Keraguan Zarina

Suara tangisan bayi yang nyaring terdengar di ruang bersalin itu seketika membuat Robby sangat bahagia. Laki-laki itu bahkan tanpa sadar mengecup kening istrinya berkali-kali di hadapan para medis yang menangani istrinya seiring terucapnya kata terima kasih tiada henti.

Kini para perawat sudah meninggalkan Zarina dan Robby bersama dengan bayi mereka di ruang perawatan. Robby memandang wajah bayi mungil itu dengan perasaan haru. Bahagia bercampur aduk dalam hatinya saat ini. Setelah menunggu begitu lama, akhirnya penantiannya berbuah manis. 

"Selamat datang ke dunia, Sayang. Anak ayah paling baik," ujarnya dengan nada bahagia. 

Air mata Zarina menetes saat merasakan bagaimana kehangatan yang diberikan oleh suaminya. Lagi-lagi rasa bersalah dan ragu atas asal usul sang bayi menghalangi keharuan yang seharusnya dirasakan oleh Zarina. 

"Kamu terlihat bahagia, Mas. Tapi aku takut, aku takut jika suatu saat nanti kebahagiaan ini ternyata sebuah kepalsuan untukmu," batin Zarina menatap wajah berseri-seri suaminya. 

"Sayang. Anak kita laki-laki," ujar Robby seketika membuyarkan lamunan Zarina.

Laki-laki itu membawa sang putra di dalam gendongannya dan menunjukkan kepada Zarina yang hanya tersenyum hambar. Meski keraguan itu selalu mengganggunya, tetapi Zarina berusaha menutupi perasaan tersebut. 

"Iya, Mas. Terima kasih karena kamu sudah menemaniku berjuang," ucap Zarina tulus, wanita itu mengingat bagaimana tadi sang suami begitu sabar menjadi pelampiasan rasa sakitnya. 

"Sayang, bukankah aku sudah bilang. Jika rasa sakit itu bisa dialihkan, aku iklas menggantikan kamu." Robby membelai lembut puncak kepala istrinya setelah menaruh bayi itu di samping Zarina. 

Beberapa hari kemudian Zarina sudah diperbolehkan pulang setelah memastikan keadaan ibu dan bayi dalam keadaan baik oleh bidan yang menangani. Kepulangan Zarina dan putranya disambut dengan hangat oleh Mariana, ibunda Robby. 

Wanita tua yang memiliki riwayat sakit pada jantungnya itu terlihat juga sangat bahagia dengan kehadiran bayi itu di tengah rumah tangga sang putra. Bagaimana tidak, Robby sudah menikah selama lima tahun dan belum memiliki momongan. Setiap hari, Mariana selalu mendoakan sang putra agar secepatnya diberi keturunan. 

Namun, tidak dengan Tania. Kakak satu-satunya yang dimiliki Robby itu justru terlihat sangat tidak suka dengan kehadiran seorang bayi ditengah-tengah rumah tangga sang adik. 

"Selamat ya, Robby, Rina. Ibu ikut bahagia karena sekarang kalian sudah memiliki putra," ujar Mariana dengan tulus. 

"Ya, Bu. Robby bahagia sekali dengan kelahiran anak ini. Semoga dia akan semakin membuat rumah tangga kami harmonis," timpal Robby seraya menatap wajah bayi mungil di pangkuan sang istri. 

Rasa sesak tiba-tiba menjalar ke dada Zarina saat mendengar begitu besar harapan sang suami terhadap rumah tangga mereka serta anak yang saat ini berada di pangkuannya. Zarina menarik napas dalam-dalam seraya memejamkan matanya sejenak. 

"Mbak kok malah ragu ya, Rob." Tania dengan cepat menimpali. 

"Maksud Mbak Tania apa?" tanya Robby meminta penjelasan. 

"Kita lihat saja nanti, apakah bayi itu akan membuat rumah tangga kalian harmonis atau justru hancur!" Kata-kata pedas itu terlontar begitu saja dari mulut Tania. 

"Tania, Jangan asal bicara kamu!" bentak Mariana yang merasa ucapan putri sulungnya itu terlalu kasar. 

"Biarkan saja, Bu. Mbak Tania sejak dulu memang tidak pernah bahagia jika melihat Robby bahagia. Lihat saja nanti, Robby akan buktikan bahwa kami akan dapat mempertahankan rumah tangga ini." 

"Ya kan, Sayang?" tanya Robby meminta persetujuan Zarina. 

Seketika Zarina membuka matanya yang sempat terpejam. Bibirnya terpaksa mengukir senyum tipis dengan anggukan kepala pelan.

"Oke, kita lihat saja nanti." Tania bangun dari duduknya dan langsung pergi dari rumah itu. 

"Mas, harusnya kamu tidak perlu berdebat dengan Mbak Tania," tegur Zarina merasa tidak enak karena lagi-lagi terjadi perdebatan antara Robby dan Tania. 

"Sudah, Rin. Jangan perdulikan Tania, dia itu memang sejak dulu sifatnya begitu," lerai Mariana kepada menantunya. 

"Baik, Bu," jawab Zarina patuh.  

"Terus mau kalian kasih nama siapa anak ini?" tanya Mariana tiba-tiba. 

Robby terdiam sejenak, kemudian sebuah lengkungan lebar terbit di wajah tampannya setelah menemukan nama yang cocok untuk sang putra. 

"Aditya Putra Alamsyah," ucapnya tegas. 

"Nama yang bagus," puji Mariana. 

*****

Hari-hari berganti bulan, kebahagiaan itu terlihat semakin bertambah setiap harinya. Robby begitu menyayangi Alam dengan tulus. Laki-laki itu selalu menyempatkan diri bermain dengan bayi mungil itu setiap sebelum dan sesudah pulang bekerja. 

Seperti saat ini, Robby baru saja kembali dari tempatnya bekerja. Laki-laki itu membawa sebuah kantong plastik yang di tenteng di tangan kanannya. 

"Mas, kamu bawa apa lagi?" tanya Zarina curiga, pasalnya sang suami selalu membawa sesuatu setiap pulang dari bekerja. 

"Ini, mainan buat Alam." 

"Loh! Mainan lagi? Alam masih bayi, Mas. Dia belum tahu benda-benda seperti itu. Kamu ini terlalu boros tahu!" protes Zarina. 

"Tidak apa-apa, Sayang. Sebentar lagi juga dia besar. Lagi pula aku kerja untuk membahagiakan anakku," jawabnya santai. 

Zarina hanya bisa menggeleng pelan. Suaminya itu terlalu boros demi membeli mainan-mainan yang sebenarnya belum diperlukan oleh Alam. Bayi itu baru berusia tiga bulan, tetapi mainan sudah hampir menggunung di lemari kamarnya. Sudah beberapa kali Zarina menasehati Robby, tetapi laki-laki itu tetap saja melakukan hal itu sesuka hatinya. 

"Aku harus segera melakukan tes DNA, agar aku tidak selalu meragukan asal usul Alam. Jika memang dia adalah benih Mas Robby, itu akan membuat hatiku lega. Tapi, jika ternyata keraguanku selama ini benar, bagaimana? Apakah aku berani mengakuinya kepada Mas Robby?" Kata-kata itu tentu saja hanya terucap dalam hati saja. 

Zarina menatap punggung Robby yang semakin menjauh darinya. Seperti biasa, Robby selalu saja langsung menemui alam setiap dia pulang bekerja. 

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!