Keduanya benar-benar terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang melakukan kencan pertama. Setelah selesai menyantap makanan sejuta umat itu mereka kembali ke taman. Awalnya hanya untuk mengambil motor mereka masing-masing. Namun, ternyata Dafis justru mengajaknya untuk kembali menikmati suasana taman yang kebetulan sedang sepi tersebut.
Laki-laki itu seakan peka dengan gerak-gerik Zarina yang masih enggan pulang ke rumahnya. Meskipun dia tidak tahu penyebab wanita itu merasa tidak betah di rumahnya, tetapi tujuannya saat ini hanya untuk menghibur teman onlinenya itu.
"Dav, kamu enggak apa-apa nemenin aku seharian di tempat ini?" tanya Zarina yang merasa tidak enak.
"Enggak apa-apa, aku juga lagi libur kerja jadi bisalah kalau cuma nemenin kamu di sini. Kalau perlu sampai malam juga aku enggak keberatan," jawabnya tanpa ragu.
Zarina memukul pelan lengan Dafis karena merasa laki-laki itu sedang bergurau. Tidak mungkin mereka menghabiskan waktu hingga malam di tempat itu. Wanita itu sempat tersenyum manis ke arah Dafis saat laki-laki itu menatapnya sebelum dia kembali mengalihkan pandangan.
Melihat betapa manisnya senyuman Zarina, Dafis tanpa sadar sedikit memajukan wajahnya perlahan. Laki-laki itu semakin mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah si wanita. Niatnya hanya ingin mengecup pipi wanita di sampingnya. Namun, sepertinya dewa amore sedang berpihak padanya.
Ketika wajahnya sudah sangat dekat dengan pipi wanita itu, tiba-tiba Zarina menoleh. Pada akhirnya niat awal yang hanya akan mengecup pipi justru berlabuh di bibir mungil wanita itu. Zarina tertegun ketika kedua bibir itu menyatu dengan sempurna.
Merasakan Zarina tidak menghindar ataupun menolak penyatuan bibir itu, Dafis pun berniat menggigit kecil bibir si wanita agar membuka jalan untuknya mengabsen setiap inci di dalam bibir itu.
Bukannya membuka mulutnya Zarina yang baru tersadar justru reflek mendorong tubuh Dafis menjauh darinya. Jantung wanita itu berdetak lebih kencang, darah dalam dirinya juga ikut mendidih saat mendapat serangan tiba-tiba dari laki-laki lain selain suaminya.
"Kenapa, Zar?" tanya Dafis dengan tidak tahu malunya.
"Kamu ngapain cium aku?" tanya balik Zarina setelah berhasil menguasai dirinya.
"Loh, memangnya kenapa? Toh kamu tidak menolak tadi."
"Maaf, aku harus pulang!" seru Zarina yang merasa perbuatannya itu diluar batas.
Wanita itu bangkit lalu berjalan dengan tergesa-gesa meninggalkan Dafis dengan perasaan kesal. Laki-laki itu tentu saja sudah berharap akan berhasil menikmati bibir mungil menggoda Zarina. Namun, ternyata tidak semudah itu menaklukkan wanita itu.
Sementara itu, Robby tengah mondar-mandir di teras depan rumahnya. Laki-laki dewasa itu beberapa kali memeriksa jam di ponsel miliknya. Hingga hari sudah gelap seperti ini sang istri belum juga kembali ke rumah. Hal itu tentu saja membuat Robby khawatir dan semakin merasa bersalah.
"Aku telepon aja kali ya?"
Laki-laki itu segera menghubungi nomor ponsel istrinya untuk menanyakan keberadaan wanita itu. Namun, sepertinya Zarina justru menolak panggilan darinya setelah beberapa kali mengabaikan panggilan itu.
"Kamu marah banget sama aku, Rin. Maaf, aku benar-benar khilaf," gumam Robby dengan rasa bersalah.
Robby baru bisa menghela napas lega setelah melihat sang istri pulang dengan mengendarai motornya. Laki-laki itu segera menghampiri wanita tercintanya itu.
"Sayang, kamu dari mana? Kenapa baru pulang? Aku khawatir."
Robby mencecar Zarina dengan banyak pertanyaan. Namun, tidak ada satupun yang di jawab oleh wanita itu. Setelah memarkirkan motornya Zarina justru melenggang masuk ke kamar. Wanita itu mengabaikan apapun ucapan yang keluar dari mulut suaminya.
Begitulah mereka mengakhiri harinya dengan buruk. Permasalah itu sama sekali tidak menemukan titik terang. Sejak hari itu hubungan Robby dan Zarina semakin buruk. Mereka sering kali bertengkar bahkan hanya karena hal-hal sepele sekalipun.
Keadaan justru berbanding terbalik dengan hubungan Zarina dan Dafis. Wanita itu luluh setelah Dafis meminta maaf dan menjelaskan situasi yang sempat terjadi antara mereka. Laki-laki itu mengaku tidak sengaja mencium bibirnya.
