Pada suatu hari, Zarina memutuskan untuk mendatangi rumah sakit guna melakukan tes DNA atas suami serta anaknya. Berbekal rambut dari Robby dan Alam, Zarina memberanikan diri untuk mencari kebenaran atas keraguannya selama ini.
"Aku tidak bisa selalu menyimpan keraguan ini seumur hidup. Aku harus memastikannya sendiri agar tidak selalu hidup dalam bayang-bayang masa lalu," ujarnya ketika sampai di rumah sakit.
Zarina mendaftar kemudian petugas di rumah sakit itu meminta sample yang akan menjadi bahan uji di laboratorium. Wanita itu menyerahkan dua kantong kecil berisi beberapa helai rambut suami serta anaknya.
"Baik, silahkan menunggu hasilnya, Bu. Kami akan memberi kabar jika hasilnya sudah keluar," ucap petugas dengan ramah.
"Baiklah, terima kasih."
Wanita beranak satu itu pulang masih dengan keraguan yang mengganjal di hatinya. Zarina belum bisa bernapas dengan tenang sebelum memastikan kebenaran tentang sang putra yang kini berada di rumah.
"Kamu dari mana, Rin? Tumben pagi-pagi udah pergi." Robby yang sedang menikmati secangkir kopi di teras rumah bertanya saat melihat istrinya baru saja dari luar.
Meski gugup karena kepergiannya diketahui oleh sang suami, akan tetapi Zarina masih berusaha menutupinya. Wanita itu bersikap begitu tenang meski sebenarnya hatinya sedang tidak karuan.
"Aku dari rumah Melan, Mas. Dia tadi minta jemput dari stasiun," jawabnya berbohong.
Robby tentu saja percaya, karena Melani adalah sahabat Zarina sejak kecil. Istrinya itu sudah terbiasa saling tolong dengan sahabatnya saat salah satu dari mereka butuh bantuan.
"Oh, aku kira ke mana. Eh iya, Alam tadi di bawa ibu keluar," ujar Robby memberitahu.
"Ya, Mas. Enggak apa-apa. Aku masuk dulu, yah!"
"Kenapa buru-buru? Sekali-kali temani suamimu ngobrol."
"Nanti ya, Mas. Aku mau mandi dulu," tolak Zarina selembut mungkin.
"Ya sudah kalau begitu. Nanti ke sini, yah!" pinta Robby yang hanya diangguki oleh Zarina.
Keraguan dalam diri Zarina yang akhirnya menjadi penghalang kebahagiaan dalam rumah tangga itu. Setiap hari, Zarina selalu dibayang-bayangi oleh perasaan bersalah dan sesal yang begitu dalam.
Meski Robby selalu berusaha membuat hubungan mereka hangat, nyatanya Zarina masih sedikit menjaga jarak. Sebelum hasil tesnya keluar, Zarina masih belum merasa lega.
"Sayang, kamu kenapa, sih?" Robby yang baru saja masuk ke kamar dan mendapati sang istri sedang melamun.
Zarina mengerjap setelah Robby menegurnya, "Ah, tidak apa-apa, Mas. Alam sama ibu sudah pulang belum?"
"Sudah. Itu lagi dimandiin sama ibu," jawabnya singkat.
"Ya sudah, aku lihat Alam dulu. Kasihan ibu kalau terlalu capek," ujarnya kemudian bangkit dan keluar dari kamar.
Robby sedikit curiga dengan sikap Zarina akhir-akhir ini. Istrinya itu sering kali kedapatan sedang melamun. Entah apa yang mengganggu pikirannya, sampai saat ini Robby belum juga menemukan jawaban.
"Kamu seperti sedang menutup-nutupi sesuatu dariku, Rin. Aku harap itu bukanlah masalah yang besar untuk kita," ujar Robby dengan pelan.
Inilah saat yang dinantikan oleh Zarina tiba. Pihak rumah sakit sudah mengabarkan bahwa hasil DNA yang tempo hari dilakukan oleh Zarina sudah keluar. Wanita itu buru-buru datang setelah mendapat kabar tersebut.
Zarina berjalan dengan tergesa-gesa menemui seorang dokter. Perasaannya saat ini benar-benar tidak karuan. Zarina ingin segera memastikan kebenarannya, wanita itu berharap bahwa Alam merupakan benih cinta yang ditabur oleh Robby.
"Bagaimana hasilnya, Dok?" tanya Zarina dengan jantung berdebar.
"Silahkan ibu lihat dulu hasilnya."
Dokter itu mengulurkan sebuah surat di atas meja kepada Zarina. Wanita itu menatap surat tersebut dengan perasaan ragu. Jika tadi dia begitu bersemangat untuk segera tahu hasilnya, berbeda dengan saat ini. Zarina justru merasa takut jika keraguannya selama ini benar-benar terbukti.
Helaan napas panjang terdengar sebelum tangan kanan Zarina menggapai sebuah surat di dalam amplop coklat yang diulurkan oleh dokter. Meski takut, Zarina memberanikan dirinya untuk mengetahui jawaban atas keraguannya selama ini.
Pelan-pelan Zarina membuka amplop tersebut, menarik keluar sebuah surat yang akan menentukan nasib rumah tangganya dengan Robby. Zarina memejamkan matanya sejenak sebelum akhirnya membuka surat berisi hasil DNA Robby dan Alam.
"Ini enggak mungkin!" lirih Zarina setelah membaca isi dari lembaran surat penting tersebut.
Tubuhnya saat ini terasa lemas. Tangan kirinya meremas rok yang dipakainya sebagai pelampiasan emosinya saat ini. Zarina hancur setelah mengetahui hasil DNA Robby dan Alam ternyata negatif. Itu artinya sang putra tidak berasal dari benih sang suami, Robby.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments