Suami Siaga

Karena kehamilan dan saran dokter agar Zarina tidak terlalu lelah, akhirnya Robby melarang istrinya untuk tetap menerima pesanan kue. Laki-laki itu meminta sang istri untuk fokus dengan kehamilannya saja. 

"Tapi, Mas. Kalau nanti aku kesepian bagaimana?" tanya Zarina setelah mendengar Robby kembali melarangnya untuk tetap berjualan. 

"Nanti biar aku minta ibu datang ke sini untuk menemani kamu," jawab Robby yang tentu saja tidak bisa lagi di tawar. 

Dengan sangat terpaksa, Zarina mengikuti permintaan Robby untuk fokus pada kandungannya. Wanita itu menolak semua pesanan untuk sementara waktu. 

Dua hari berlalu, ibu mertua Zarina benar-benar datang atas permintaan Robby. Sejak hari itu Zarina mendapat perhatian yang berlimpah dari Robby dan mertuanya.

"Bu, biar Rina yang mencuci piring," tegur Zarina saat mertuanya sibuk di dapur. 

"Tidak perlu, Rin. Biar ibu saja, lagi pula kamu harus banyak istirahat," tolak Mariana, mertua Zarina. 

"Tapi, ibu juga harus istirahat. Ingat kesehatan jantung ibu," timpal Zarina.

Mertuanya itu memang memiliki masalah pada jantung. Sudah beberapa tahun kebelakang wanita paruh baya itu menderita penyakit organ yang sudah parah. Namun, rasa bahagia karena akan segera memiliki cucu membuatnya mengesampingkan kesehatannya. 

Awalnya Robby meminta sang ibu untuk tinggal bersama mereka hanya untuk menemani Zarina. Bukan untuk membiarkan wanita paruh baya itu untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga. 

"Ya sudah, ibu akan istirahat setelah selesai mencuci piring," pungkasnya tanpa mau dibantah. 

Zarina merasa bersalah karena sang mertua begitu memperlakukannya dengan baik. Meskipun dulu saat awal pernikahan, keluarga Robby sempat menolaknya. Namun, akhirnya sang mertua luluh setelah mendapat kabar kehamilannya. 

Sore harinya Robby yang baru pulang dari pekerjaannya langsung bergegas ke dapur untuk memasak. Laki-laki itu benar-benar over protective setelah sang istri hamil. Dia sama sekali tidak membiarkan Zarina mengerjakan apapun dengan alasan tidak ingin istrinya kelelahan. 

"Masak apa, Mas?" tanya Zarina menghampiri suaminya di dapur. 

"Sayur sop, ayam goreng, dan sambal, Sayang. Oh iya, kamu bisa tolong ambilkan kantong di motorku tidak? Aku lupa membawanya ke sini," pinta Robby kepada Zarina. 

Wanita itu pun menurut. Dia bergegas menuju tempat di mana motor suaminya berada. Di sana memang ada satu kantong plastik hitam. Zarina mengambil kantong itu dan segera kembali ke dapur. 

"Ini isinya apa, Mas?" tanya Zarina penasaran. 

"Itu susu hamil, Rin. Aku sengaja beli buat kamu," jawabnya tanpa menghentikan kegiatan memasaknya. 

Zarina tersenyum senang dengan perhatian-perhatian yang diberikan oleh suaminya. Hany saja ada sesuatu yang mengganjal dan menjadi penghalang kebahagiaannya. 

"Bagus, Rob. Kamu memang harus lebih peka dan perhatian saat istrimu hamil," ujar Mariani yang tiba-tiba datang. 

"Ibu. Tentu saja, Bu. Rina sudah bersedia mengandung anakku saja sudah untung. Aku tidak mungkin bisa membayar pengorbanannya dengan apapun," jawab Robby sambil mengangkat ayam goreng yang sudah matang. 

"Mas Robby dan Ibu jangan terlalu menyanjungku, aku jadi merasa tidak enak." 

"Tidak apa-apa, Rin. Ibu memang mendidik Robby seperti ini. Dia tidak boleh meremehkan istri yang sedang hamil," ujar sang ibu mertua. 

Betapa bahagianya menjadi seorang Zarina. Dia mendapatkan kasih sayang berlimpah saat hamil. Hal yang mungkin tidak semua suami melakukannya. Zarina merasa sangat beruntung karena Robby memperlakukannya dengan baik. 

"Ya sudah, ayo kita makan!" ajak Robby setelah masakannya sudah selesai. 

Laki-laki yang sebenarnya sudah sangat lelah bekerja itu dengan telaten menyajikan masakannya di atas meja makan. Dia sebagai seorang laki-laki yang justru melayani kedua wanita tercintanya tanpa mengeluh. 

Ketiga orang itu menyantap makan malam bersama dengan rukun dan damai. Setiap hari itulah yang selalu dilakukan oleh Robby setelah kehamilan sang istri. Dia bertekad akan selalu meratukan Zarina semampunya meski dia pun sadar bukan golongan orang-orang mampu.  

Saat malam hari pun Robby masih saja memanjakan sang istri dengan cara memijat kaki wanita hamil itu. Zarina menatap haru sang suami yang semakin lama semakin terlihat bahagia. Tidak pernah sekalipun Zarina melihat suaminya itu menggerutu karena harus mengurus segalanya seorang diri. 

"Mas, maafkan aku. Kamu terlalu baik, aku takut kebaikan kamu ini justru membawa kamu pada luka dan kehancuran. Setelah anak ini lahir, aku akan melakukan tes DNA untuk memastikan anak ini memang darah dagingmu, Mas Robby," batin Zarina bertekad. 

Berbulan-bulan telah berlalu, perut Zarina kini mulai membesar dengan berjalannya waktu. Setiap pemeriksaan, Robby tidak pernah absen. Laki-laki itu selalu menyempatkan diri untuk mengantar istrinya periksa kandungan.

"Bagaimana keadaan istri dan calon anak saya, Dok?" tanya Robby antusias setelah dokter melakukan beberapa pemeriksaan. 

"Janin dalam kandungan istri Bapak dalam keadaan sehat, Ibu Zarina juga sangat sehat. Sepertinya anda mengurus mereka dengan sangat baik, Pak," puji sang dokter kepada Robby. 

 "Saya hanya mengikuti saran dari dokter, Dok. Semua juga demi anak saya," jawabnya dengan santai tanpa beban. 

"Ibu Zarina beruntung sekali, tidak semua suami memperlakukan istrinya seistimewa ini, loh, Bu. Terkadang banyak pasien saya yang justru mengeluh karena suaminya kurang perhatian," ujar sang dokter beralih pada Zarina. 

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!