Mendapat perlakuan buruk dari ibu mertua juga adik iparnya, tidak membuat Haura begitu bersedih. Wanita itu sudah terbiasa akan sikap Elena dan Vivian yang diluar batas wajar.
Haura juga tidak berniat mengadukan apapun pada suaminya karena tidak ingin Harun bersedih dan merasa bersalah sebab telah gagal menjadi suami yang baik untuknya. Terlebih pria itu baru saja kehilangan ayahnya beberapa bulan yang lalu.
Sekarang, Haura lagi-lagi ada di dapur untuk menyiapkan makan siang buat suaminya, tentu saja akan mengantar sendiri ke rumah sakit sekalian memberi semangat untuk Harun. Semua Haura lakukan untuk menebus beberapa hari yang dia lewatkan memanjakan pria itu karena tiba-tiba demam.
Senyuman wanita berpakaian syar'i itu mengembang sempurna setelah berhasil memasukkan makanan ke rantang nasi. Dia merongoh saku gamisnya untuk mengambil ponsel, lalu menghubungi Harun untuk meminta izin dan memberitahukan bahwa dia akan datang.
Hanya dalam satu deringan, panggilannya sudah dijawab oleh suami tercinta.
"Mas Harun sibuk?" tanya Haura setelah sambungan telpon terhubung.
"Tidak, kenapa? Apa kamu demam lagi Ra?" Suara harun terdengar khawatir di seberang telpon.
"Aku cuma bertanya Mas. Ini aku mau nganter makan siang kerumah sakit, boleh tidak?"
Senyuman Harun di seberang telpon langsung merekah mendapat perhatian kecil dari istrinya. Menikah karena perjodohan ternyata tidak selamanya buruk, terbukti hubungan Harun dan Haura baik-baik saja.
Saling menerima satu sama lain, juga menyelesailan masalah dengan kepala dingin.
"Boleh, mas tunggu ya. Oh iya kesini naik taksi saja jangan angkutan umum, matahari terlalu panas!"
"Iya mas."
Haura lantas memutuskan sambungan telponnya, lalu segera bersiap-siap untuk pergi agar Harun tidak menunggu terlalu lama atau kelaparan. Wanita itu Menenteng rantang nasi dengan senyuman mengembang.
Lagi dan lagi langkah Haura harus berhenti karena cegatan Elena di ambang pintu rumah. Wanita paruh baya yang berstatus sebagai mertuanya bersedekap dada sambil meneliti penampilan Haura dari ujung kaki sampai kepala.
"Mau kemana kamu?" tanyanya sinis. Kebencian selalu menyertai sorot mata Elena jika bicara pada Haura.
"Mau nganterin makan siang buat mas Harun, Bunda. Setelahnya aku balik untuk mengerjakan semua pekerjaan rumah."
"Tidak usah caper kamu sama Harun, putraku tidak mungkin menyukai anak pembantu sepertimu! Selama ini dia baik hanya karena bentuk tanggung jawab dan menjalankan amanah dari ayahnya." Tanpa izin, Elena langsung merebut rantang di tangan Haura lalu menyerahkan pada Vivian yang berdiri di sampingnya
"Vi, antar ini kerumah sakit. Dan kau?" Menatap Haura tajam. "Sana pergi!" Mendorong pundak Haura kasar.
Wanita dengan pakaian Syar'i itu hanya bisa mengalah untuk menghindari pertengkaran satu sama lain. Segera membalik tubuhnya untuk menuju kamar.
Sabar Haura, siapapun yang mengantar makanan itu tidak masalah yang penting mas Harun makan.
***
Rumah sakit
Harun terus saja senyum-senyum sendiri membayangkan istrinya akan datang untuk membawakan makan siang. Pria itu telah membereskan ruangannya agar terlihat lebih rapi, tidak lupa menyemprotkan parfum agar aroma obat tidak terlalu menyengat.
"Bahagia banget, ada apa nih?"
Harun mendelik melihat sahabatnya Ezra tiba-tiba masuk tanpa permisi.
"Istri aku bakal datang, sana keluar!"
"Ekhem, sekarang sudah berani mengakui istri. Kapan nih ngungkapin perasaanya? Perempuan juga butuh kepastian dan kata-kata bro, bukan hanya sekedar tindakan."
"Besok."
"Kenapa harus besok, sekarang saja bagaimana? Mumpung Haura berkunjung. Lagian ya sekarang mah sulit nemu perempuan sesempurna dia, Run. Udah cantik, baik hati, solehah lagi." Ezra menaikkan turunkan alisnya menggoda. Pria itu tahu betul sahabatnya sedang malu-malu kucing untuk mengakui perasaanya pada Haura, padahal mereka sudah menikah satu tahun kurang 1 hari.
"Besok aniversarry pertama kami, aku bakal ngungkapin perasaan saat itu tiba. Jadi keluar dari ruangan aku sekarang juga! Haura sebentar lagi sampai!"
Harun beranjak dari duduknya lalu mendorong Ezra keluar dari ruangan. Sahabatnya itu memang sedikit ceplas-ceplos jika mengatakan sesuatu, tapi pandai menjaga rahasia.
Sepeninggalan Ezra, Harun terus memandangi pintu berharap seseorang membukanya dengan cepat.
Dokter saraf bernama lengkap Harun Chaiden Edelweis itu, sebenarnya sudah menyukai istrinya sejak lama. Hanya saja belum mengungkapkan perasaan karena belum menemukan waktu yang tepat.
Dan mungkin besok adalah waktu yang tepat untuk Harun mengungkapkan perasaan yang sebenarnya.
"Akhirnya kamu datang juga ...." Ucapan Harun terhenti ketika yang datang malah adiknya.
"Bukannya Haura yang bakal datang, Vi?" Kening Harun mengkerut.
"Awalnya gitu kak, tapi kak Haura tiba-tiba ada urusan penting yang entah apa, jadi dia yang menyuruhku untuk membawanya," jawab Vivian menarik kursi lalu duduk tepat di samping Harun. Wanita itu tersenyum sangat manis hanya untuk menarik perhatian kakak tirinya. Sementara Harun tampak acuh.
"Kenapa, kak Harun tidak suka aku yang datang?"
Harun mengelengkan kepalanya. "Tidak, hanya saja aku mengira Haura yang akan datang. Makasih ya Vi, untuk makan siangnya."
Vivian mengangguk dan menyajikan menu yang dimasak oleh Haura di atas meja. Sesekali melirik Harun yang tampak lebih tampan dengan jas dokter di tubuhnya.
Harusnya yang menjadi istri kak Harun itu aku, bukan Haura. Lihat saja, sebentar lagi kak Harun akan menjadi milikku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
Tri Utari Agustina
Bikin emosi adik ipar dan ibu mertua semoga ketahuan kelakuan buruk terhadap istrinya
2024-03-15
2
Dini Lestari
tlpon dong haura suamimu katakan kmu d LarAng ke rumah sakit sama elena gitu aja susah ,pakai juga pikiran kmu jgn mau d tindas terusss
2023-11-07
2
Haryati Yati
kapan Haura berhenti jadi perempuan bodoh yg di sakit selalu
2023-10-29
2