Harapan Robby

Robby menyadari dengan perubahan mood sang istri. Wanita yang semula terlihat senang karena mendengar kabar baik tentang dirinya yang kini telah kembali mendapat pekerjaan, tiba-tiba murung dan bermuram durja. 

"Kenapa murung, Rin? Kamu tidak senang karena aku sudah dapat kerjaan lagi?" 

"Bukan itu, Mas. Aku hanya sedih saja," jawabnya singkat. 

"Sedih kenapa?" 

"Kalau kamu melarangku menerima pesanan pelanggan lagi, aku pasti tidak memiliki kesibukan apapun. Sementara itu, kamu kerja berangkat pagi pulang sore. Aku pasti akan kesepian, Mas," jelasnya dengan ekspresi sedih. 

Tangan Robby menyentuh kepala sang istri dan mengacak rambutnya pelan. Ternyata istrinya sesedih itu hanya karena dia melarangnya untuk bekerja. 

"Terus sekarang kamu maunya gimana?" tanya Robby lembut. 

"Aku tetap mau jualan, Mas. Lagi pula aku tidak ke mana-mana. Hanya sesekali ke pasar untuk belanja bahan-bahan saja," ujarnya dengan tatapan penuh harap. 

"Sebenarnya aku hanya tidak ingin kamu kelelahan, Rin. Apa aku salah?" 

Zarina mendongak demi menatap wajah suaminya. Laki-laki itu terlihat sedih. Zarina berinisiatif untuk mengecup singkat bibir suaminya agar Robby tidak terus-menerus bersedih hati. 

"Kamu tidak salah, Mas. Aku tahu maksud kamu baik. Tapi aku juga enggak mau kesepian, Mas. Di rumah ini aku enggak ada teman, loh!" 

Zarina mencoba meyakinkan sang suami agar menyetujui permintaannya untuk tetap melanjutkan bisnis kecil-kecilan miliknya itu, tetapi tetap tidak membuat laki-laki yang begitu mencintainya itu merasa bersalah. 

Robby tersenyum tipis saat mendapat kecupan tiba-tiba dari istrinya. Sebenarnya dia masih merasa berat untuk memberi izin kepada Zarina untuk tetap menerima pesanan kue. Tatapi wajah murung sang istri justru semakin membuatnya merasa bersalah dan terkesan tega. 

"Okey, aku izinkan. Tapi ada syaratnya," pungkas Robby yang langsung disetujui oleh Zarina. 

"Apapun syaratnya, aku bersedia, Mas." 

"Kamu tidak boleh menerima pesanan terlalu banyak. Aku tidak mau melihat kamu kelelahan, Rin." 

"Baik! Aku setuju. Terima kasih, Mas." Zarina langsung menghambur ke pelukan suaminya. 

"Sayang, kamu dari tadi mepet-mepet gini. Enggak bau apa? Aku kan belum mandi," gurau Robby yang seketika membuat Zarina bangun dan menjauhi suaminya. 

"Mas Robby! Jorok tahu." 

"Loh, kan kamu yang nempel-nempel. Kok nyalahin aku!" 

"Ya udah, sana mandi!" perintah Zarina dengan bibir mencebik. 

"Kamu makin imut kalau kaya gitu, Rin. Rasanya ingin aku lahap kamu sekarang juga," goda Robby yang kini berjalan di samping istrinya. 

"Enggak mau!" pekik Zarina yang langsung berlari ke dapur. 

Robby menggeleng-gelengkan kepalanya dengan tingkah manis sang istri. Laki-laki itu menghela napas panjang, akhirnya rumah tangga yang hampir terkoyak kini bisa terselamatkan. 

Hari-hari Zarina dan Robby kini semakin hangat. Mereka sama-sama saling mengerti satu sama lain. Robby terkadang menyempatkan diri untuk mengantar istrinya ke pasar untuk membeli bahan-bahan pembuatan kue. Sedangkan Zarina sendiri juga sering kali memberikan perhatian dengan memijat dan melayani Robby dengan hangat di atas ranjang. 

"Kamu semakin lama semakin jago membuatku melayang, Sayang," puji Robby setelah mereka melakukan ritual percintaan. 

"Kamu juga semakin kuat, Mas. Aku kadang kualahan untuk melayani kamu," timpal Zarina jujur. 

Keduanya masih sama-sama polos tanpa sehelai benang pun. Robby tiba-tiba meraba perut rata Zarina yang terbuka. 

"Kapan ya kita memiliki anak? Pernikahan kita sudah memasuki usia lima tahun, tapi kamu belum juga mengandung. Aku takut ini semua karena kamu terlalu lelah dan stres, Rin," ujar Robby hati-hati. 

Meskipun sangat menginginkan kehadiran seorang anak di antara mereka. Keduanya belum juga memeriksakan diri ke dokter. Robby takut jika istrinya akan merasa tersinggung jika dia selalu mempermasalahkan tentang keturunan. 

"Mungkin belum waktunya saja, Mas. Sabar ya," ucap Zarina berusaha menghibur kegundahan hati suaminya. 

"Kalau begitu, kita fokus bikinnya aja gimana? Semoga kerja keras kita segera membuahkan hasil," ucap Robby kemudian kembali menyerang istrinya dengan buas. 

"Ah, pelan-pelan, Mas!" pekik Zarina dengan tawa khasnya. 

Keduanya melalui malam-malam penuh kehangatan. Tidak ada lagi hal yang menghalangi kebahagiaan mereka yang kini saling menerima satu sama lain. Zarina menganggap apa yang terjadi kemarin adalah ujian rumah tangga yang agar mereka semakin dapat melewati ujian-ujian selanjutnya. Meski hingga saat ini masih ada penyesalan karena dia telah menyerahkan apa yang merupakan hak suaminya kepada orang lain. 

Keesokan harinya mereka terbangun dengan wajah ceria. Kegiatan di atas ranjang yang rutin mereka lakukan ternyata membawa dampak positif dengan hubungan mereka yang semakin menghangat. Robby berpamitan untuk berangkat bekerja setelah menyantap sarapannya. 

"Hati-hati, Mas." Zarina melambaikan tangan ketika suaminya mulai menyalakan mesin motor. 

"Kamu jaga diri baik-baik di rumah, Rin. Aku mencintaimu," ucap Robby sebelum motornya melaju. 

Saat Robby sudah mulai menghilang dari pandangannya, Zarina baru teringat dengan pesanan yang lumayan banyak hari ini. Wanita itu pun bergegas masuk untuk mengeksekusi pekerjaannya sebelum para pelanggan berdatangan. 

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!