"Ada yang harus aku katakan padamu ...."
"Apa?"
"Ini mengenai kondisi Vean. Dari hasil pemeriksaan, dia mengalami cedera yang cukup serius. Salah satu ginjalnya mengalami kerusakan dan harus segera dilakukan operasi ...."
"Apa maksud kamu?"
"Sepertinya saat kecelakaan terjadi, terjadi benturan hebat yang mengakibatkan organ di dalam tubuhnya mengalami cedera."
"Jadi dia hanya akan hidup dengan satu ginjal saja?"
"Itu benar, kecuali kita bisa mendapatkan donornya."
"Kalau begitu cari."
"Bicara memang mudah, Candra, tapi tidak semudah itu juga merealisasikannya. Haris ada yang bersedia mendonorkan ginjalnya, juga dilakukan pemeriksaan apakah ginjal itu cocok untuk Vean atau tidak. Karena kalau pun ada pendonor, kalau ginjalnya tidak cocok, tetap tidak bisa dilakukan."
Candra mengacak rambutnya frustasi.
"Cobaan apa lagi ini, Tuhan?"
"Aku juga akan berusaha mencarikan tanpa perlu kamu minta. Vean itu keponakan aku, aku akan memberikan yang terbaik untuk dia." Bram menepuk punggung Candra, dia sangat tahu bagaimana perasaan Candra, karena dia juga punya anak laki-laki. Bahkan Candra lebih dulu pernah merasa kehilangan.
"Apa yang harus aku katakan pada Frisca?"
Belum juga Vean sadar, sudah ada lagi berita buruk yang harus diterimanya. Ujian apa ini? Dosa apa yang keluarganya lakukan?
Candra berjalan lunglai menuju ruangan Vean. Ada Frisca dan Fio yang duduk di ruang tamu kamar Vean.
"Sayang, ada apa?"
"Oh, aku hanya kelelahan saja."
"Istirahatlah, jangan Samali kamu juga sakit."
"Iya Sayang, jangan khawatirkan aku."
Candra memejamkan matanya, dia harus segera mendapatkan pendonor ginjal itu. Anaknya hanya satu, masih muda, jalan hidupnya masih panjang. Siapa yang akan meneruskan perusahaan? Siapa yang akan memberikannya cucu?
Berbagai pikiran berkecamuk di otaknya. Rasanya bebannya terlalu berat, dan untuk saat ini, dia belum bisa berbagi dengan istrinya.
Pintu Kemabli terbuka. Mila datang membawakan makanan untuk mereka. Dia juga sedih melihat keadaan Vean yang seperti ini. Dia yang melihat Fio seperti itu saja merasa berat, apalagi kedua orang tua Vean yang harus melihat anak mereka satu-satunya seperti ini?
"Aku bawakan makanan untuk kalian. Jangan sampai telat makan dan sakit, nanti siapa yang menjaga Vean?"
Mereka akhirnya makan bersama. Juna dan mamanya yang bernama Bianca juga datang membawakan buah-buahan untuk menjaga kondisi kese yang menjaga. Lalu datang Bram dan papanya Fio yang bernama Gerald.
Mereka berkumpul di ruangan VVIP itu, menatap pintu ruangan ICU yang ada di bagian dalam ruangan itu.
...💦💦💦...
Teman-teman Vean beberapa kali menjenguk, mendoakan agar Vean segera sadar dari komanya.
"Ada yang mau aku bicarakan dengan kalian."
Candra sudah tidak lagi bisa menyimpan semua ini, terutama dari istrinya. Cepat atau lambat mereka semua akan tahu juga, dan lebih cepat lebih baik.
"Ada apa? Kenapa kamu terlihat sangat serius dan cemas begitu?" tanya Frisca.
"Ini tentang Vean ...."
"Enggak, jangan bilang Om akan melepaskan semua alat-alat penunjang kehidupan Vean? Om mau melepaskan Vean?" tanya Fio.
"Sayang, kenapa bicara begitu? Kamu dengarkan dulu baik-baik apa yang ingin om Bram katakan. Lagi pula tidak mungkin om Bram berniat seperti itu," ucap Gerald.
"Jadi, apa yang akan kamu katakan, Sayang. Tolong jangan membaut aku takut!"
"Salah satu ginjal Vean mengalami kerusakan, dan harus mendapatkan pendonor ginjal."
"Apa!"
"Kalian pasti mendengar dengan perkataan aku dengan baik, kan? Dsn aku tidak ingin mengulanginya lagi."
Pendonor ginjal?
Tapi siapa dan di mana?
Semua terdiam, kenapa ujian datang bertubi-tubi? Belum cukupkan apa yang mereka rasakan saat ini?
"Aku sudah menghubungi teman-teman dsn berbagai rumahbsakit untuk mendapatkan informasi. Mudah-mudahan saja bisa segera kita dapatkan dan cocok untuk Vean."
"Berapa pun yang orang itu minta, berikan saja. Harta masih bisa dicari, tapi anak sambat berharga daripada apa pun."
"Aku juga akan menghubungi teman-teman aku," ucap Juna.
Karena dia kuliah kedokteran di universitas ternama, sudah pasti Juna juga memiliki relasi yang cukup besar.
Fio juga menghubungi teman-temannya, meminta bantuan untuk mencarikan donor ginjal. Jadi kembali teringat dengan Dhea. Biasanya Dhea yang akan menjadi teman curhat, berbagi suka dan duka bersama. Tapi kini, dia jadi merasa sendiri. Ya memang ada teman satu kampus, tapi rasanya berbeda.
Masing-masing dari mereka langsung menghubungi rekan-rekannya. Gerald juga tidak tinggal diam, bagaimana pun juga, Vean itu calon menantunya, tentu saja dia akan menolong.
Vean merasa tenang di sana. Di sana tidak ada siapa pun, cocok dengan dirinya yang tidak terlalu menyukai kebisingan. Tempat itu terlihat indah, dan sejuk. Vean duduk di atas sesuatu yang dia sendiri bingung untuk mendeskripsikannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 307 Episodes
Comments
Diana Puji Astuti
byk salah ketiknya Thor...jd hrs mikir dulu maksudnya apa...
2023-10-26
2
Fhebrie
Dhea yg mendonorkan ginjal untuk vean dn darah untuk fio
2023-08-08
1
Yenti Ovi
cerita nya bagus cm sering kali salah tulis
2023-07-09
12