Hari demi hari terlewati begitu saja. Zarina semakin dekat dengan laki-laki bernama Dafis yang kini lebih dapat memberikan rasa nyaman untuknya. Terlebih lagi Dafis tidak segan untuk memberinya uang tanpa dia memintanya lebih dulu.
Mereka sering bertemu diam-diam menghabiskan waktu bersama layaknya kekasih. Zarina seolah lupa dengan statusnya yang sudah memiliki suami. Sejak perkenalannya dengan Dafis, Zarina bahkan selalu menolak Robby ketika suaminya itu hendak meminta haknya sebagai suami.
Suatu hari Zarina mendapat pesan singkat dari Dafis yang mengabari bahwa dirinya tengah sakit. Merasa khawatir dengan keadaan pria yang sudah memberinya kenyamanan itu Zarina memutuskan untuk mendatangi rumah laki-laki itu.
Zarina mengetuk pintu sebuah rumah yang sepertinya memang adalah tempat tinggal laki-laki itu dari alamat yang di kirimkan oleh Dafis. Tidak lama kemudian pintu terbuka dan menampakkan tubuh Dafis yang hanya mengenakan handuk kecil yang menutupi area bawahnya saja.
"Ah, kamu!" pekik Zarina seraya menutup kedua matanya menggunakan tangan.
Dafis yang tidak mau kedatangan sang wanita terciduk oleh warga pun langsung menarik tangan wanita itu untuk masuk ke rumahnya. Akibat terlalu keras menarik tangan Zarina wanita itu sampai menabrak dada bidang yang polos tanpa sehelai kain itu.
Mendapatkan kesempatan emas untuk memeluk Zarina, Dafis pun melingkarkan tangan kekarnya di pinggang sang wanita dan dengan sengaja semakin mengerat agar tubuh mereka saling menempel erat satu sama lain.
"Dafis, lepas." Zarina berusaha berontak. Namun, Dafis dengan cepat menghalangi tangan Zarina yang berniat memukul dada bidangnya.
"Kamu seksi, Zara." Dengan sengaja Dafis berbisik tepat di telinga Zarina.
Saat mendapat bisikan itu tubuh Zarina menegang. Seperti ada aliran listrik yang tiba-tiba menyengatnya. Darahnya berdesir dengan jantung yang berdegup kencang.
Tidak menampik kenyataan bahwa sebenarnya tubuh itu merindukan sentuhan dari lawan jenisnya. Hanya saja rasa kesal dan amarah kepada suaminya yang menjadikan dirinya keras dan selalu menolak saat Robby berusaha menyentuhnya.
Tidak mendapat reaksi penolakan dari Zarina membuat Dafis mengartikan bahwa wanita itu mungkin setuju dengan keinginannya saat ini. Dafis menuntun Zarina untuk duduk di karpet empuk di ruangan itu. Tanpa basa-basi laki-laki itu mencium bibir Zarina dengan lembut.
Zarina benar-benar terbuai oleh sentuhan lembut dan cumbuan dari Dafis. Tubuhnya seakan tidak rela jika dia menolak kegiatan laki-laki yang sedang berada di atas tubuhnya itu.
Hal yang seharusnya tidak terjadi pun akhirnya di lakukan oleh kedua orang itu. Mereka bahkan melakukan penyatuan tanpa hubungan apapun selain pertemanan. Tidak hanya itu saja, Dafis dan Zarina melakukan perbuatan keji itu berulang kali dan berpindah-pindah tempat.
"Dafis, kita sudah salah melakukan ini," sesal Zarina yang berada di dekapan tubuh polos Dafis di dalam kamar berukuran 3x3 itu.
"Tidak ada yang salah, Sayang. Kita saling memberi dan merasakan kenyamanan, 'kan?"
"Tapi … kita bukan suami istri, Dafis."
"Kita akan menikah, Zara."
Saat keduanya tengah berbincang tentang hubungan mereka tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Dafis segera melepaskan dekapannya di tubuh wanita yang sudah memberikan dia kehangatan itu. Hanya dengan memakai handuk yang tadi sempat terlepas, Dafis membuka pintu rumah.
Netranya seketika membulat sempurna saat melihat siapa yang berada di ambang pintu rumahnya. Tidak ada satupun kata yang mampu diucapkan oleh laki-laki tampan itu ketika di depannya sudah ada seorang wanita yang memegang koper di tangannya.
"Aku pulang, Sayang."
Ketika wanita itu hendak menghambur ke pelukan Dafis, Zarina keluar sudah memakai pakaiannya yang sempat terlepas.
"Dafis, siapa yang datang?" tanyanya penasaran bahkan sebelum melihat seorang wanita yang hampir memeluk Dafis.
Zarina menghentikan langkahnya saat melihat seorang wanita dengan koper besar di sampingnya. Tangan wanita itu seperti sedang akan memeluk Dafis.
"Kamu siapa? Ngapain di rumahku bersama suamiku?" tanya si wanita dengan nada tinggi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments