Vean melirik Dhea, terlihat wajah gadis itu yang sedih. Vean kembali teringat saat pertama kali dia tahu kalau Fio ternyata sahabat Dhea.
Flashback On
“Vean, aku mau mengenalkan sahabat aku sama kamu.”
“Sahabat?”
“Iya.”
Tidak lama kemudian Dhea datang, membuat Vean langsung diam dengan tatapan tak percaya.
“Hai, Fi.”
“Hai, Dhe. Kenalkan, ini pacar aku yang sering aku ceritakan padamu.”
Jantung Dhea berdetak kencang saat melihat Vean yang duduk di hadapan Fio. Tadi dia tidak melihat Vean karena posisi duduk Vean yang membelakangi Dhea.
“Pacar kamu? Ini pacar kamu?”
“Iya. Vean, ini Dhea, sahabat aku.”
Dhea tersenyum, meski dalam hati, sakitnya bukan main.
“Aku tidak pernah tahu, kalau dia sahabat kamu.”
“Dulu kami satu SD, SMP berpisah. Terus SMA satu sekolah lagi, dan kebetulan satu kelas.”
Vean mengangguk, dilihatnya Dhea yang menunduk, mungkin menahan tangis.
“Vean?”
“Ya?”
“Kenapa bengong? Filmnya sudah habis. Ini juga si Dhea, malah ketiduran.”
“Bangun, Dhe!” Fio berusaha membangunkan Dhea, tetapi gadis itu tetap tidak bangun juga.
“Biar aku yang menggendong ke kamarnya,” ucap Juna.
Pria muda itu lalu menggendong Dhea ke kamarnya. Setelah memastikan Juna sudah keluar dari kamar Dhea, Vean bari masuk ke kamarnya sendiri, sedangkan Fio sudah tidak ada sejak tadi.
Liburan mereka berakhir hari ini. Liburan yang sepertinya hanya benar-benar dinikmati oleh Fio saja. Dhea lebih suka belajar, Juna lebih memilih mengajarkan Dhea, ya sekalian belajar untuk dirinya sendiri juga. Sedangkan Vena juga tugas kuliah dan pekerjaannya di sela-sela liburan ini.
Vean sendiri saat ini masih menyandang status mahasiswa tingkat empat—atau akhir—tapi dia sudah bekerja di perusahaan ayahnya. Sedangkan Juna juga seorang mahasiswa kedokteran. Karena itulah, dia suka menemani Dhea belajar, daripada menemani orang pacaran.
Mereka kembali ke aktivitas masing-masing. Wali kelas Dhea memanggilnya ke ruang guru.
"Dhea, ini formulir beasiswa kamu. Karena kamu sudah tidak punya kedua orang tua dan kerabat satu pun, jadi saya akan menjadi wali kamu. Kepala sekolah juga sudah memberikan rekomendasinya kepada pihak universitas."
"Terima kasih banyak, Pak."
"Kamu harus semangat. Oya, ini saya bawakan beberapa soal mengenai kedokteran. Saya dapatkan ini dari kakak ipar saya yang juga berprofesi sebagai dokter."
"Sekali lagi terima kasih, Pak."
"Sama-sama."
Dhea lalu meninggalkan ruang guru itu dengan wajah ceria. Di genggamannya, ada setumpuk soal-soal kedokteran.
"Apa itu?" tanya Fio.
"Soal kedokteran."
Mendengar perkataan Dhea, Fio langsung meringis. Melihatnya saja gadis itu sudah pusing duluan.
"Ayo ke kantin."
Kedua sahabat itu akhirnya ke kantin juga. Fio memilih makan ayam, sedangkan Dhea hanya membeli roti saja.
"Cuma itu?"
"Iya."
Fio menghela nafas, dia lalu memesankan mie ayam juga untuk Dhea.
"Eh, jangan Fio."
"Dah, pokoknya kamu harus makan yang sama kaya aku."
Dia gelas es jeruk juga sudah ada di atas meja. Sambil makan, Fio sibuk berkirim pesan dengan Vean. Dhea yang melirik nama di ponsel Fio, merasakan nyeri di hatinya.
Kenapa Fio sangat beruntung?
Memiliki kedua orang tua yang lengkap, hidup bergelimang harta, dan memiliki Vean?
Bahkan Fio juga tidak perlu repot-repot belajar keras, karena masa depannya sudah sangat jelas. Tetap bisa kuah di tempat elit dan setelah itu bekerja di perusahaan papanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 307 Episodes
Comments
Tavia Dewi
hati busuk,,,,maka y saya paling tidak mau punya kawan cewek suka iri sama teman atau merebut barang kawan sendiri
2023-11-26
1
Maya Sari Niken
bagus,tpi sayang typo bertebaran dmna2
setiap bab typo nya bnyak
2023-08-09
5
Fhebrie
semoga fio juga selalu baik sm dhea
2023-08-08
2