Anggita Melabrak

Zarina sibuk berkutat dengan bahan-bahan membuat kue. Wanita itu sangat menikmati waktunya saat ini. Terselip sesal di hati saat kembali mengingat hubungannya dengan sang suami yang hampir kandas beberapa bulan silam. Kenapa dia tidak terpikir untuk membuka bisnis ini sejak saat itu, kenapa baru setelah menjadi orang bodoh yang terjebak cinta gila dengan pria asing barulah dia menemukan jalan keluar. 

Wanita itu menggeleng keras saat lagi-lagi pikirannya kembali pada masa-masa itu. Entah karena belum bisa memaafkan diri sendiri atau memang penyesalan itu tidak akan pernah hilang, sekuat apapun Zarina berusaha melupakan nyatanya masih saja tercipta bayang-bayang kegilaannya pada saat itu. 

"Sudah, Rin. Jangan pikirkan itu lagi! Mas Robby juga sudah memaafkan kamu," ujarnya berusaha menenangkan diri. 

"Tapi kamu belum meminta maaf atas perselingkuhan itu," batinnya tiba-tiba ikut menyela. 

"Tidak, kamu tidak berselingkuh. Kamu hanya khilaf!" 

"Ayolah, Fokus! Pesananmu masih banyak." 

Zarina mencoba menguasai dirinya. Tidak ingin memikirkan apapun lagi yang hanya akan merugikannya. Bagi wanita itu kini yang terpenting adalah dia berusaha untuk berubah dan tidak lagi mengecewakan suaminya. 

Beberapa jam berkutat dengan bahan-bahan serta alat membuat kue di dapur, akhirnya Zarina sudah selesai mengeksekusi pesanan pelanggannya. Wanita itu segera memasukkan kue-kue buatannya di dalam wadah yang tersedia. 

Tidak lama kemudian terdengar ketukan pintu. Zarina yakin, itu adalah salah satu pelanggannya yang akan mengambil pesanan. Buru-buru dia berlari ke depan untuk membukakan pintu. Benar saja, dua pelanggan telah datang untuk mengambil kue pesanan mereka masing-masing. 

"Sudah selesai, 'kan, Rin?" tanya salah satu dari pelanggannya itu. 

"Sudah, Mbak. Sebentar saya ambilkan," jawab Zarina yang berlalu masuk untuk mengambil pesanan sang pelanggan. 

"Kamu memang hebat, Rin. Selalu bisa diandalkan," puji sang pelanggan setelah menerima pesanannya dan langsung memberikan uang untuk membayar. 

"Betul, Mbak. Aku juga senang setelah Rina jualan. Meskipun harus mengambil sendiri tapi selalu tepat waktu dan rasanya tidak diragukan lagi," timpal pelanggan lainnya yang juga langsung membayar setelah menerima kue pesanannya. 

"Kalian bisa saja, Mbak. Oh iya, Mbak Irma sama Mbak Asih, terima kasih sudah selalu mempercayakan pesanannya pada Rina. Padahal yang lebih senior banyak, loh!" 

Mereka sedang berbincang-bincang kecil saat tiba-tiba seseorang yang turun dari taksi tepat di depan rumah Zarina. Kedua pelanggan Zarina mengira orang itu sama seperti mereka yang hendak memesan kue dari Zarina. 

"Ya udah, kita pamit dulu. Itu keknya ada yang mau pesan, Rin. Semoga usahamu semakin laku, ya," ucap Mbak Asih yang hanya diangguki oleh Zarina. 

Wanita yang merupakan pemilik rumah itu memperhatikan seseorang yang baru turun dari taksi. Sepertinya dia tidak asing dengan wajahnya. Sementara itu, kedua pelanggan Zarina sudah berjalan keluar dari pekarangan rumah penjual kue kesayangan mereka. 

"Siapa ya?" 

Zarina bergumam seraya mengingat-ingat sepertinya dia pernah bertemu dengan wanita itu. Namun, dia belum juga teringat di mana dia bertemu dengan wanita yang sepertinya akan bertamu ke rumahnya itu. 

Wanita dengan pakaian ketat dan mini hingga menampakkan lekukan tubuhnya itu berjalan ke pekarangan rumah Zarina. Karena menggunakan kacamata hitam, jadi Zarina benar-benar tidak mengenali wajahnya.  Dengan congkaknya dia berhenti dan berdiam diri di hadapan Zarina. 

"Maaf, Siapa, ya?" tanya Zarina bingung. 

"Kamu tidak ingat siapa saya, Pelakor?" tanyanya sarkas. 

Kebetulan kedua pelanggan Zarina tadi belum jauh dari rumah Zarina. Mereka sempat mendengar ucapan si tamu yang mengatakan bahwa Zarina adalah Pelakor. Penasaran, keduanya pun menghentikan langkah demi mencari tahu kebenarannya. 

