“Makan yang banyak, Dhe, biar gemuk.” Juna menambahkan sate ke piring Dhea. Fio yang melihat itu tentu saja merasa sangat senang. Dia ingin Dhea dekat dengan pria lain, jadi bisa melupakan Vean.
Mereka tiba di vila larut malam. Ini adalah vila milik keluarga Fio. Fio memang anak orang kaya, tidak aneh bagi Dhea kalau keluarganya punya vila di sini.
“Ada banyak kamar di sini, kalian bisa pilih mana yang kalian suka. Dhe, kamu mau tidur sama aku atau di kamar sendiri?”
“Hmm ... aku sendiri saja deh, Fi. Enggak apa-apa, kan?”
“Oke, enggak apa.”
Mereka mulai melihat beberapa pintu. Tangan Dhea dan Vean memegang handle pintu yang sama.
“Aku cari kamar lain,” ucap mereka bersamaan.
Akhirnya Vean yang pergi lebih dulu, membiarkan Dhea yang menempati kamar itu, sedangkan dia memilih kamar di sebelahnya. Dhea memasuki kamar yang bernuansa putih itu, dan meletakkan tasnya di atas kasur, kemudian membersihkan diri.
Pagi-pagi sekali, Dhea sudah duduk di halaman vila.
“Ya ampun, Dhe. Jauh-jauh kamu ke sini, tetap saja belajar.”
“Kan aku sudah bilang, Fi, kalau aku mau belajar. Apalagi masih lagi dan udara sangat sejuk, ditambah pemandangan yang bagus. Belajar di pagi hari lebih mudah diserap oleh otak.”
“Ya ya ya, terserah kamu saja, lah.”
“Oya, kalau nanti kalian mau jalan-jalan, ya jalan-jalan saja. Aku enggak apa kok, di sini.”
“Iya, deh.” Fio tidak akan memaksa Dhea kalau gadis itu sudah memegang buku. Mau diajak liburan ke sini saja sudah bersyukur.
Setelah sarapan bersama, Dhea kembali ke kamarnya.
“Kita jalan-jalan, yuk.”
“Kalian berdua saja, lah. Kalau nanti aku ikut, paling jadi obat nyamuk.”
“Ayo, Vean.”
Vean mengikuti langkah Fio, akhirnya hanya mereka berdua saja yang pergi jalan-jalan. Pintu kamar Dhea diketuk, Dhea langsung beranjak dari kasurnya untuk membukakan pintu.
“Kak Juna?”
“Aku punya sesuatu untuk kamu.”
Juna mengajak Dhea ke balkon, di sana sudah ada beberapa buku kedokteran. Dhea tersenyum melihat buku-buku itu yang memang sangat dia butuhkan.
“Ini semua untuk kamu, jadi tidak perlu kamu kembalikan. Oya, ayo ikut aku. Bawa juga buku-buku itu.” Juna mengajak Dhea ke suatu tempat.
“Di sini tempatnya nyaman, pemandangannya juga bagus, jadi enak belajar di sini.”
Dhea mengangguk, lalu duduk begitu saja di atas bebatuan. Dhea sibuk membaca buku, begitu juga dengan Juna yang sibuk membaca buku. Tanpa terasa waktu sudah berlalu cukup lama. Keduanya langsung pulang ke vila dengan berjalan kaki.
“Yadi katanya enggak mau jalan-jalan. Eh, malah jalan berdua, cieee ...,” goda Fio.
“Apaan sih, Fi. Orang kak Juna meminjamkan aku buku, terus belajar bareng.” Fio dan Vean melihat buku-buku yang Dhea bawa. Jelas itu buku memang dari Juna.
“Pokoknya besok kita jalan-jalan. Masa liburan tapi masing-masing, sih.”
Mengikuti kemauan Fio, akhirnya keesokan harinya mereka jalan-jalan bersama. Dhea melirik Vean dan Fio yang bergandengan tangan.
Andai saja dia dan Vean yang bergandengan tangan.
Andai saja dia yang membuat Vean tersenyum.
Andai saja dia yang dicintai oleh Vean.
Andai saja dia, dia dan dia ....
Tapi itu bukan dia.
Dia hanyalah gadis biasa yang tidak memiliki apa-apa.
Malam itu, mereka menonton film yang sudah didownload oleh Fio, disambungkan ke layar televisi.
Kisah cinta segitiga. Di mana salah satu tokohnya menangis dan berjanji akan memisahkan pasangan kekasih itu dengan cara apa pun.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 307 Episodes
Comments
Eli Vianda
mana lanjutan crta ttg fio
2023-08-15
2
#ayu.kurniaa_
.
2023-07-07
2
Aska
jgn terlalu berharap yang tidak pasti Dhe
2023-05-28
5