Bertahan Demi Ibu

Robby keluar dari kamar dan berjalan cepat menuju pintu rumah yang masih digedor dari luar. Suara sang ibu terdengar semakin keras ketika pintu yang diketuk tidak kunjung terbuka. 

"Robby, Rina!" 

"Iya, Bu." Robby menyahut saat sudah meraih handle pintu. 

Kini pintu rumah sudah terbuka. Mariana menatap curiga sang putra yang wajahnya terlihat berbeda dari biasanya. 

"Kamu kenapa?" 

"Kenapa? Aku tidak apa-apa, Bu." Robby terpaksa berbohong demi menutupi permasalahannya dengan sang istri. 

"Yakin?" 

"Yakin, Bu. Ayo masuk!" 

Mariana mengayunkan langkah masuk ke rumah sederhana itu diikuti oleh Robby yang mengekor di belakang. Robby menarik napas dalam saat rasa sesak itu semakin menggerogoti benaknya. 

Demi sang ibu yang memiliki penyakit jantung, Robby terpaksa menyembunyikan masalah yang terjadi di rumah tangganya. Robby tidak ingin jika sang ibu akan drop kalau mengetahui kebenaran tentang Alam, bocah yang begitu disayangi oleh Mariana dengan tulus. 

"Maaf, Bu. Robby tidak bisa jujur pada ibu," batin Robby. 

"Rob, Rina dan Alam di mana?" tanya Mariana saat sudah mendudukkan diri di kursi kayu ruang tamu. 

"Ada di dalam, Bu." 

"Oh, tadi dari luar ibu denger suara ribut. Kalian bertengkar?" Mariana tidak begitu saja percaya saat Robby mengatakan tidak ada apa-apa. 

"Biasalah, Bu. Namanya rumah tangga pasti ada cek-cok sedikit, tapi ibu tidak perlu khawatir. Kami tidak apa-apa," elak Robby menutupi perasaan sebenarnya. 

Mariana mengangguk paham. Memang setiap rumah tangga pasti akan ada masalah yang dihadapi. Wanita paruh baya itu yakin bahwa sang putra akan dapat menyelesaikan permasalahan tersebut. 

"Ya sudah, tapi ibu pesan. Kalau bisa jangan ribut di depan anak, Rob. Meskipun Alam masih bayi, ibu khawatir otaknya akan merekam apa yang dilihatnya." 

"Ya, Bu." Robby tersenyum, meski hatinya menangis. 

Jika saja sang ibu tahu tentang kebenarannya, apakah wanita tercintanya itu akan tetap bisa berkata seperti itu. Atau justru akan menyuruhnya berpisah dengan Zarina, wanita yang hingga saat ini masih menjadi pemilik hati dan jiwanya. 

"Maafin Robby, Bu. Robby cuma nggak mau ibu sakit kalau tahu tentang rumah tangga Robby dan Rina," batin Robby.

Suara pintu yang terbuka seketika membuat sepasang ibu dan anak itu menoleh. Zarina keluar dengan ekspresi canggung. Dia takut jika suaminya sudah mengatakan permasalahan yang terjadi di antara mereka. Terlebih lagi ketika wanita paruh baya itu menatapnya lekat. 

"Ibu." 

"Rin, Alam mana?" tanyanya saat tidak melihat bayi itu ditangan sang menantu. 

"Alam tidur, Bu." Zarina dengan hati-hati melangkah mendekati sang mertua. 

"Oh, padahal ibu datang karena kangen sama dia. Kamu duduk, sini!" 

"Iya, Bu." 

Mariana menepuk lembut pundak sang menantu sambil menatap wajah putranya yang masih sama seperti awal laki-laki tampan itu menemuinya. 

"Rin, ibu tahu, setiap rumah tangga pasti akan memiliki ujiannya masing-masing. Tergantung pada orang itu, mereka bisa memperbaiki diri dan menyelesaikan masalahnya, atau justru semakin memperkeruh keadaan hingga membuat rumah tangga itu hancur." Mariana menghentikan ucapannya untuk menghela napas. 

"Menurut ibu, jika masalah itu besar, anggap saja itu masalah kecil. Jika masalah itu kecil, anggap saja tidak pernah ada masalah. Asalkan permasalahan itu tidak berasal karena salah satu diantara kalian melakukan perselingkuhan," lanjut Mariana menasehati. 

Zarina yang awalnya menundukkan kepala seketika mendongak dan menatap Robby yang seperti enggan melihat ke arahnya. Zarina sadar, laki-laki yang biasanya begitu sabar itu tengah dikuasai oleh amarah. Ucapan sang mertua juga membuat Zarina sadar bahwa kesalahannya itu memang tidak pantas untuk dimaafkan. 

"Maafkan aku, Mas, Bu." Zarina membatin dalam hati. 

"Aku tahu, Bu. Jika ibu tahu tentang kebenaran asal-usul Alam, ibu akan memaksaku berpisah dengan Rina. Untuk saat ini, hatiku memang sakit akibat pengkhianatan yang dilakukan Rina, tapi aku juga belum mampu jika harus hidup tanpanya." Robby juga membatin pilu. 