Tidak lama setelah mengatai Zarina dengan sebutan pelakor, wanita itu membuka kacamata hitam yang bertengger di hidung mungilnya. Zarina terjingkat saat melihat wajah keseluruhan dari wanita yang bertamu ke rumahnya. Wanita itu adalah istri Dafis yang sempat bertemu dengannya pada saat itu. 

"Maaf, kamu salah alamat. Silahkan pergi dari sini!" usir Zarina karena tidak ingin ada keributan. 

"Kau tidak mengenaliku, Pelakor? Setelah memacari suamiku, kau benar-benar tidak merasa bersalah sudah berhubungan dengan suami orang!" makinya dengan kata-kata pedas. 

Zarina sempat melirik kedua pelanggannya yang berdiri di ujung pekarangan rumahnya. Sepertinya mereka mendengar ucapan wanita asing di depannya ini. 

"Maaf, Mbak. Saya benar-benar tidak memiliki hubungan apapun dengan suami Anda," elak Zarina mencoba tetap tenang. 

Terdengar suara tawa yang lantang yang berasal dari si wanita tamu tidak sopan itu. Tanpa aba-aba dia sedikit mendorong tubuh Zarina hingga terjungkal ke belakang. Zarina menatap wanita yang sudah menyerangnya itu dengan emosi. 

"Silahkan pergi dari rumah saya. Jangan membuat keributan di sini!" Lagi-lagi Zarina memutuskan untuk tidak meladeni wanita gila di depannya. 

Zarina berusaha bangun. Namun, wanita itu dengan cepat kembali memberikan serangan. Dia tidak terima karena Zarina malah mengusirnya beberapa kali. Wanita itu menjambak rambut Zarina dengan kasar dan menariknya agar berdiri. 

"Argh! Sakit. Lepas!" Zarina berusaha berontak, tetapi wanita itu mencengkram lengannya dengan kencang. 

"Kau sudah berani bermain api dengan suamiku. Terima akibatnya!" teriak wanita itu dengan lantang. 

Keributan yang terjadi di rumah itu akhirnya membuat para tetangga terganggu. Mereka keluar dan mendekati lokasi keributan. Banyak dari mereka yang hanya menonton, dan beberapa lagi ada yang berusaha melerai. Namun, wanita itu sangatlah agresif membuat mereka para tetangga kesulitan. 

"Lepas!" teriak Zarina yang akhirnya mencoba melawan. 

Zarina mengangkat tangannya untuk membalas jambakan rambut wanita yang merupakan istri Dafis itu. Namun, karena wanita itu lebih tinggi darinya, Zarina pun kesulitan untuk mengimbangi serangan dari wanita itu. Suasana semakin tegang dan mencekam. 

Wanita itu terus menyerang Zarina dengan bertubi-tubi. Para tetangga yang berusaha memisahkan pun kualahan. Sepertinya wanita yang menyerang tetangganya itu merupakan olahragawati yang memiliki kekuatan di atas rata-rata. 

Pada saat yang bersamaan, Robby kebetulan pulang dari tempat kerjanya. Laki-laki itu heran saat melihat keramaian di rumahnya. Dia memarkirkan motornya di pekarangan rumah lalu bergegas mendekati lokasi. Dia belum melihat bahwa keramaian itu melibatkan sang istri sebagai korban karena memang tertutupi oleh para tetangga yang terus berusaha melerai. 

"Ada apa ini?" tanya Robby kepada salah seorang yang berada di tempat itu. 

"Robby, istrimu di serang orang tidak dikenal."

Robby langsung menyingkap beberapa orang yang menghalangi jalannya setelah mendengar kabar buruk tersebut. Begitu sampai di depan sana, Robby bergegas memisahkan wanita agresif itu yang masih terus-terusan menyerang istrinya. 

"Lepaskan istriku!" bentak Robby setelah tidak berhasil memisahkan dengan tenaganya. 

Saat mendengar bentakan Robby barusan. Wanita itu baru menghentikan serangannya. Zarina sudah dalam keadaan berantakan. Rambut acak-acakan, pakaian pun sudah robek di beberapa bagian. Tidak hanya itu, di pipi, lengan, serta lehernya juga terdapat beberapa cakaran. 

"Rina." Robby langsung mendekap erat sang istri yang sudah dalam keadaan kacau. 

Zarina menangis ketakutan di pelukan Robby. Dia tidak berani menatap wanita yang terlihat anggun tetapi bengis tersebut. Sedangkan Robby menatap tajam wanita yang sudah menyakiti istrinya itu. 

"Bubar kalian semua! Untuk apa hanya menjadi penonton saat istriku dirisak seperti ini?" Emosi, Robby membubarkan para tetangga yang tidak berhasil melindungi istrinya. 

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!