Jam sebelas
Dhea menggigit bibirnya hingga berdarah. Banyak sudah pengunjung yang keluar masuk kafe, tapi tidak satu pun orang yang dia tunggu itu muncul di hadapannya.
Bahkan di saat aku sudah benar-benar meminta padanya, doa tetap saja tidak peduli. Sekali, hanya sekali saja dia membuatku senang, apa begitu berat baginya?
Dhea menunduk dalam-dalam, mengusap sudut matanya yang sudah berair.
Pelayan kafe yang ada di sana diam-diam memperhatikan gadis itu. Pengunjung pertama yang datang, bahkan sudah setengah hari, tapi masih setia duduk di tempat yang sama, tanpa ada satu orang pun yang mendatanginya.
Kalau memang sedang menunggu seseorang, kenapa tidak pulang saja jika sudah berjam-jam menunggu tanpa kepastian.
Kalau memang suka dengan menu di kafe ini, kenapa sejak tadi hanya memesan satu gelas lemon tea hangat saja?
Dhea meremas tangannya, mengatur nafas berkali-kali untuk mengurangi rasa sakit di hatinya. Tapi tetap saja tidak bisa. Ini adalah kesempatan terakhir untuknya.
Kak, besok aku akan pergi. Apa kau tidak bisa memberikan satu saja kenangan indah untukku?
Dhea mengambil buku di tas kecilnya. Di dalam buku itu, ada banyak foto-foto Vean. Foto yang dia cetak diam-diam. Sebenarnya di foto itu juga ada Fio, tapi Dhea menggunting foto Fio dan menempelkan foto Vean dan dia saja.
Banyak hal-hal yang dia rasakan, dia tulis di buku itu.
Bahkan di saat aku merendahkan harga diriku di hadapan kamu, kamu tetap tidak mau peduli. Aku tahu aku bukan siapa-siapa. Aku bukan gadis kaya seperti Fio. Bukan anak orang kaya seperti dia.
Yang terakhir, ini yang terakhir kalinya aku berharap padamu. Aku tidak mau lagi menjadi orang bodoh yang mengemis cinta. Berbahagialah kamu dengannya. Aku tidak akan lagi mengganggu kamu. Terima kasih karena sudah menjadi cinta pertamaku. Terima kasih sudah membuat aku sangat paham, kalau ternyata mencintai itu tak selalu indah. Bahkan di saat aku belum merasakan keindahan itu, rasa sakit yang berkali-kali yang aku rasakan.
Apa mungkin harus seperti itu? Yang kaya dengan yang kaya, yang miskin dengan yang miskin.
Maafkan aku yang terlalu berharap padamu. Maafkan aku, yang selalu membuat kamu risih saat sedang bersamaku. Maafkan aku, yang selalu menjadi orang ketiga saat kamu dan Fio pergi berkencan. Maafkan aku, kalau rasa cinta ini, sudah membebani kamu.
Aku tahu, kalau cinta tak harus saling memiliki. Terima kasih sudah hadir dalam hidupku. Menjadi orang pertama di hatiku, meskipun aku hanya pengemis di pintu cintamu.
Selamat berbahagia. Meski bukan aku yang berdampingan dengan kamu, aku akan selalu mendoakan kamu.
Dhea menghentikan tulisannya. Memandang foto-foto dia dan Vean. Kemudian dia kembali menulis.
Semua yang ada pada dirimu, aku suka. Sikapmu yang dingin, tatapan matamu yang tajam, dan suaramu yang selalu terdengar datar. Setidaknya, aku bersyukur Fio bersama pria yang tepat, meskipun aku sangat cemburu hingga hatiku begitu remuk.
Akan aku jadikan kamu kenangan yang terindah. Meski aku bukanlah yang terindah bagi dirimu. Aku titik sahabat terbaikku. Dan maaf, bukan aku bermaksud mengkhianati Fio. Aku hanya ingin merasakan satu hari saja kebahagiaan bersama kamu, meski tetap saja tidak kamu ijinkan.
Aku ikhlaskan kamu, cinta pertamaku. Aku relakan kamu bersama dengan dirinya, karena aku sadar, kamu tercipta bukan untukku diriku.
Aku akan tetap mengingatmu dalam hatiku. Goodbye my love.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 307 Episodes
Comments
Nadia
gak tau itu dinyata atau di novel Karo ngliat cewek kaya Dea ini bikin muak aja, cinta boleh bodoh jgn, jgn merendahkan martabat perempuan
2024-04-15
1
dwi bella
tulisan nya agak ribet yaa.
2023-11-10
0
Dian Purnama Sari Sari
Bukan obsesi dN bukan bodoh... hanya saja cinta yang tak terbalas... cinta Dhea tulus tapi tak terbalas
2023-08-25
3