Sementara Dhea sibuk belajar dan mulai mem-packing barang-barangnya, Fio dan Vean juga sibuk menyiapkan acara pertunangan mereka.
Sebenarnya acara pertunangan mereka berdua sudah diurus oleh pihak keluarga, hanya saja Fio ingin menambahkan beberapa hal yang dia sukai. Vean hanya menuruti saja apa yang Fio inginkan. Apa Kun yang gadis itu suka dan bisa membuat dia senang, maka tidak ada masalah dari Vean.
"Yang, kua makan siang dulu, yuk."
"Kamu mau makan apa?"
"Gimana kalau kita makan masakan Korea saja."
"Oke."
Fio tersenyum senang. Dia bahagia karena Vena selalu menuruti semua keinginannya. Mungkin itu juga sebabnya, dia tidak terlalu khawatir Vean akan direbut oleh Dhea. Vean orang yang setia, juga patuh pada kedua orang tuanya. Sikapnya memang selalu cuek dan terkesan dingin, tapi tidak pernah berulah apalagi menimbulkan masalah.
Mereka tiba di restoran Korea. Fio memilih beberapa menu kesukaannya.
"Iya, tolong take away menu-menu ini, ya."
"Baik, Nona."
"Memang yang ini masih kurang?"
"Ini untuk Dhea. Aku suka kesal lihat dia hanya makan mie, roti, atau tahu tempe saja."
Vean langsung mengangkat wajahnya.
"Dia pulang sekolah langsung kerja, Kukang kerja langsung belajar. Kan harus makan makanan yang sehat dan bergizi. Uang hasil kerjanya sebagian dia tabung, buat bayar kosan dan kebutuhan sehari-hari. Dia kerja keras untuk biaya kuliahnya."
"Hai, kalian juga di sini?"
"Hai, Jun. Iya nih, ayo sini duduk sama kami."
Juna duduk bersama Vean dan Fio.
"Juna, kamu kalau suka sama Dhea, cepat bertindak. Akhir-akhir ini Dhea sering senyum-sendiri, jangan-jangan dia lagi dekat dengan seorang pria."
"Apaan sih, Fi."
"Pokoknya aku harus tahu, siapa yang sedang dekat dengan Dhea. Jangan sampai tuh cowok hanya mempermainkan Dhea saja."
"Kamu sudah kaya mamanya saja, Fi."
"Iya dong, Dhea itu kan sudah tidak punya siapa-siapa. Jadi aku yang harus menjaganya."
Selesai makan, mereka bertiga langsung ke kosan Qya. Hari ini Qya libur kerja, jadi sudah pasti ada di kosan.
"Kalian ngapain ke sini?"
"Aku numpang rebahan bentar, Dhe."
Fio menggandeng tangan Vean. Mereka bertiga masuk ke kamar Dhea yang ukurannya sangat kecil. Ada kamar mandi kecil di dalam kamar itu. Dhea memang sengaja mencari kosan yang ada kamar mandi dalamnya, agar tidak saling berebut dengan penghuni kos yang lain.
Vean dan Juna yang belum pernah masuk ke dalam kamar itu, meringis melihat kamar Dhea yang keseluruhannya bahkan lebih kecil daripada kamar mandi di dalam kamar mereka. Hanya ada kasur lipat tipis di lantai. Meja kecil dan buku-buku. Dia piring, dua gelas, dan dia sendok garpu. Ada satu lemari plastik.
"Maaf ya, kamarnya kecil banget."
"Santai saja, Dhe," ucap Juna.
Mereka duduk di lantai tanpa karpet. Buku-buku Dhea berantakan di atas meja kecil dan di lantai. Dhea menunduk malu saat melihat Vean yang merasa tidak nyaman dengan keadaan kamarnya. Dalam hati Dhea, pria itu pasti membandingkan kamar dia dengan kamar Fio.
Ya jangan dibandingkan, karena memang berbeda sangat jauh. Bagai bumi dan langit.
"Dhea, ini aku bawakan makan dan minuman untuk kamu."
"Makasih, Fi."
Dhea melihat logo di bungkusan makan itu. Makanan mahal. Lalu dia melirik roti di atas mejanya. Roti warung yang harganya hanya dua ribu dan sebungkus mie instan.
Gadis itu menghela nafas berat.
Kalau dibandingkan dengan Fio, aku memang tidak ada apa-apanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 307 Episodes
Comments
Priyanti
koq ak jd nanggis ya,baca nasib dhea
2023-12-08
2
💞🎗Yannie🎗💞
tipa part ny sedikit msh bntk typo jg
2023-08-10
1
Mukmini Salasiyanti
mmg tdk ada apa apanya..
no problemo
tp kamu..
Dhea kamu....
aqu syaluutttt padamu...!!!
2023-08-01
1