Keesokan harinya Zarina bangun lebih dulu. Wanita berparas cantik itu sudah berjibaku dengan peralatan membuat kue. Pesanan hari ini lumayan banyak membuatnya sibuk membuat pesanan para pelanggannya.
Sepasang tangan kekar melingkar di pinggangnya. Zarina sempat terjingkat kaget saat mendapat serangan tiba-tiba. Namun, dia tersenyum manis saat mendengar suara serak suaminya.
"Sudah bangun, Mas?" tanya Zarina tanpa menghentikan kegiatannya.
"Eem, tidurku sangat nyenyak setelah mendapat jatahku tadi malam. Terima kasih, Sayang." Robby mengecup ceruk leher Zarina.
"Mas, maaf. Aku sedang banyak pesanan! Nanti malam saja, ya?"
Zarina tahu, Robby pasti ingin kembali melanjutkan kegiatan mereka semalam. Sudah sejak dulu suaminya itu tidak pernah puas jika melakukannya hanya sekali.
"Baiklah-baik, tapi nanti malam boleh dua ronde, ya?"
Robby melakukan penawaran lebih dulu. Laki-laki itu tidak mau rugi karena sudah lama sekali tidak mendapat jatahnya sebagai seorang suami.
"Iya-iya. Sepuas kamu, Mas!"
"Okey, siap-siap nanti malam kamu pasti aku buat lemas," guraunya seraya melepaskan pelukan.
Laki-laki yang hanya mengenakan celana pendek itu mendudukkan diri di kursi. Menatap sang istri yang memang terlihat sangat sibuk.
"Sayang, maaf, ya! Kamu jadi harus bekerja keras seperti ini. Tapi kamu tenang saja, aku akan mencari kerja dengan bersungguh-sungguh," tekadnya dengan yakin.
"Semoga cepat menemukan pekerjaan ya, Mas," timpal Zarina disertai senyuman.
Robby akhirnya bangkit dan langsung pergi menuju kamar mandi. Sementara itu, Zarina menghentikan pekerjaannya sejenak untuk membuatkan kopi serta menyajikan pisang goreng untuk suaminya.
Begitu selesai membersihkan diri dan memakai pakaian rapi, Robby duduk di ruang tamu. Tidak lama berselang, Zarina datang membawa secangkir kopi serta sepiring pisang goreng buatannya.
"Sarapannya ini dulu ya, Mas. Aku tidak sempat masak," ujarnya seraya menaruh makanan serta minuman di hadapan Robby.
"Tidak apa-apa, Rin. Ini sudah lebih dari cukup, kok!"
Tanpa menunggu waktu lama Robby segera menyantap makanan serta minuman yang disajikan istrinya. Laki-laki itu tidak pernah sekalipun membiarkan masakan istrinya terbuang sia-sia selain saat pertengkaran mereka berbulan-bulan yang lalu.
"Aku tinggal dulu, yah, Mas. Pekerjaanku masih banyak," pamit Zarina yang langsung disetujui oleh Robby.
Robby menatap sang istri yang terlihat sangat-sangat sibuk. Jauh di lubuk hatinya dia pun merasa tidak tega dengan apa yang sekarang dirasakan Zarina. Namun, harus bagaimana lagi, sampai saat ini dia belum juga mendapatkan pekerjaan.
Selesai menyantap sarapan sederhana yang dibuat dengan penuh cinta oleh istrinya, Robby pun berpamitan untuk keluar mencari pekerjaan. Zarina tentu saja merespon dengan baik.
Zarina kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda karena mengantar suaminya hingga ke depan rumah. Laki-laki itu berangkat dengan menggunakan sepeda motornya.
Dering ponsel mengalihkan perhatian Zarina yang sedang sibuk membuat beragam pesanan dari pelanggannya. Takut jika panggilan tersebut berasal dari pelanggan yang hendak memesan kue darinya, Zarina pun mengambil ponsel miliknya itu.
Terkejut, itulah yang dirasakan Zarina saat ini. Nama seseorang yang sedang berusaha dia hindari tiba-tiba terpampang di layar ponsel miliknya. Tidak ingin mengulang kebodohan yang sama, Zarina memutuskan untuk menolak panggilan tersebut.
"Maaf, Dafis. Tapi semua di antara kita sudah selesai. Aku tidak ingin jatuh pada lubang yang sama! Kau sudah memiliki istri, begitu juga dengan aku yang telah bersuami," gumam Zarina yang kini memutuskan untuk mematikan daya ponselnya agar laki-laki itu tidak lagi menghubunginya.
Zarina kembali memfokuskan diri untuk membuat pesanan para pelanggan. Dia benar-benar ingin membuang jauh-jauh semua yang berkaitan dengan Dafis, laki-laki yang sempat menjalani hubungan gelap dengannya.
