Sikap Ketus Tania

Selesai melakukan pemeriksaan kehamilan Zarina yang dalam keadaan sehat, mereka berdua pun pulang ke rumahnya. Ketika sampai di rumah, mereka sedikit terkejut saat ternyata ada kakak kandung Robby yang datang berkunjung. 

"Loh, Mbak kapan datang?" tanya Robby saat melihat sang kakak duduk bersebelahan dengan ibunya. 

Robby membantu Zarina untuk duduk di kursi kayu yang berhadapan dengan kakak serta ibunya. Zarina hanya mengangguk saat tidak sengaja bersitatap dengan kakak iparnya. 

"Dari tadi, sih!" 

"Oh, kenapa tidak bilang dulu. Kalau tahu mbak akan datang, Robby bisa jemput Mbak," ujar Robby. 

"Memangnya ada aturan kalau mbak datang ke sini harus kasih kabar dulu?" tanyanya ketus. 

Wanita yang usianya lebih tua tujuh tahun dari Robby itu menatap tidak suka pada Zarina. Sejak dulu, dia memang tidak pernah menyetujui jika sang adik menikahi Zarina dengan alasan wanita itu adalah seorang anak yang tidak jelas asal-usulnya. 

"Bukan begitu, Mbak. Maksud Robby cuma –" 

"Cuma istrimu tidak suka dengan kedatangan mbak," selanya kasar. 

"Tania!" tegur sang ibu saat putri pertamanya itu justru seperti berniat menabuh genderang perang. 

"Loh, kenapa, Bu? Apa yang Tania bilang itu memang benar." 

Zarina memegang lengan suaminya saat laki-laki itu hendak menjawab ucapan pedas sang kakak. Robby seketika menatap datar sang istri. Namun, Zarina justru menanggapinya dengan gelengan kepala. 

Robby tahu, istrinya itu pasti melarangnya untuk berdebat dengan sang kakak. Tidak ingin suasana semakin panas, Robby pun akhirnya menuruti larangan Zarina. 

"Kalau kamu di sini hanya untuk membuat keributan, lebih baik pulang sana!" usir sang ibu yang merasa tidak enak kepada menantunya. 

"Ibu mengusirku?" 

"Ibu hanya tidak mau ada keributan. Kasihan Zarina sedang mengandung," jelas sang ibu. 

Tania melirik sinis ke arah adik iparnya itu. Lagi-lagi dia dimarahi oleh ibunya karena Zarina. Padahal, sejak tadi wanita hamil itu hanya diam saja. 

"Maaf, Mbak. Kami ke dalam dulu," pamit Robby yang langsung menarik pelan tangan istrinya. 

Tanpa menunggu jawaban, Robby menuntun istrinya berjalan menuju kamar. Laki-laki itu takut jika sikap sang kakak akan membuat Zarina tertekan. 

Wanita berperut buncit itu hanya menurut saat sang suami mengajaknya masuk ke kamar. Zarina sebenarnya memang tidak nyaman saat kakak iparnya itu datang. Namun, sekalipun tidak pernah mengatakannya pada sang suami. 

"Mas, aku tidak enak sama Mbak Tania," ujarnya saat sudah duduk di pinggiran ranjang. 

"Nggak usah di pikirkan, Rin. Mbak Tania sudah sejak dulu seperti itu," pungkas Robby tidak ingin sang istri banyak pikiran. 

"Sudah wajar Mbak Tania seperti itu, Mas. Dia kan dulu ingin kamu–" 

"Hust, jangan bahas itu lagi, Rin! Aku hanya mencintai kamu. Dulu, sekarang, esok, sampai nanti." 

 Zarina tersenyum kecut saat mendengar pengakuan Robby. Begitu besar cinta laki-laki itu padanya. Namun, dia masih saja mengkhianatinya dengan begitu kejam. 

"Terima kasih, Mas," ujarnya tulus. 

"Ya sudah. Kamu istirahat saja, aku buatkan jus buah dulu untuk kamu." 

Zarina menuruti perintah suaminya, membaringkan tubuhnya di ranjang. Melihat betapa perhatian dan siaganya Robby mengurusnya sejak kehamilan membuatnya sangat bersyukur. 

Robby langsung berjalan menuju dapur untuk membuatkan jus buah untuk istrinya. Tania ternyata belum pulang. Wanita dewasa itu sedang memakan mi instan yang dia buat sendiri di dapur. Sesekali Tania melirik Robby yang sedang sibuk mengupas buah mangga. 

"Kamu mau bikin apa, Rob?" tanyanya sambil menyantap semangkuk mie di depannya. 

"Jus buat Rina, Mbak. Dokter bilang buah sangat baik untuk kehamilan," jawab Robby tanpa menghentikan kegiatannya. 

Tania berdecak, "Hebat sekali istrimu itu ya, dia diperlakukan seperti ratu di rumah ini." 

Robby melirik sekilas tanpa berniat meladeni kakaknya yang memang sejak dulu tidak pernah suka pada Zarina. Laki-laki itu justru sibuk memasukkan buah yang sudah dikupas ke dalam blander dan segera membuat minuman sehat untuk sang istri. 

"Kamu itu jangan terlalu memanjakan istrimu, Rob. Nanti dia ngelunjak!" Lagi-lagi Tania mengoceh saat Robby hanya diam saja. 

"Aku tidak keberatan, Mbak. Dia memang tanggung jawabku," ujarnya santai. 

Robby berlalu meninggalkan sang kakak saat dia telah selesai membuat minuman sehat untuk Zarina. Laki-laki itu sebenarnya jengah dengan kata-kata pedas yang selalu terlontar dari mulut Tania. 

"Rob, kamu pasti menyesal suatu saat nanti karena tidak pernah menghiraukan nasihat mbak!" teriak Tania kesal. 

Tania semakin jengkel saat adiknya sama sekali tidak menghiraukan nasihat serta ucapannya. Menurut wanita dewasa itu, sang adik terlalu lemah hingga menjadi budak cinta dari wanita seperti Zarina.

Robby sendiri juga ikut gerah dengan kata-kata sang kakak yang selalu menganggap Zarina tidak pernah benar. Selain itu, dia juga merasa sang kakak terlalu banyak ikut campur masalah rumah tangganya. Padahal, dia sendiri sama sekali tidak pernah ikut campur dalam urusan apapun sang kakak sebelum wanita itu meminta tolong padanya. 

"Mas, kenapa mukanya cemberut gitu?" tanya Zarina saat melihat ekspresi wajah suaminya. 

"Biasalah, Mbak Tania selalu saja ingin ikut campur urusan kita, Sayang." Robby menjawab pertanyaan sang istri sambil menyerahkan jus mangga buatannya. 

"Maklumi saja, Mas. Mungkin Mbak Tania hanya ingin yang terbaik untuk kamu," jawabnya seraya menerima segelas jus yang dibuat dengan penuh cinta. 

"Kamu yang terbaik, Rin. Aku tidak menginginkan apa-apa lagi!" 

"Kamu salah, Mas. Aku hanya wanita kotor yang tidak berani mengungkapkan kesalahan terbesarku," batin Zarina menyalahkan dirinya. 

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!