Dikarenakan Dafis terus saja mendesaknya pada akhirnya Zarina membiarkan teman onlinenya itu untuk datang menemuinya di taman setelah mereka melakukan obrolan melalui panggilan Vidio. Dafis bersikeras untuk datang ke taman untuk menemuinya.
Tidak butuh waktu lama 30 menit kemudian Dafis sudah sampai di taman. Laki-laki yang merupakan teman online yang baru dikenal oleh Zarina itu segera mencari keberadaan wanita yang akan dia temui.
Kedua sudut bibirnya terangkat membentuk lengkungan begitu melihat keberadaan sang wanita. Dia mengayunkan langkah mendekati wanita yang duduk menyendiri di salah satu kursi taman.
"Hai, bener Zara, 'kan?" tany Dafis memastikan. Meskipun dia yakin karena mereka beberapa kali sempat melakukan video call.
Zarina mendongak menatap laki-laki yang berdiri di hadapannya. Senyum tipis dia berikan sebagai jawaban atas pertanyaan Dafis. Laki-laki itu sempat tertegun sesaat setelah melihat betapa manisnya senyuman Zarina.
Begitu yakin bahwa wanita yang memiliki senyum manis itu benar-benar Zarina, Dafis pun tanpa basa-basi langsung duduk di ruang kosong kursi panjang tersebut.
"Kamu ngapain disini sendirian?" tanya Dafis memulai obrolan.
Zarina menoleh sekilas lalu kembali fokus pada pemandangan di depannya. Rasa sesak, sedih, dan kecewa itu tidak mungkin dia ceritakan kepada laki-laki asing yang baru dikenal olehnya.
"Aku ganggu ya?" tanya Dafis lagi saat Zarina tidak menjawab pertanyaannya.
"Enggak, kok!"
"Kalau enggak, kenapa dari tadi enggak mau jawab pertanyaanku?"
"Aku baik-baik saja, Dafis. Hanya masih ingin menikmati pemandangan alam aja," elak Zarina mencoba menutupi perasaannya saat ini.
"Aku enggak percaya. Kamu kelihatan sedih, loh!" timpal Dafis dengan yakin.
Zarina menatap laki-laki yang duduk di sampingnya itu seraya tertawa kecil. Dia harus bisa menyembunyikan perasaannya saat ini. Tidak mungkin dia jujur tentang permasalahan yang sedang dia hadapi bersama sang suami.
"Kamu kok jadi kaya cenayang," cibir Zarina dengan senyum manisnya.
Lagi-lagi Dafis terhipnotis oleh senyuman wanita yang duduk disampingnya itu. Begitu manis dan memabukkan. Dia yakin laki-laki manapun pasti akan tergila-gila setelah terkena pesona wanita cantik itu.
Zarina mengernyitkan dahinya saat melihat Dafis justru diam dengan tatapan mata yang tidak lepas dari bagian bibirnya. Wanita itu pun merasa canggung karena sadar bahwa Dafis tengah memperhatikan bibir tipis berwarna merah muda miliknya.
"Dafis, jangan tatap aku seperti itu. Aku malu," tegur Zarina seraya mengalihkan pandangannya.
Dafis mengerjapkan kedua netranya setelah sadar dari lamunan indah yang sempat menguasai dirinya. Bayangan dia mengecup bibir mungil itu menari-nari di otaknya.
"Ah, maaf. Kamu cantik, Zara. Lebih cantik dari pada di foto dan Vidio yang kamu kirimkan," puji Dafis kepada wanita cantik itu.
Mendengar pujian yang terlontar dari pria tampan di sampingnya muncul rona merah di pipi Zarina. Wanita itu tertunduk menyembunyikan wajahnya yang tampak malu-malu.
Obrolan mereka berlanjut dengan asik tanpa mengingat waktu yang sudah beranjak siang. Teriknya matahari bahkan tidak dihiraukan oleh keduanya. Mereka baru tersadar jika hari sudah sangat siang ketika terdengar suara aneh yang ternyata berasal dari cacing-cacing yang berdemo di perut si wanita.
Keduanya kompak tertawa saat sama-sama mendengar suara yang menunjukkan bahwa perut Zarina ingin segera di isi dengan makanan. Meskipun merasa sedikit malu karena terciduk kelaparan oleh laki-laki di sampingnya, tetapi gurauan Dafis bisa sedikit menetralisir perasaan tidak enak itu.
"Kita makan dulu, yuk!"
Dafis berinisiatif untuk mengajak Zarina makan siang. Selain memang sudah waktunya, dia juga masih belum rela jika nantinya wanita itu akan berpamitan pulang dan mengharuskan mereka berpisah secepat ini.
Wanita cantik itu tidak langsung mengiyakan ajakan Dafis. Dia masih menimang keputusan untuk mengikuti ajakan Dafis atau pulang ke rumahnya saja. Namun, ketika lagi-lagi teringat dengan pertengkarannya dengan Robby membuat wanita itu akhirnya menerima ajakan laki-laki di sampingnya.
"Boleh, mau makan apa?"
"Ngebakso aja, yuk. Kayanya seger deh panas-panas gini," usul Dafis dengan cepat.
"Ide bagus. Aku juga lagi malas makan nasi," timpal Zarina menyetujui.
