Suami Siaga

Kandungan Zarina kini sudah mulai memasuki usia sembilan bulan. Detik-detik kelahiran anak yang selama ini ditunggu-tunggu oleh Robby pun semakin dekat. Zarina mulai susah berjalan karena kakinya yang semakin bengkak. Tidurnya pun tidak pernah nyenyak seiring dengan membesarnya perut wanita itu. 

Robby benar-benar kasihan melihat kondisi sang istri yang terlihat sangat tersiksa di minggu-minggu terakhir kehamilan. Sebagai suami siaga, dia pun sampai cuti bekerja karena mengkhawatirkan keadaan istrinya yang bisa melahirkan kapan saja. 

"Rin, maaf ya. Demi mengandung dan melahirkan keturunanku, kamu jadi susah begini." Robby berkata sambil memijat pelan punggung istrinya. 

"Tidak apa-apa, Mas. Anak ini kan memang anakku," jawab Zarina lembut. 

"Iya, sih! Kalau saja bisa di alihkan, aku bersedia menggantikan posisi kamu, Rin." 

"Ya ampun, Mas! Laki-laki tidak mungkin mengandung apa lagi melahirkan." 

"Maksudku rasa sakitnya, Rin. Biar aku saja yang merasakannya," jelas Robby meluruskan ucapannya tadi. 

"Kamu bisa saja, Mas!"

Saat keduanya sedang berbincang-bincang ringan, tiba-tiba Zarina mengernyit. Wanita itu menggigit kecil bibir bawahnya saat merasakan perutnya tiba-tiba melilit. 

"Kenapa, Rin?" tanya Robby heran saat Zarina memegangi perutnya. 

"Aku mules, Mas. Aku mau ke toilet dulu." Zarina langsung turun dari ranjang dan berjalan dengan susah payah menuju toilet. 

Robby mengekori di belakang tubuh sang istri. Laki-laki itu sedikit cemas karena Zarina terus-menerus memegangi perut bagian bawah. Wanita tercintanya itu juga mendesis pelan. 

"Perlu aku bantu, Sayang?" 

"Tidak, Mas. Kamu tunggu di sini saja," tolak Zarina yang langsung masuk ke toilet. 

Cukup lama wanita itu berada di dalam toilet. Entah apa yang dilakukan olehnya, Robby pun tidak tahu. Beberapa saat kemudian Zarina keluar dari toilet. Keadaannya masih sama seperti tadi. 

"Gimana, Rin?" 

"Masih mules, Mas. Sekarang malah makin terasa sakitnya," jawab Zarina jujur. 

"Mungkin kamu mau melahirkan, Rin. Kita ke klinik sekarang ya?"

Tanpa berpikir panjang, Zarina mengiyakan ajakan Robby. Mendapat persetujuan dari Zarina, Robby membantu istrinya itu untuk duduk sambil menunggunya mempersiapkan barang-barang yang harus dibawa ke klinik. 

Desisan yang keluar dari bibir Zarina semakin keras terdengar. Wanita itu masih memegangi perut besarnya. Beberapa kali Robby sempat melihat Zarina meremas sprei kasur. Peka dengan rasa sakit yang dirasakan istrinya, Robby mempercepat kegiatannya memasukkan beberapa barang ke dalam tas berukuran besar. 

"Ayo, Rin!" ajaknya setelah selesai mempersiapkan keperluan lahiran. 

"Ayo!" 

Dengan susah payah Zarina berjalan keluar dari kamar dengan bantuan Robby. Suaminya itu begitu sabar memapah dirinya hingga sampai di luar rumah. Mariana yang berada di pekarangan rumah sedang menyiram bunga tergopoh-gopoh menghampiri anaknya yang tengah memapah sang menantu ke tempat di mana motor terparkir. 

"Kenapa, Rob?" tanya Mariana khawatir. 

"Sepertinya Rina akan melahirkan, Bu. Robby mau bawa dia ke klinik," jawabnya mulai panik. 

"Ya sudah. Hati-hati di jalan! Ibu nanti menyusul." 

Robby segera naik ke atas motornya. Sementara itu, Zarina pun ikut naik ke boncengan dengan bantuan ibu mertuanya. 

"Doakan semua lancar, Bu," pinta Robby sebelum melajukan motornya. 

Dengan mengendarai motornya, Robby membawa sang istri pergi ke klinik. Meskipun sudah kesakitan karena kontraksi yang dirasakan, nyatanya Zarina masih berusaha menahan agar suaminya tidak kesulitan. 

"Mas, sakit," desis Zarina dengan pelan. 

Wanita yang duduk di belakang itu meremas kaos yang dipakai Robby sebagai pelampiasan rasa sakit. Robby semakin panik saat merasa istrinya semakin kesakitan. Laki-laki itu membiarkan sang istri melakukan apapun asal dapat mengurangi rasa sakitnya, meski Robby tahu bahwa itu tidak mungkin terjadi. 

Tidak tega melihat sang istri semakin kesakitan, Robby mempercepat laju kendaraannya. Hampir lima belas menit mengendarai motor, mereka akhirnya sampai di klinik terdekat. Robby segera membantu sang istri setelah memarkirkan motornya. 

Dengan satu tas besar yang digendong olehnya, Robby bersusah payah memapah Zarina yang sudah semakin kesulitan berjalan. 

"Mas, rasanya sakit sekali," keluh Zarina yang sesekali menarik napas dalam saat merasakan kontraksi yang amat menyakitkan. 

"Iya, sebentar, Rin. Kamu yang kuat, yah!" 

"Sus, tolong!" teriak Robby semakin panik ketika melihat Zarina semakin pucat. 

Beberapa suster datang mendekat lalu membawa Zarina menggunakan brankar pasien. Para suster membawa Zarina ke ruang persalinan. Robby masih setia mengikuti ke mana pun sang istri di bawa. 

"Sus, tolong. Perut saya sakit sekali," keluh Zarina yang semakin tidak karuan. 

"Saya periksa dulu ya, Bu." 

Petugas kesehatan itu melakukan beberapa pemeriksaan kepada Zarina. Robby terus menggenggam tangan istrinya yang terlihat sangat kesakitan. Wajahnya semakin pucat, keringat dingin membanjiri wajah cantiknya yang polos tanpa make up. 

"Pembukaan sudah lengkap, Bu. Sebentar lagi bayinya akan lahir!" 

Terpopuler

Comments

Eka Delima

Eka Delima

Lanjut

2023-04-12

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!