Wanita itu pulang dengan mambawa kehancuran. Ternyata apa yang selama ini menjadi beban pikirannya benar terjadi. Kini, Zarina tidak tahu harus bagaimana lagi. Jika dia jujur, itu pasti akan melukai hati Robby. Dan yang lebih buruknya mungkin Robby akan menceraikan dirinya.
"Aku harus menyembunyikan kebenaran ini. Aku tidak ingin rumah tanggaku dengan Mas Robby hancur."
Katakanlah eputusan yang diambil oleh Zarina terlalu egois. Namun, dia pun hanya wanita biasa. Mungkin keputusan itu sangatlah tidak adil, tetapi Zarina pun tidak ingin anaknya hidup tanpa seorang ayah.
Saat sampai di rumahnya, Zarina langsung menyembunyikan kertas hasil DNA itu di lemari pakaiannya, dia sengaja menaruhnya di bagian bawah, tertumpuk oleh banyaknya pakaian agar tidak akan pernah ditemukan oleh siapapun, terutama Robby, suaminya.
"Mulai saat ini, aku akan menebus kesalahan dan dosaku kepada Mas Robby dengan menjadi istri yang baik untuknya. Aku memang pernah khilaf, dan aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi," tekad Zarina setelah menyembunyikan kebenaran tersebut.
Malam harinya Zarina sedang berada di kamarnya bersama Alam. Wanita itu sedang menyusui sang putra yang kini hampir berusia empat bulan. Bayi itu sudah mulai banyak mengoceh dan sudah bisa membalikkan tubuhnya sendiri.
Robby baru masuk setelah menyantap makan malamnya. Hari ini dia pulang terlambat karena sang bos mengharuskannya untuk kerja lembur. Laki-laki itu tersenyum senang saat melihat sang istri sedang menyusui putra mereka.
Dia mengayunkan langkah mendekati keduanya, duduk di samping sang istri sambil memeluk pinggang istrinya dengan satu tangan, sedang tangan yang lain mencubit gemas pipi tembam Alam.
"Anak ayah makin hari makin tembem gini, sih!"
"Iya, Mas. Dia mirip denganku, yah?"
"Tidak! Alam mirip sama aku, Rin. Enak saja kamu bilang mirip denganmu, dia itu anakku."
Zarina terdiam sesaat sebelum menerbitkan senyum tipis. "Kamu sangat sayang pada Alam, Mas. Kalau sama aku, sayang enggak?" tanyanya memastikan.
"Aku menyayangimu lebih dari apapun, Rina. Kamu cinta pertamaku," jawab Robby jujur.
"Kalau aku melakukan kesalahan, apakah kamu mau memaafkan aku, Mas?" tanyanya lagi.
"Tergantung. Jika kesalahan itu masih bisa diwajarkan ya aku akan memaafkan kamu. Tapi, kalau kesalahannya adalah kamu berselingkuh, aku mungkin akan sangat hancur, Rina."
Mendengar penuturan Robby, Zarina semakin mantap untuk menyembunyikan kebenaran tentang anaknya tersebut. Awalnya dia ingin jujur dan meminta maaf pada suaminya. Namun, sepertinya tidak akan ada kesempatan untuk mempertahankan rumah tangga itu jika dia jujur tentang identitas asli putranya.
"Maaf, Mas. Aku akan menyembunyikan kebenaran tentang alam selamanya. Mulai saat ini, dia adalah anakmu. Biarlah orang melabelkan makhluk egois padaku, asal kita tetap bisa bersama."
"Kenapa tiba-tiba bertanya tentang itu, Rin? Kamu tidak sedang menyembunyikan apapun dariku, 'kan?"
"Tentu saja tidak, Mas. Memangnya apa yang bisa aku sembunyikan dari kamu?" Zarina membalik pertanyaan itu agar Robby tidak semakin curiga.
"Baguslah, aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti jika hal itu sampai terjadi. Aku mencintai kamu, Rina." Robby semakin mengeratkan pelukannya.
Sejak hari itu, Zarina memutuskan untuk melupakan semua yang terjadi pada masa lalu. Dia bertekad akan tetap membiarkan semua berjalan seperti saat ini, Robby tidak boleh tahu bahwa putranya bukanlah berasal dari benihnya sendiri.
Hari-hari berjalan dengan baik, Zarina dan Robby pun semakin harmonis. Perkembangan Alam yang semakin besar membuat mereka begitu bahagia. Keduanya kompak mengurus putranya meski tanpa bantuan siapapun. Ibu Robby sudah pulang ke rumahnya setelah Alam berusia lima bulan.
Pada suatu hari, Robby merencanakan untuk memberikan kejutan untuk istrinya yang sedang berulang tahun. Laki-laki itu membeli sebuah cincin sederhana sebagai kado untuk wanita yang sudah bertahun-tahun lamanya menjadi istrinya.
Meskipun membelikan perhiasan untuk istrinya, tetapi Robby berniat untuk tidak memberikannya secara langsung. Dia berniat menjadikannya sebuah permainan. Robby sudah menyiapkan kejutan itu untuk Zarina, kini tinggal meletakkan hadiah itu di tempat yang tidak akan pernah diduga.
"Aku taruh di mana, Ya?" gumamnya seraya mengetuk-ngetuk dagu dengan jari telunjuknya.
Laki-laki itu diam, sepertinya sedang berpikir tempat yang cocok untuk menaruh barang tersebut. Beberapa saat kemudian Robby tersenyum simpul saat melihat lemari pakaian istrinya. Dulu, Zarina selalu menyimpan perhiasannya di lemari tersebut.
"Lemari ini dulu yang selalu menjadi tambang emas istriku, mungkin dia akan sangat terkejut kalau aku menaruhnya di sini," ujarnya seraya membuka pintu lemari.
Tanpa basa-basi Robby menaruh perhiasan itu di bagian bawah tumpukan baju sang istri. Namun, laki-laki itu mengerutkan kening saat menemukan sebuah surat di lemari pakaian sang istri.
"Ini surat apa?" Robby menggapai surat itu dan rasa penasaran membuat laki-laki itu membuka surat tersebut.
Matanya membelalak seketika saat membaca apa yang tertulis di kertas berwarna putih itu. Robby terdiam dengan tatapan kosong. Tangannya tanpa sadar meremas kertas yang dalam sekejap mengubah kehidupannya.
"Kamu tega sekali, Rina!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
Widi Widurai
yaelah kl niat menyembunyikan yaa kertas itu dibakar lah.. malah disimpen
2024-11-23
0