Mereka akhirnya berjalan kaki menuju sebuah warung bakso yang terletak tidak jauh dari taman kota itu. Keduanya sepakat untuk tidak menaiki motor karena untuk mempercepat perjalanan. Jika mereka menaiki kendaraan, itu akan membuat mereka terpaksa mengitari jalan karena memang jalan itu adalah satu arah.
Sesampainya di warung bakso itu ternyata tempat itu sudah ramai oleh para pelanggan. Beruntung sang pedagang tidak kehabisan ide dan menyediakan tempat lesehan yang digelar di bawah pohon mangga yang rindang.
"Kamu duduk dulu, biar aku yang pesan. Kamu bakso lengkap atau gimana? Terus minumnya apa?" cecar Dafis kepada Zarina.
Wanita itu sampai tertawa pelan melihat semangat Dafis yang hendak memesankan dia makanan. Laki-laki itu seperti seorang detektif yang tengah mengintrogasi targetnya.
"Malah ketawa, sih, Zar!"
"Aku bakso tanpa mie kuning, terus minumnya es jeruk aja, deh!"
"Okey. Tunggu sebentar, yah!"
Dafis meninggalkan Zarina untuk memesan makanan serta minuman. Begitu selesai memesan makanan untuk mereka berdua Dafis pun kembali menghampiri Zarina.
"Udah?" tanya Zarina saat Dafis sudah duduk di hadapannya.
"Iya, lagi di buatin. Sambil nunggu makanan datang, lanjutin lagi obrolan kita, ya." Laki-laki tampan itu menaruh tangan di atas meja.
Mereka berbincang-bincang tentang hal remeh temeh hingga tentang kehidupan pribadi mereka. Hanya satu yang disembunyikan oleh Zarina, yaitu statusnya yang sudah sah sebagai seorang istri.
"Jadi, kapan-kapan aku boleh main ke rumah kamu, 'kan?" tanya Dafis yang seketika membuat si wanita bungkam.
Zarina kebingungan untuk menjawab. Jika dia menyetujui permintaan laki-laki di depannya pasti rahasia tentang pernikahannya akan terbongkar. Namun, untuk menolak pun dia merasa tidak enak kepada Dafis.
Saat Zarina masih sibuk berperang dengan pikiran dan hatinya tiba-tiba pelayan datang membawa nampan berisi dua mangkok bakso dan dua gelas es jeruk. Pelayan itu menaruh pesanan pelanggannya di atas meja.
"Silahkan menikmati," ujar sang pelayan dengan sopan.
"Terima kasih," balas Zarina ramah.
Kedatangan pelayan itu bagaikan angin segar untuk Zarina. Tampaknya Dafis sudah lupa dengan pertanyaannya tadi dan Zarina tidak perlu memikirkan tentang rencana dari laki-laki itu.
"Ya udah kita makan dulu. Kamu udah keliatan kelaparan banget," kelakar Dafis menggoda Zarina.
Zarina menaruh saos dan sambal ke dalam mangkuk baksonya. Wanita itu memang sangat suka makanan pedas terlebih lagi makanan kuah. Sementara itu, Dafis memperhatikan si wanita yang menaruh terlalu banyak sambal ke dalam makanan berkuah panas tersebut.
"Kamu enggak takut sakit perut, Zar?" tanya Dafis seraya menghalangi wanita itu yang kembali mengambil wadah sambal untuk menambahkan rasa pedas di makanannya.
"Aku suka pedas, Fis, jadi tidak perlu khawatir." Wanita itu tetap berniat menambahkan rasa pedas di makanannya.
"Enggak! Udah cukup, Zara!" tegur laki-laki itu.
Perhatian kecil dari Dafis akhirnya membuat Zara luluh. Wanita itu menurut untuk tidak melanjutkan kebiasaan buruknya itu.
Keduanya menyantap makanan masing-masing. Dafis makan dengan tatapan yang tidak lepas dari wanita di depannya. Sedangkan Zarina yang memang kelaparan karena pagi tadi tidak sempat sarapan, makan dengan buru-buru. Rasa pedas yang berasal dari kuah panas itu bahkan sama sekali tidak mengganggu wanita itu untuk menyantap makanannya.
Cuaca panas serta rasa pedas itu membuat keringat membanjiri wajah cantik Zarina, terutama di bagian keningnya. Dafis yang melihat itu pun mengambil tissue dan tanpa permisi menyeka keringat yang membasahi wajah cantik wanita di depannya.
"Eh," pekik Zarina terkejut.
Wanita itu menghentikan kegiatannya yang tengah menikmati makanan favoritnya karena perlakuan Dafis yang tiba-tiba menyeka wajahnya menggunakan tissu tanpa permisi.
"Keringat kamu banyak banget, loh!" Dafis menunjukkan tissue itu sudah basah setelah menyeka wajah Zarina.
"Em, terima kasih."
Rasa canggung tiba-tiba hadir di benak Zarina setelah Dafis bersikap terlalu dekat dengannya. Laki-laki itu bertingkah seolah mereka adalah sepasang kekasih yang sudah wajar melakukan hal seperti itu.
Berbeda dengan Zarina yang merasa canggung, Dafis justru seperti tidak merasa perlakuannya itu sudah keluar dari zona wajar dalam berteman.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments