Meminta Maaf

Zarina tentu saja terkejut. Wanita berparas cantik itu sama sekali tidak mengetahui bahwa ternyata Dafis juga telah memiliki istri. Betapa menyesalnya Zarina ketika sadar bahwa dia telah melakukan kesalahan dengan berhubungan dengan laki-laki yang telah beristri. Meski sebenarnya apa yang dilakukan oleh Zarina memang salah karena dia pun sudah bersuami. 

"Dia hanya numpang ke toilet, Gita," jawab Davis berbohong. 

Tidak mungkin Dafis mengakui bahwa wanita asing yang saat ini berada di dalam rumahnya itu adalah selingkuhannya. Wanita yang sudah berbagi kehangatan dengannya barusan. 

Pengakuan Dafis barusan membuat Zarina kecewa. Entah kenapa rasanya sakit hati ketika laki-laki yang selama ini memberinya kenyamanan, kini tidak mengakuinya sama sekali. 

"Benarkah? Memangnya dia siapa sampai berani numpang ke toilet rumah kita? Dan lagi, kamu ngapain cuma pakai handuk begini?" 

Anggita mencecar sang suami dengan beberapa pertanyaan yang memang masuk akal. Rumah yang mereka tinggali ini jarang sekali dalam keadaan terbuka. Tidak mungkin ada seseorang yang tiba-tiba bertamu ke rumah orang yang tidak dikenal hanya untuk menumpang ke toilet. 

Dafis mulai gelagapan, sedangkan Zarina hanya terdiam. Namun, tangannya meremas pakaiannya sendiri karena merasa sangat menyesal atas apa yang terjadi hari ini. Laki-laki yang dia kira baik, ternyata hanyalah seorang pecundang. 

Suasana semakin mencekam saat Dafis tidak juga menjawab pertanyaan-pertanyaan sang istri. Wanita yang diketahui adalah istri Dafis itu menatap tajam Zarina yang hanya diam. Tatapannya seolah-olah dia merupakan elang yang hendak mencengkram mangsanya. 

"Mbak, apa yang dikatakan suamimu itu benar. Saya hanya kebetulan lewat saat suamimu duduk di teras dan tiba-tiba saya ingin buang air. Tenang saja, saya bukan seorang pelakor!" 

Zarina sengaja mengatakan itu untuk menyindir Dafis. Laki-laki itu seketika menatap kaget atas penjelasan Zarina. Kedua netra teman kencannya itu berkaca-kaca seperti sedang menahan tangis. Namun, untuk saat ini tidak ada pilihan lain untuk Dafis. Jika dia mengatakan hal yang sebenarnya, pasti tempat itu akan digeruduk warga karena telah menjadi lokasi perselingkuhan. 

Setelah menyela perdebatan antara Dafis dan sang istri, Zarina berpamitan untuk segera meninggalkan rumah itu. Rumah yang menjadi saksi atas dosa besar yang baru saja dilakukan. Anggita masih menatap tidak suka pada Zarina. Meskipun dia tidak percaya dengan jawaban dari kedua manusia yang tertangkap basah berduaan di rumahnya, tetapi Anggita tidak dapat melakukan apapun. Dia tidak memiliki cukup bukti untuk menguatkan praduganya. 

"Saya pamit pergi, terimakasih sudah mengizinkan saya menumpang di sini." Zarina melangkah keluar dari rumah sederhana itu. 

Dafis hanya bisa menatap punggung Zarina yang semakin jauh dari pandangannya. Laki-laki itu merasa bersalah karena tidak membela dan mengakui Zarina sebagai teman kencannya. 

Zarina pulang ke rumahnya membawa penyesalan yang mendalam. Rasa sesal itu bukan hanya karena mengetahui status Dafis yang sebenarnya. Namun, penyesalan itu lebih besar karena merasa dirinya terlalu mudah diperdaya oleh nafsu. Sepanjang perjalanan air mata tidak berhenti mengalir dari mata sipit wanita itu. 

Ketika baru saja sampai di rumah, Zarina melihat Robby sedang membersihkan pekarangan rumah mereka. Tidak ingin sang suami tahu bahwa dirinya tengah menangis, Zarina buru-buru menyeka air mata di pipi dan berlari masuk. 

Meskipun sedang sibuk merapikan tanaman di pekarangan rumahnya Robby sempat melihat sang istri yang berlari masuk ke rumah. Takut jika terjadi sesuatu yang buruk kepada Zarina, Robby pun bergegas mengejar istrinya itu setelah mencuci tangan dengan air bersih. 

Sayup-sayup terdengar suara Isak tangis dari dalam kamar. Robby yakin, istrinya itu tengah menangis di dalam sana. Pelan-pelan laki-laki itu mengetuk pintu kamar. 

"Rin, kamu kenapa?" tanya Robby dari luar. 

Zarina menyeka kasar wajahnya untuk menghilangkan jejak air mata. Dia pun segera bangkit untuk membuka pintu kamar. Ketika pintu terbuka, Zarina langsung bersimpuh di kaki sang suami. Lagi-lagi air mata mengucur deras dari kedua sudut mata indah itu. 

"Hei! Kenapa menangis?" tanya Robby semakin bingung. 

Laki-laki itu memegang kedua bahu Zarina dan membantu sang istri untuk berdiri. Zarina masih menunduk menyembunyikan air matanya dari Robby. Namun, suaminya itu terlalu peka. 

"Kamu sedang ada masalah? Coba cerita!" 

Di luar dugaan, bukannya menceritakan masalahnya kepada Robby. Zarina justru langsung memeluk tubuh suaminya itu. Menyembunyikan wajahnya yang basah karena air mata di dada bidang sang suami. 

"Ma-af, Ma-s. Maa-fin Rina," ujarnya dengan suara terputus-putus. 

Robby melerai pelukannya lalu sedikit menjauhkan tubuh istrinya agar dapat melihat wajah cantik yang tengah banjir air mata itu. Menatap dalam-dalam bola mata istrinya yang memang terlihat penuh sesal. 

"Memangnya kamu salah apa, Rin? Aku merasa kamu tidak melakukan apapun." 

"Aku bersalah, Mas. Aku sudah terlalu berani padamu!" 

Hanya itu yang mampu Zarina ungkapkan. Tidak mungkin dia mengakui perselingkuhan yang dilakukannya bersama Davis. Jika Robby sampai tahu hal itu, pasti Robby akan menceraikan dia saat ini juga. 

"Sudahlah! Kita lupakan hari kemarin. Kita jalani hari esok dengan saling memahami!" Robby dengan penuh kasih menyeka air mata yang membasahi wajah istrinya. 

"Baik, Mas. Terima kasih," jawab Zarina menurut. 

Hubungan Robby dan Zarina pun perlahan-lahan mulai membaik. Keduanya kompak saling melengkapi satu sama lain. Zarina benar-benar mengubah sikapnya yang pernah begitu kasar pada Robby. 

Satu Minggu kemudian mereka memutuskan untuk merintis usaha kecil-kecilan. Zarina yang memiliki hobi membuat kue akhirnya memutuskan untuk berjualan atas izin dari Robby. 

Di dalam kamarnya, sepasang suami istri itu tengah bersandar di kepala ranjang yang dilapisi dengan bantal. Zarina sendiri bersandar pada dada bidang suaminya. Wanita itu asik memainkan jari-jarinya di dada polos sang suami. 

"Mas," panggil Zarina seraya mendongak, menatap wajah tampan Robby. 

"Kenapa, Rin?" tanya Robby yang juga menatap wajah cantik istrinya. 

"Makasih, yah!" 

"Makasih untuk apa?" tanyanya lagi dengan alis bertaut. 

"Makasih karena kamu udah mau maafin kesalahan aku, dan kamu mengizinkan aku untuk jualan. Hasilnya lumayan untuk biaya kehidupan kita, Mas!" 

Tangan kiri Robby mengulur lalu memegang dagu istrinya pelan, "Harusnya aku yang berterima kasih, mencari nafkah adalah kewajiban suami, Rina. Tapi kamu tenang saja, aku akan berusaha mencari pekerjaan." 

Zarina mengangguk setuju dengan ucapan suaminya. Senyum manis dia berikan kepada laki-laki yang selalu setia padanya itu. 

"Aku akan sabar menunggu, Mas!" serunya dengan yakin. 

Tatapan penuh kasih antara keduanya itu sama-sama menciptakan suasana romantis. Sudah sangat lama sekali mereka tidak sedekat ini. Tanpa sadar Robby mencondongkan wajahnya hingga lebih dekat dengan wajah Zarina. Laki-laki yang sudah lama tidak menyalurkan hasrat kelaki-lakiannya itu kini mengecup bibir mungil istrinya. 

Mendapatkan perlakuan hangat dan lembut itu, Zarina tidak menolak. Dia menerima setiap sentuhan yang diberikan oleh Robby dengan pasrah. Kamar berukuran 3x3 itu kini dipenuhi suara-suara khas percintaan. Erangan panjang dari keduanya menjadi pertanda kegiatan panas itu telah selesai. 

"Terima kasih, Sayang," bisik Robby sebelum ambruk di atas tubuh polos sang istri. 

Selesai melakukan percintaan panjang malam itu, Robby menarik Zarina untuk menggunakan dadanya sebagai bantal tidur. Zarina hanya menurut tanpa berkomentar apapun. 

"Kamu masih sama, Rin. Selalu membuatku puas atas pelayanan kamu. Semoga setelah ini akan ada malaikat kecil yang hadir di kehidupan kita, ya!" 

Pujian serta harapan yang diucapkan oleh Robby seketika membuat Zarina terdiam. Rasa bersalah itu kembali datang menghantuinya. 

Kelelahan setelah melakukan ritual suami istri Robby pun tertidur pulas. Berbeda dengan Zarina yang justru masih belum dapat memejamkan matanya. Wanita itu justru bangkit dari posisinya dan duduk bersandar di samping Robby. Menatap wajah lelah itu dengan perasaan bersalah. 

"Maaf, Mas. Maafkan aku yang tidak bisa menjaga tubuhku hanya untukmu. Tubuh ini sudah kotor oleh orang lain," ujarnya dalam hati. 

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!