Saat ini hati dan pikiran Robby sedang berperang. Amarah atas pengkhianatan Zarina tentu saja tidak dapat diterima oleh Robby. Namun, hatinya masih amat sangat mencintai wanita yang sudah menemaninya selama hampir delapan tahun itu. 

Mariana memandang menantu serta putranya bergantian. Mereka berdua kompak tidak menjawab dan justru seperti sedang larut dalam lamunan sendiri-sendiri. 

"Kalian kok malah melamun. Paham dengan apa yang ibu bilang tadi, 'kan?" 

Zarina sedikit terkejut saat sang mertua menepuk bahunya pelan. Wanita beranak satu itu tersenyum tipis seraya mengangguk kecil. Berbeda dengan Robby yang belum bereaksi apa-apa. 

Wanita paruh baya yang duduk di samping Zarina tentu saja tidak begitu saja merasa lega. Ekspresi sepasang suami istri di hadapannya ini membuatnya curiga. Namun, sebagai seorang ibu, dia juga tidak ingin terlalu banyak ikut campur tentang rumah tangga anak-anaknya. 

Hari ulang tahun Zarina yang seharusnya bertabur kebahagiaan, kini berganti dengan awal kehancuran. Robby yang berniat memberikan kejutan untuk sang istri, justru terkejut dengan terbongkarnya kenyataan bahwa anak yang selama ini disayanginya bukanlah anak biologisnya. 

*****

Sejak terungkapnya kebenaran itu, sikap Robby semakin dingin. Laki-laki itu memang tidak langsung menceraikan Zarina, akan tetapi sikapnya yang semakin tidak menghargai keberadaan Zarina dan Alam membuat wanita itu semakin tidak betah. Apa lagi sekarang mereka tidur di kamar yang berbeda. Namun, Zarina juga tidak ingin berpisah dengan Robby, laki-laki yang selama ini tulus mencintainya. 

Hari ini adalah hari dimana seharusnya Zarina dan Robby membawa Alam untuk ke klinik demi mendapatkan suntikan vaksin. Jika biasanya Robby begitu antusias, kini laki-laki itu justru acuh dan seakan tidak peduli. 

Awalnya Zarina berpikir bahwa mungkin suaminya itu lupa, hingga akhirnya dia berinisiatif untuk bertanya pada laki-laki yang masih sah bergelar suami itu. 

"Mas, hari ini Alam waktunya vaksin." Zarina yang sudah siap, menegur suaminya yang justru sibuk dengan ponselnya. 

"Mau vaksin ya tinggal berangkat, sana!" 

"Kamu enggak mau nganter?" 

"Minta anterin bapaknya Alam kan bisa!" sembur Robby murka. 

"Astaga, Mas. Kamu –" 

"Apa? Kamu mau bilang aku tega." Robby memotong ucapan Zarina dengan nada tinggi. 

Akhirnya Zarina berangkat ke klinik seorang diri. Karena tidak memungkinkan untuknya mengendarai motor, dia pun memesan taksi untuk mengantar sang putra. 

Bersamaan dengan kepergian Zarina, Tania datang berkunjung ke rumah sang adik. Wanita judes itu sedikit merasa aneh saat melihat Zarina pergi dengan taksi, padahal ketika dia menatap teras rumah sang adik, motor Robby masih terparkir di sana. Tidak mungkin Robby pergi tanpa mengendarai motornya. Biasanya adiknya yang terlampau bucin itu selalu siaga menjadi sopir untuk wanita yang dibenci oleh Tania tersebut. 

Tania mengangkat bahunya tidak peduli dengan apa yang saat ini dilihatnya. Namun, dia tidak begitu saja benar-benar tidak peduli, dia bertekad akan mencari tahu tentang keanehan demi keanehan yang terjadi pada rumah tangga sang adik. Apa lagi terakhir kali dia mendapat kabar dari tetangga sang adik bahwa Robby dan Zarina pernah bertengkar di teras rumahnya. Tania masuk tanpa permisi ke dalam rumah Robby dan langsung mendudukkan diri di samping adik satu-satunya itu. 

"Rob, istrimu mau ke mana?" tanya Tania kepada Robby yang masih sibuk bermain ponsel. 

"Ke klinik," jawabnya singkat. 

"Tumben kamu tidak antar," sahut Tania curiga. 

"Aku lagi capek, Mbak." Tidak mau jika kelepasan dan membuka aib rumah tangganya, Robby bangun dan langsung masuk ke kamar yang ditempati Zarina untuk menghindari sang kakak. 

Tania semakin mengerutkan keningnya. Kecurigaan itu semakin mendominasi. Tania bertekad akan mencari tahu sebab dan alasan perubahan sikap sang adik kepada istri serta anaknya. 

"Aku yakin, ada yang tidak beres dengan sikap Robby sekarang." 

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!