum kerumah sakit karena bertujuan menghemat uangnya. Lagipula Haura sejak kecil terbiasa menggunakan angkutan umum jadi tidak masalah.
Haura turun dari bus setelah sampai di halte yang cukup jauh dari rumah sakit, berjalan di bawah teriknya matahari dan sesekali mengerutkan kening karena merasa silau.
Wanita itu menghela nafas panjang setelah sampai di lobi, mendudukkan diri sejenak sambil meneguk air minum yang dia bawa sejak tadi.
"Haura!"
Haura mengedarkan pandangannya untuk mencari siapa pemanggil tersebut. "Ezra?" Bangkit dari duduknya untuk menyambut kedatangan dokter Obgyn baik hati dan tentu saja tampan.
"Tidak perlu antri, langsung masuk saja keruangan aku!"
"Ak-aku mau dokter wanita saja," tolak Haura halus.
"Rumah sakit swasta tidak menerima BPJS, semuanya tentang uang. Apa kau yakin?"
Haura menghela nafas panjang, tentang uang, wanita berbada dua itu menyerah. Dia tidak mempunyai banyak uang untuk mendapatkan pelayanan dirumah sakit Edelweis.
Dengan langkah ragu, Haura mengikuti Ezra memasuki sebuah ruangan dan duduk di kursi.
Ezra meletakkan air minum di atas meja. "Jangan sungkang, anggap saja aku kakak iparmu, saudara laki-laki juga tidak masalah." Pria itu tersenyum tulus.
Menyukai? Kalimat itu jauhkanlah dari Ezra. Pria itu tulus tanpa ada embel-embel menyukai istri sahabatnya sendiri. Selama ini Ezra berusaha keras untuk mempersatukan Haura dan Harun kembali karena senang melihat keduanya hidup bahagia.
Terlebih keduanya sama-sama yatim piatu yang membutuhkan kasih sayang dan dukungan satu sama lain.
"Terimakasih."
Haura meneguk sedikit air minum tersebut sebagai betuk menghargai. Mengeluarkan sebuah amplop di dalam tasnya lalu menyerahkan pada Ezra.
"Makasih untuk semuanya, mungkin kalau bukan bantuan kamu, aku tidak tahu harus bagaimana lagi."
"Sama-sama." Ezra mengambil amplop yang dia yakini isinya adalah uang. Memasukkan ke laci dan berencana akan menyumbangkannya ke masjid nanti.
Memberikan uang pada Haura secara cuma-cuma hanya akan membuat wanita di hadapannya merasa dikasihani, dan Ezra tidak mau Haura merasa seperti itu.
Tidak ada pembicaraan selain tentang kesehatan di dalam ruangan itu. Ketika akan melakukan USG, Ezra meminta bantuan suster melakukannya karena sadar bukan mahram dari Haura.
"Usia kandungannya sudah memasuki bulan ke 3. Sebaiknya sering-seringlah makan daging, entah ayam, sapi, ataupun ikan. Juga sayur-sayuran dan susu. Kamu mengalami Anemia, itulah mengapa terlihat sangat pucat."
Ezra terus berbicara sambil meresepkan obat untuk Haura. "Jangan terlalu lelah dan bekerja keras."
***
Merasa lebih baik dari sebelumnya, Harun segera bersiap-siap untuk berkunjung ke rumah sakit. Bukan sebagai dokter, melainkan pemilik. Pria itu ingin membicarakan sesuatu secara langsung dengan Ezra.
Sebelum meninggalkan kamar, Harun menghubungi seseorang lebih dulu.
"Apa kau sibuk?" tanyanya pada seseorang di seberang telpon setelah sambungan terhubung.
"Tidak, kenapa?"
"Aku butuh remakan CCTV hotel ..., tanggal 2 bulan 4, jam 1 siang hingga 10 malam!" perintah Harun.
"Oke."
Harun memutuskan sambungan telponnya dan bergegas keluar kamar. Akhirnya pikiran pria itu terbuka setelah mendapat makian juga sholat istikharah untuk kedua kalinya semalam.
"Kamu mau pergi Nak? Tolong antar Vivian ke kampus!" pinta Elena lagi-lagi mencegah Harun pergi.
"Mobil Vivian mana?" tanya Harun menghentikan langkahnya sambil memasang jam di pergelangan tangan.
"Tangannya terluka karena jatuh di taman kemarin sore jadi Vivian tidak bisa mengemudi dengan benar. Bunda takut dia kenapa-napa di jalan."
"Baiklah."
Pria itu melangkah keluar rumah dan menunggu kedatangan Vivian, toh rumah sakit dan kampus adiknya searah jadi tidak akan memakan waktu lama.
"Aku senang kak Harun mau mengantar ke kampus." Vivian tersenyum lebar setelah berada di dalam mobil.
"Kenapa tidak, kamu kan adik kakak. Belajar yang rajin biar sukses." Mengelus rambut Vivian penuh kasih sayang. Dimata Harun, Vivian adalah gadis polos dan mengemaskan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
N Wage
emang si vivian menggemakan kok,saking gemesnyan pengen bejek2 dia pake cobek😠
2024-02-21
0
Dwi Setyaningrum
polos dan menggemaskan kata Harun😝😝 pengen muntah 🤪🤪
2023-12-13
0
revinurinsani
gemas dari mana yang ada gue tendang lho vivi
2023-11-13
2