Menjelang siang hari rumah Zarina sudah mulai di datangi oleh para pemesan kue miliknya. Mereka silih berganti datang untuk mengambil pesanan. Karena Zarina memang sudah sepakat untuk tidak melayani delivery order dan hanya melayani orang yang mau mengunjungi rumahnya saja.
"Terima kasih, Mbak. Semoga puas dengan hasil pekerjaan saya," ujar Zarina kepada setiap pelanggannya.
"Kue kamu itu tidak diragukan lagi kelezatannya, Rina. Tidak mungkin kami kecewa," puji para pelanggannya itu.
"He-he-he, bisa saja, Mbak. Saya juga belum terlalu pandai membuat kue, kok!"
Begitulah Zarina melayani pelanggannya dengan ramah dan sopan. Setiap pelanggan merasa puas atas pekerjaan serta pelayanan Zarina. Namun, dari kejauhan tampak seseorang sedang mengintai wanita itu.
"Aku pasti menghancurkan kamu, dasar pelakor!"
Saat seseorang yang sedang mengintai Zarina itu hendak pergi dari sana, tiba-tiba seorang laki-laki turun dari motornya. Seseorang itu pun mengurungkan niatnya untuk pergi dan justru mengambil ponsel. Seseorang itu mengarahkan ponsel yang sudah dalam keadaan siap rekam itu ke arah rumah orang yang sedang dia intai.
Zarina yang awalnya sedang berdiri di depan teras rumahnya bergegas masuk setelah melihat kedatangan laki-laki itu. Tidak mau kehilangan momen laki-laki itu pun mengejar langkah Zarina dan mencekal pergelangan tangannya.
"Zara, tunggu!" teriak laki-laki itu yang tidak dipedulikan oleh Zarina.
"Zara, kau mau berhenti atau aku buat keributan di sini?"
Laki-laki itu mengancam karena sepertinya sang wanita hendak menghindarinya. Mendapatkan ancaman itu, Zarina terpaksa menghentikan langkah. Dengan takut-takut dia membalik tubuhnya.
"Mau apa kamu kesini, Dafis? Aku tidak mempunyai urusan apapun lagi dengan kamu."
"Kenapa kamu menghindariku? Apakah aku memiliki salah?" tanyanya tanpa malu.
"Salah? Jelas salah, Davis! Kau sudah beristri. Dan aku pun sudah bersuami!" Untuk pertama kalinya Zarina mengakui status sebenarnya di hadapan teman kencannya itu.
"Aku tidak peduli dengan itu. Kita saling menyukai, Zara! Mari berjuang untuk perasaan kita!" ajak Dafis tanpa berpikir.
Zarina menatap tajam laki-laki yang pernah berkeringat bersamanya itu. Ternyata keputusannya untuk dekat dengan laki-laki itu adalah keputusan yang paling bodoh yang pernah dia ambil.
"Aku tidak akan melakukan kebodohan dan kesalahan yang sama, Dafis! Sebaiknya kamu pergi dari sini sebelum aku panggilkan warga."
Ancaman serius Zarina akhirnya membuat Dafis pergi membawa kekecewaan. Laki-laki yang ingin kembali merasakan kehangatan dari wanita pujaannya itu hanya bisa memaki kegagalan yang dia dapatkan.
"Ternyata benar firasatku. Kalian sudah berselingkuh di belakangku. Lihat saja nanti, aku pasti akan menghancurkan kamu, Wanita mur*han!"
Robby baru saja pulang setelah matahari terbenam. Zarina sempat khawatir karena suaminya itu tidak kunjung pulang. Namun, sekarang hatinya sudah lega setelah melihat suaminya dalam keadaan baik-baik saja.
"Mas tumben pulang sampai jam segini?" tanya Zarina setelah Robby duduk di sofa sampingnya.
Zarina menatap wajah suaminya yang terlihat sangat lelah. Namun, seperti ada sesuatu yang membuat laki-laki itu bahagia. Entah apa, Zarina pun tidak mengerti.
"Kamu tahu, Sayang?" tanyanya dengan nada senang.
"Tidak, Mas. Ada apa?" tanya balik Zarina sambil mengerutkan keningnya.
"Aku sudah dapat pekerjaan, lho!" serunya antusias.
"Beneran, Mas? Kamu enggak bohong?"
"Beneran, lah! Semoga bermanfaat untuk kita, ya, Sayang."
"Semoga ya, Mas. Selamat ya, aku ikut senang," ucapnya tulus.
"Kalau pekerjaanku sudah lancar lagi, kamu tidak perlu capek-capek bikin kue lagi, Sayang!"
Zarina terdiam sejenak. Sejujurnya dia sudah mulai terbiasa melakukan pekerjaan itu dan sudah nyaman. Lagi pula dia bisa berpenghasilan meski hanya berada di rumah saja. Apa salahnya jika usaha itu tetap berjalan meski suaminya kini telah mendapatkan pekerjaan lagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments