Ceraikan Dia

Mulai hari itu, Tania semakin bersemangat untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi pada rumah tangga sang adik. Kakak kandung Robby itu semakin sering mendatangi rumah adiknya untuk mencari jawaban atas kecurigaannya selama ini. 

"Aku harus mendapatkan bukti bahwa ada yang tidak beres dengan rumah tangga mereka," gumam Tania bertekad. 

Sepertinya keberuntungan sedang berpihak pada Tania. Jika kedatangannya ke rumah Robby selama ini hanya berbuah kekecewaan, kedatangannya saat ini justru berbuah manis. 

Tania sedang menguping di depan pintu rumah sang adik. Tadi ketika dia akan mengetuk pintu, Tania terpaksa menghentikan kegiatannya saat mendengar suara keributan dari dalam rumah. 

"Cukup, Mas. Sampai kapan kamu terus mengungkit hal itu? Mana janji kamu yang akan menyayangi aku dan Alam dengan tulus?" 

"Janji, kamu masih bisa menanyakan janji itu, Rin? Janji itu hanya berlaku jika Alam adalah anak kandungku. Tapi apa nyatanya? Dia tidak berasal dari benihku, 'kan?" 

Tania membulatkan matanya ketika mendengar suara sang adik yang sedikit keras, bukan hanya itu saja, perkataan yang terucap oleh adik bungsunya itu benar-benar membuatnya terkejut. 

"Alam bukan anak kandung Robby? Itu artinya Zarina mengkhianati pernikahannya dengan Robby?" Monolog Tania dengan ekspresi tidak terima. 

Walau selama ini tidak pernah menyukai Zarina, nyatanya kenyataan yang dia ketahui saat ini membuatnya merasakan sesak. Robby, adik tersayangnya di khianati oleh istri yang selama ini diperlakukan bagai ratu. 

"Kalau benar anak itu bukan anak Robby, kenapa dia tidak menceraikan wanita mur*han itu?" Gumamnya lirih. 

Tangan kanan Tania terulur menggapai handle pintu lalu membuka paksa pintu rumah sang adik. Begitu pintu terbuka, kedua orang yang berada di dalam langsung menoleh. Tania, menatap Zarina dengan sinis. 

"Mbak Tania," pekik Robby dan Zarina kompak. 

"Kalian kaget dengan kedatanganku?"

"Sejak kapan Mbak Tania datang?" tanya balik Zarina. 

"Itu tidak penting, Rin! Yang jelas sekarang aku sudah mendapat jawaban atas kecurigaanku selama ini." 

"Jawaban apa, Mbak?" tanya Zarina lagi dengan ekspresi cemas. 

Tania enggan menjawab, wanita dewasa itu beralih menatap sang adik yang sejak tadi hanya diam tanpa kata. Tania mendekati Robby yang membuat adiknya itu terpaksa ikut menatapnya. 

"Kenapa, Rob?" tanya Tania tegas. 

Robby belum juga memberi jawaban. Laki-laki itu sedang merasa bimbang untuk menceritakan masalah yang hadir di kehidupannya atau memendamnya seorang diri. 

"Rob, Mbak tahu kamu sedang hancur sekarang. Ceritakan pada Mbak apa yang sebenarnya terjadi?" Tania memaksa Robby untuk jujur padanya. 

Robby beralih menatap Zarina yang juga menatapnya dengan sendu. Robby tahu, wanita yang begitu dia cintai selama ini tidak ingin permasalahan rumah tangganya diketahui oleh keluarganya. Namun, Robby juga manusia biasa yang membutuhkan seseorang untuk membantunya mencari jalan keluar atas permasalahan yang sekarang dia hadapi. 

"Mbak tanya sekali lagi, Rob. Apa benar apa yang tadi mbak dengar bahwa Alam bukan anakmu?" tanya Tania menuntut. 

"Be-nar, Mbak." Robby menjawab pertanyaan Tania tanpa mengalihkan pandangannya dari sang istri. 

Wajah Tania langsung memerah saat mendengar pengakuan dari sang adik. Rasa tidak terima atas pengkhianatan yang dilakukan oleh wanita yang selama ini dibela oleh Robby membuat Tania kini berbalik ke arah Zarina. 

"Kurang ajar!"

Sebuah tamparan keras dihadiahkan oleh Tania kepada Zarina yang hanya bisa terdiam sambil memegang pipinya yang terasa kebas. Sementara itu, Robby pun hanya bisa memejamkan matanya ketika sang kakak melakukan hal tersebut. 

"Tamparan ini tidak sebanding dengan kelakuan bej*t kamu, Rina. Kurang apa adikku sampai kau tega mengkhianatinya?" 

"Mas Robby tidak kurang apapun, Mbak. Semua ini memang salahku," jawab Zarina tanpa menutupi keburukannya sekarang. 

"Bagus kalau memang kau sadar bahwa itu kesalahanmu. Sejak awal aku memang tidak pernah merestui hubungan kalian!" 

Senyum kecut menghiasi bibir Robby. Rasa sesal karena tidak pernah menuruti ucapan sang kakak kini datang menghampiri. 

"Ceraikan dia, Rob!" perintah Zarina tegas. 

Robby langsung beralih menatap Tania. Meskipun pengkhianatan yang dilakukan oleh Zarina benar-benar membuatnya hancur, nyatanya rasa cinta itu belum juga hilang. Robby masih amat sangat mencintai wanita yang sudah tega berselingkuh hingga memiliki anak dari laki-laki lain tersebut. 

"Aku tidak bisa, Mbak." 

"Kenapa tidak bisa?" Tania berbalik dan menatap heran Robby. 

"Aku bertahan demi ibu, Mbak." 

Selain rasa cinta yang masih dia miliki untuk Zarina, Robby juga memikirkan keadaan Mariana yang mungkin akan syok jika mengetahui kebenaran itu. 

"Kamu jangan menjadikan ibu alasan, Rob! Apa yang dilakukan oleh Zarina benar-benar tidak bisa dimaafkan. Seburuk apapun rumah tangga, tidak dibenarkan seorang istri menduakan suami hingga menjajakan tub*hnya kepada laki-laki lain." 

Ucapan Tania barusan sangat terasa menyakitkan untuk Zarina. Meskipun apa yang di ucapkan memang benar. Zarina pun tidak memiliki alasan untuk membela diri. 

"Tapi … aku masih menci–" 

"Lupakan cinta butamu itu, Rob! Kamu itu laki-laki, jangan pernah mau diinjak-injak harga dirinya oleh istri tidak tahu diri sepertinya!" sembur Tania semakin geram. 

Tania benar-benar tidak menyangka adiknya akan selemah ini. Setelah pengkhianatan yang diterima, laki-laki itu tidak kunjung memberikan sanksi tegas kepada istrinya. Tania tidak ingin Robby menjadi laki-laki bodoh yang mau memaafkan kesalahan besar yang dilakukan Zarina. 

"Wanita tidak hanya Zarina, Rob. Masih banyak wanita yang mau menjadi pasanganmu di luar sana," lanjut Tania saat sang adik hanya diam saja. 

"Rin, jika kamu masih memiliki harga diri. Tinggalkan Robby! Biarkan dia bahagia meski tanpamu. Dia berhak mendapatkan wanita baik-baik," ucap Tania beralih pada Zarina. 

"Baik, Mbak. Rina akan membawa Alam pergi dari rumah ini. Aku tahu kesalahan yang sudah aku lakukan tidak bisa dimaafkan," jawab Zarina dengan cepat dan tanpa ragu. 

Selama ini Zarina memang merasa bersalah dan tidak pantas bersama dengan Robby. Namun, untuk berpisah pun Zarina merasa belum sanggup. Tetapi sekarang kondisi sudah berbeda, keluarga suaminya itu sudah mengetahui kebenaran yang selama ini mereka rahasiakan. 

Setiap keluarga tidak akan pernah bisa menerima jika anggota keluarganya dikhianati oleh pasangannya. Terlebih Robby merupakan laki-laki baik tanpa cela. 

Robby pun sangat terkejut dengan jawaban Zarina. Walau dia belum bisa memaafkan kesalahan Zarina, tetapi dia belum siap berpisah dengan wanita yang masih bertahta dihatinya. 

"Mas Robby, semua ini memang kesalahanku. Aku minta maaf untuk itu. Aku juga akan membawa Alam pergi dari sini. Kamu urus saja berkas perceraian kita. Jujur kamu adalah laki-laki terbaik yang pernah ada di hidupku, Mas," ucap Zarina dengan bibir bergetar. 

Keputusan yang diambil olehnya sekarang adalah keputusan yang berat. Namun, demi kebaikan bersama dan kebahagiaan Robby, Zarina ikhlas menerima takdir. Lagi pula rumah tangga mereka memang sudah tidak sehat, selalu bertengkar setiap harinya. 

"Tidak perlu banyak omong kosong, Rin. Jika Robby laki-laki terbaik menurutmu, kamu tidak mungkin mengkhianatinya."

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!